Pahlawan Pembuka Cakrawala

Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarnya, teman-teman? Semoga baik semua ya. Sekarang saya sudah memasuki Ketik 5. Di Ketik 5 ini kita diharuskan menulis pos tema pahlawan.

Apa definisi pahlawan bagi saya? Pada saat SD, kata pahlawan di benak saya identik dengan pahlawan kemerdekaan. Kata pahlawan pada saat itu terdapat di buku pelajaran Bahasa Indonesia, PPKN, dan IPS. Gambar pahlawan biasanya terpampang di dinding kelas atau ada di halaman belakang atlas. Pada saat SMP, definisi pahlawan bagi saya menjadi lebih luas. Pahlawan tidak hanya pejuang kemerdekaan. Ada pahlawan dari segala bidang seperti pahlawan bidang olahraga, contohnya yaitu para atlet yang mengharumkan nama bangsa. Semakin bertambah usia, pemahaman pahlawan saya semakin luas. Pahlawan tidak hanya orang yang ada di buku, TV, atau berita. Pahlawan bisa sangat dekat dengan diri kita, contohnya orang tua dan guru. Semakin bertambah usia lagi, pemahaman pahlawan semakin luas, yaitu bukan hanya sekedar karena profesinya.

Pada saat sudah lulus kuliah, saya memahami bahwa pahlawan bukan hanya orang yang berseragam atau yang diakui berjasa atau memiliki gelar. Saya mulai berpikir, bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan. Contohnya, ketika kita membeli sarapan di sebuah warung, maka penjual makanan itu merupakan pahlawan bagi kita. Memang kita membeli makanan dengan uang, tapi mereka telah berjuang sejak pagi atau dini hari ke pasar untuk membeli bahan baku dan memasaknya. Dia melayani kita, lalu setelah kita selesai makan, dia mencuci piring kita. Sesederhana itulah makna pahlawan bagi saya seiring dengan bertambahnya usia saya.  Belum lagi, jika kita runut dari mana kita mendapatkan makanan itu. Misalkan, kita makan nasi pecel. Kita coba telusuri perjalanan nasi. Siapa yang menanamnya, siapa yang menggilingnya, siapa yang menjemur gabahnya, siapa yang mengangkutnya ke pelabuhan lalu mengangkutnya sampai ke pasar, siapa yang menurunkan dari truknya, siapa yang memasukkan ke gudang, hingga penjual dekat rumah kita. Begitu panjang perjalanan sepiring nasi. Bukankah mereka semua pahlawan bagi kita. Menurut saya mereka adalah pahlawan. Itu baru nasinya, belum lagi bumbu pecel, sayur, krupuk, dan lauknya.

Kebutuhan hidup kita sangat banyak. Orang-orang yang berjasa menghadirkan barang kebutuhan hingga sampai di hadapan kita, itulah pahlawan. Jadi, hidup kita disokong oleh banyak pahlawan. Setiap orang bisa menjadi pahlawan. Bagi saya, pahlawan tidak selalu harus kita kenal bahkan mungkin kita tidak pernah bertemu dengan mereka.

Nah, untuk selanjutnya, saya akan mendeskripsikan sosok pahlawan yang paling berjasa bagi hidup saya. Yang pertama tentu saja diri saya sendiri. Sebagaimana lagu Hero yang dinyanyikan Mariah Carey “there’s a hero if you look inside your heart”, namun kali ini harus mendeksripsikan orang lain. Pahlawan itu adalah orang tua saya, tetapi tidak akan cukup kata untuk mendeskripsikan orang tua saya. Jadi, kali ini saya mau menceritakan seseorang yang berjasa besar bagi hidup saya. Dialah pahlawan pembuka cakrawala.

Saya memanggilnya Mbak Rara. Pada saat kuliah semester 3, pertama kalinya saya bertemu dengannya.  Dia sejurusan dengan saya. Dia adalah kakak tingkat saya. Saya masih teringat momen pertama yang paling berkesan bersama dia. Saya pernah diajak ke sebuah mall oleh dia. Saat itu, saya sudah 2 tahun tinggal di kota pahlawan, namun belum pernah ke mana-mana. Saya sangat terobsesi bisa jalan-jalan.

