Sebuah Perjalanan Untuk Kembali

Apa kau akan membaca kisah pendek ini ketika dia lewat di berandamu? Jika iya, aku sangat berterima kasih padamu, tidak juga tidak apa-apa. Karena ini hanyalah sebuah kisah fiksi yang berasal dari kepalaku, dibuat dengan sederhana dan dengan setitik air mata ketika aku memikirkan tentang alurnya. Silahkan membacanya jika kau menyukainya. Terima kasih.

Tidak ada orang yang menginginkan kisah hidup yang buruk di dunia ini, bahkan jika manusia bisa memilih dan meminta takdirnya sebelum lahir ke dunia, pasti mereka hanya menginginkan yang indah saja, baik dan tidak dengan hidup yang penuh keburukan, apalagi penuh dengan lumuran dosa seperti kisah Peter “si penggembala domba yang menjijikan”.

Kau mau tahu seperti apa kisahnya? Terus ikuti saja arah tulisanku ini.

Peter adalah seorang pria tua dengan usia delapan puluh tujuh tahun, yang hidup di desa Antrim, daerah Irlandia bagian utara. Dia adalah orang yang sangat berbeda dari penduduk lainnya, dan perbedaan ini cukup menyedihkan. Peter hidup terasing di tengah hutan tepi danau, sebatang kara, dan hanya ditemani tujuh ekor domba yang digembalainya beberapa kali dalam seminggu.

Dia menghidupi dirinya dengan uang dari hasil menjual ikan yang diambilnya dari danau, kepada satu-satunya orang yang baik padanya, yaitu Mr. Bamba, tengkulak ikan keturunan Afrika yang terkenal di desanya. Apakah Peter tidak memiliki keluarga?

Tidak. Dia memilikinya di masa lalu, pada saat usianya tiga puluh tahunan dan setelah itu, dia hidup sendirian dan terasing. Dia bukan orang yang “suci”. Malah, dia termasuk orang yang sangat berlumuran dosa, dan itu menjadi hal yang sangat dibencinya.

Dan juga hal yang membuat orang lain membencinya dan menjauhinya, bahkan menganggapnya menjijikan. Orang-orang di desa Antrim tidak menganggap keberadaan Peter, mereka menganggap dia adalah fiksi dan sangat tidak penting, dia dianggap begitu hina seperti sampah. Sehingga ketika Peter keluar dari rumah dan pergi ke toko-toko untuk membeli keperluan hidup, orang-orang akan mulai menjauh, bergidik dan memandang dengan tatapan jijik.

Tetapi hal itu wajar bagi Peter dan dia tidak menyalahkan mereka, meski rasanya sangat perih diperlakukan demikian. Dicemooh, dihina, dijauhi, diasingkan, bahkan satu-dua orang pernah meludahinya. Dan dia tidak akan marah dengan hal tersebut, karena justru dia bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang, lebih baik. Karena jika dia mengingat masa lalunya yang nahas, dia akan melabeli dirinya sebagai “keparat” atau “pecundang”. Dia ingat betul saat mencari uang dengan merampok pada rumah-rumah, toko, bank, lalu membunuh orang-orang yang berusaha melawannya dengan serentetan bijih besi panas, atau ketika dia menghabiskan waktu dan uangnya untuk mencari kesenangan di meja judi dan deretan botol alkohol, serta marijuana, lalu memukul anak dan istrinya ketika pulang ke rumah.

Ingatan pada semua itu membuat dirinya tak pantas lagi untuk hidup. Menurutnya, Tuhan terlalu baik pada dia yang laknat dan bangsat. Bahkan dia meminta agar Tuhan segera menjemput dirinya yang baginya sangat tidak berguna. Setiap hari, dia menunggu panggilan tersebut, seraya memandang dari jendela kayu kamarnya yang menghadap ke danau berair hijau di tengah hutan. Terkadang dia menitikkan air mata ketika merasa sangat kesepian, dan suara tujuh domba di samping rumahnya-lah yang menyadarkannya kembali, bahwa dia masih memiliki kawan-kawan.