Pada saat itu, Mbak Rara bertanya kepada saya “Kamu udah pernah kemana aja, Han?”

“Aku pernah jalan-jalan naik angkot, Mbak.” jawab saya dengan malu.

View the autosave

“Mbak Rara pernah ke mana?” tanyaku.

“Aku pernah ke Jogja, Bandung, dan Semarang, dik, ikut seminar dan event pemuda. Enak Dik, bisa nambah teman dan bisa jalan-jalan gratis.” jawab Mbak Rara.  

“Wah, gimana caranya mbak?” tanya saya.

Saya menjadi penasaran bagaimana caranya bisa jalan-jalan gratis sekaligus bertemu teman baru dan menambah wawasan.

Pada akhir semester 4, saya mendaftar suatu event pemuda. Saya harus mengisi formulir pendaftaran acara yang berisi motivasi, prestasi, dan gambaran kontribusi ke depan. Ya, seperti formulir pendaftaran acara pemuda pada umumnya. Mbak Rara mengoreksi biodata saya. Saya pun lolos untuk mengikuti event tersebut, yaitu Youth Education Regional Traning (YERT).

Pada saat semester 5, saya pindah kos. Takdir Tuhan mengantarkan saya untuk pindah ke tempat kos Mbak Rara. Jadilah, kami nge-kos di tempat yang sama. Mbak Rara adalah orang yang baik, suka menolong, dan pekerja keras. 

Dia sangat baik kepada saya dan teman-teman kos. Dia berasal dari keluarga sederhana di desa. Dia orang yang pekerja keras tapi luwes. Dia suka menonton film Korea. Menurut saya, dia sangat unik karena suka berbicara sendiri dengan Bahasa Inggris. Dia sangat sibuk dan pandai mengatur waktu. Dia sibuk memberikan les dan sering hingga jam 9 malam. Dia memberikan les karena mencari biaya untuk kehidupannya sendiri, tidak lagi meminta uang orang tua. Dia juga pernah mengikuti banyak event pemuda. Dia pernah mengikuti event pemuda di Rusia. Meskipun pernah mengikuti event internasional, hal itu tidak membuatnya sombong.

Sejak mengenalnya, saya tidak lagi menjadi mahasjswa yang belajar di bangku kuliah saja. Dia berkontribusi besar terhadap saya sebagai mahasiswa. Dia menyemangati saya untuk mulai belajar mandiri secara ekonomi. Saya mulai berani memberikan les untuk anak-anak. Saya juga jadi berani mengikuti beberapa organisasi.

Saya jadi tahu perjuangan membiayai diri sendiri. Suka duka menjadi guru les mulai saya rasakan. Mbak Rara mendorong saya untuk membeli barang (handphone android) dengan uang sendiri. Akhirnya, itulah pertama kalinya saya membeli handphone android dengan uang saya sendiri hasil menjadi guru les. Hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri. Saya membeli hp itu pada tahun 2015. Saya masih menggunakan handphone itu sampai sekarang dan belum pernah ganti. Hihi. Mbak Rara mengajarkan kepada saya berjuang namun juga tetap menikmati hidup dengan cara kita sendiri. Tidak perlu terlalu kaku dalam menjalani hidup.

Saya mendaftar banyak event pemuda nasional dan internasional karena terciprat semangat Mbak Rara. Padahal, sebelumnya saya tidak tahu tentang hal itu sama sekali. Mbak Rara mengajari dan mengajak saya untuk mengikuti event-event itu dengan cara mandiri, bukan dengan cara memberikan info tentang event ini dan itu. Dia membiarkan saya mencari info, mencoba, dan mendaftar sendiri. Dia bagaikan coach bagi saya. Saya mendaftar banyak event pemuda nasional seperti FIM, FLS, ISYF, Indonesia Youth Forum, dan lain-lain.  Saya juga mendaftar event pemuda internasional seperti Interseliger, ISFiT, ISWI, dan lain-lain. Mbak Rara juga menyarankan saya untuk membuat paspor. Alhamdulillah, dari sekian banyak event itu, akhirnya ada satu event yang saya berhasil lolos untuk menjadi pesertanya, yaitu International Multifaith Youth Assembly (IMYA) 2014 di Jakarta.

Berinteraksi dengan Mbak Rara membuat saya memiliki cakrawala pergaulan yang lebih luas. Bahwa banyak pergaulan yang bisa kita masuki, tidak hanya di kampus saja.  Saya jadi memahami bahwa hidup ini tidak sesempit yang saya pikirkan. Saya menjadi berani bertemu dengan orang-orang baru, mencoba berbagai tantangan, dan mulai bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Mbak Rara juga membuat saya berani mengoptimalkan potensi diri, menyayangi diri sendiri, lebih percaya diri, menghargai pertemanan, dan selalu berbuat baik kepada orang sekitar kita.

Terakhir kali kami bertemu langsung yaitu saat Mbak Rara berangkat untuk mengikuti program mengajar di daerah 3T (Terdepan Terluar Tertinggal). Saya hanya bisa mendoakan semoga dia sukses dalam program itu. Sekarang Mbak Rara sedang memperjuangkan visinya untuk memajukan pendidikan Indonesia. Setelah mengajar di daerah 3T, dia melanjutkan studi. Sekarang, dia sedang mengajar di Sekolah Indonesia luar negeri. Semoga visinya tercapai. Terima kasih, Mbak Rara.

Mbak Rara telah membuka cakrawala yang lebih luas bagi saya. Dia mengajari saya bagaimana menyikapi hidup dan kehidupan serta menjadi seorang yang lebih tegar dan visioner. Maka, dia adalah sosok pahlawan bagiku.

Baik, sekian pos saya tentang tema pahlawan. Semoga bermanfaat bagi kita semua ya, teman-teman. Terima kasih sudah membaca pos ini. Salam bahagia. Wassalamu’alaikum.

4 thoughts on “Pahlawan Pembuka Cakrawala

  1. Koreksi:
    1. dibuku (di buku)
    2. siapa yang  mengangkutnya (siapa yang mengangkutnya) // lebih satu spasi
    3. hingga sampai di penjual dekat rumah kita (hingga penjual di dekat rumah kita)
    4. Itu baru nasinya, belum lagi bumbu pecelnya, sayurnya, krupuknya, dan lauknya. // gunakan kalimat efektif. Terlalu banyak akhiran ‘nya’
    5. Orang-orang yang berjasa menghadirkan barang kebutuhan kita hingga sampai di hadapan kita, itulah pahlawan bagi kita // gunakan kalimat efektif. Terlalu banyak ‘kita’
    6. ortu (orang tua)
    7. se-jurusan (sejurusan / satu jurusan)
    8. kemana-mana (ke mana-mana)
    9. “Kamu udah pernah kemana aja, han?” (“Kamu udah pernah ke mana aja, Han?”)
    10. jawabku // mesti konsisten. Dalam cerita apakah akan memakai kata ‘saya’ atau ‘aku’
    11. kemana (ke mana)
    12. dik (Dik)
    13. tanyaku mesti konsisten. Dalam cerita apakah akan memakai kata ‘saya’ atau ‘aku’
    14. depan.  Ya (depan. Ya) // lebih satu spasi
    15. form pendaftaran even (form pendaftaran event) // kalau mau pakai bahasa inggris semua : event registration form // atau pakai bahasa indonesia semua : formulir pendaftaran acara //
    16. even (inggris) artinya ‘bahkan’ // hati-hati lho tertukaf antara ‘even’ dan ‘event’
    17. pada umumnya lah (pada umumnya)
    18. Dia sibuk ngelesi dan sering hingga  jam 9 malam. (Dia sibuk ngelesi dan sering hingga jam 9 malam.) // lebih satu spasi
    19. ngelesi (memberikan les)
    20. Sejak kenal dengannya, saya tidak lagi menjadi mahasiswa yang hanya kuliah dan belajar pelajaran kuliah saja. (Sejak mengenalnya, saya tidak lagi menjadi mahasjswa yang belajar di bangku kuliah saja.) // gunakan kalimat efektif // kalau sudah ada kata ‘hanya’ jangan pakai ‘saja’
    21. hp (handphone)
    22. bagiku, mengajariku // ingat konsistensi pencerita, Hani

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s