Peter sangat berterima kasih ketika Tuhan mengenalkannya pada Mr. Bamba, seorang manusia yang masih sudi berbicara, bergurau bahkan menjadi tempatnya untuk menghasilkan uang, walau hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, sebagai rasa syukur, dia pun memberikan satu dombanya kepada Mr. Bamba, yang kemudian diterima dengan sangat gembira. Tetapi sebenarnya, Peter-lah yang merasa paling bahagia, melihat senyum yang terukir di wajah Mr. Bamba, karena dia bisa melakukan setitik kebaikan dalam hidupnya.

Lalu pada hari Senin dia membawa domba-dombanya yang tersisa enam ekor ke padang rumput di dekat rumahnya, tempat dia biasa menggembalakan mereka. Tubuh tuanya yang ringkih, cepat merasa lelah ketika berjalan cukup jauh ke tempat tersebut, dia harus beristirahat di bawah pohon, sementara menunggu domba-dombanya asyik mengisi perut dengan rerumputan segar.

Tetapi samar-samar terdengar langkah kaki dari arah belakang yang memaksanya untuk menoleh. Ternyata seorang gadis kecil berambut merah, dan seorang wanita paruh baya yang berpakaian lusuh dan compang-camping, bahkan lebih dari pakaian yang dikenakan oleh Peter sendiri. Mereka menghampiri Peter dan bertanya apakah dia akan memberikan keenam dombanya pada mereka, karena mereka sangat membutuhkannya untuk biaya hidup.

Peter sempat ragu dan berpikir sejenak. Bagaimana jika dia sedang tidak punya uang sama sekali untuk hidup, misal hanya untuk sekedar membeli satu buah croissant sebagai pengganjal perut di pagi hari? Jika dia memberikan semua dombanya, berarti tidak ada cadangan penghasilan ketika dia sedang tidak mendapat ikan?

Tetapi, kemudian dia berpikir lagi…dia ingat bahwa selama ini dia selalu mendapat ikan, walau paling sedikitnya dua ekor. Jadi, mungkin tidak masalah jika dia memberikan seluruh dombanya pada orang yang lebih membutuhkan, yang ada di depannya saat ini. Lagipula, dia bisa berternak hewan lain, burung misalnya, atau ayam hutan.

Jadi, dia setuju untuk memberikan keenam dombanya pada gadis kecil dan si wanita itu. Mereka begitu gembira menerimanya, bahkan si gadis kecil memberikan sekuntum teratai pada Peter sebagai ucapan terima kasih, yang membuat pria itu merasa bahagia.

Setelah tiga puluh menit si wanita dan gadis kecil itu pergi membawa domba-dombanya, tiba-tiba Peter merasa kepalanya sangat pusing, sampai membuatnya hilang kesadaran di tengah padang rumput. Tetiba samar-samar terlihat dua sosok bercahaya yang memegangi kanan dan kiri tangannya, membimbingnya ke arah sebuah tangga yang juga dipenuhi dengan cahaya putih. Dia tidak berbicara atau bertanya apapun, tetapi dia merasa sangat nyaman, dan terus membiarkan dua sosok itu membimbingnya menaiki tangga cahaya.

Mr. Bamba yang menemukan Peter tergeletak di padang rumput pada sore hari pun, segera membawanya ke rumah. Dia juga memanggil beberapa orang warga dan seorang dokter, sebelum beberapa menit kemudian, dokter tersebut menyatakan Peter telah tiada.

14 thoughts on “Sebuah Perjalanan Untuk Kembali

  1. Akhir hidup Peter menjadi akhir hidup yang baik. Husnul Khotimah kalau bahasa agamanya ya. Walaupun sepanjang hidupnya ia lalu dengan dengan berlumur dosa, tetapi masa lalu yang buruk telah menjadikannya orang yang tulus dan baik hati. Ia seperti ingin menebus dosa-dosanya dengan selalu berbuat baik, walau sebagai manusia ada saja rasa takut dan was-was.

    Cerita yang bagus, Rahma. Btw, mengapa Rahma mengambil setting tempat jauh di negeri orang, Irlandia? Coba kalau settingnya di Bekasi, gitu mungkin lebih dekat membayangkannya. Hehehe. Just kidding, Rahma. Nice.

    Liked by 1 person

    1. kehidupan seseorang itu sepertinya dinilainya di akhir hidupnya, ya mas. Sy jd ingat doa nabi Isa “… Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (Qs. Maryam : 30-33). Wallahu’alam….

      Liked by 2 people

Leave a Reply to masHP Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s