Opini di Panggung Pandemi

Sangkalan : Materi tulisan yang berikut ini adalah sebuah opini dari sudut pandang pribadi. Pembaca diharap bijak saat mengolah semua jenis informasi yang terkandung di sini.


Setelah menyelesaikan tugas ketik sebelumnya, saya sempat bingung setelah membaca ulang deskripsi mengenai ketik 15 ini. Apalagi kalau bukan tentang siapa yang akan diwawancarai, di mana dan kapan sesi wawancara itu.

Minggu kemarin, saya mempunyai sebuah jadwal temu dengan seorang rekan. Sebuah pertemuan singkat untuk membahas prospek pekerjaan pada awal tahun depan. Lalu terbesit dalam pikiran saya, bagaimana kalau dia saja yang menjadi narasumbernya.

Namanya Dina. Seorang art director yang tergabung bersama saya dalam sebuah tim kecil. Ia adalah salah satu senior yang mungkin sudah paling lama bekerja sama dengan saya, jika dibandingkan dengan beberapa senior yang lain.

Setelah sesi meeting tersebut usai. Dina pada akhirnya bersedia untuk menjadi narasumber untuk tugas ketik 15 ini.


Saya : Baiklah, Nona Dina. Sebagai seorang art director, seberapa besar pandemi Covid-19 ini mempengaruhi profesi lo?

Dina : Sebenarnya bukan hanya profesi saja, tapi juga berdampak kepada industri pertunjukan pada umumnya. Gua dan lo termasuk pekerja panggung yang sangat beruntung.

Saya : Maksudnya?

Dina : Yah walaupun jarang, tapi kita masih dapat kesempatan menggarap beberapa event daring dan malah mulai belajar merambah ke tipe pekerjaan yang sejenis. Penyerapan tenaga kerja lewat panggung daring itu minim sekali. Apa kabar mereka yang berprofesi sebagai SPG, crew lapangan dan event security? Atau pekerja dekorasi?

Saya : Jadi bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi tersebut?

Dina : Intinya kita semua memang harus saling bertenggang rasa saja. Yang masih dapat menjalani profesinya, membantu mereka yang sedang berjuang karena tidak lagi dapat hidup dari profesinya yang lama.

Saya : Kalau begitu…

Dina : Sorry gua sela sebentar. Ini out of the topic, lain kali kalau mau wawancara lagi, lo pakai recorder aja deh. Daripada harus sambil dicatet begini. Lo nulis biasa aja, bentuknya ancur-ancuran. Apalagi kalau harus nulis cepat kayak gini. Emangnya lo bisa baca nanti?

Saya : (pura-pura tidak mendengar ucapan narasumber yang sebelumnya) Apa yang dapat dilakukan agar industri pertunjukan mampu ‘sehat’ kembali di masa pandemi?

Dina : Kagak ada, Kha. Berevent daring saja sampai pandemi ini usai.

Saya : Kok gitu?

Dina : (tertawa sejenak) Gua bukan pesimis ya, tapi kita harus realistis. Lihat saja situasi di sekeliling kita sekarang. Cafe ini menerapkan protokol kesehatan yang terinformasikan dengan baik. Tapi coba lihat deh pasangan di belakang lo, masih aja duduknya sebelah-sebelahan. Udah dua kali loh, mereka ditegur sama mas-mas waiters.

Saya : Ini tuh kondisi yang aneh kalau kata gua. Orang kita kalau di negara sendiri, sulit banget tertibnya. Tapi coba mereka travel ke Singapore, ternyata bisa orang-orang kita tuh tertib dan taat aturan.

Dina : Iya, tapi lo dan gua juga sama saja kok.

Saya & Dina : (sama-sama tertawa).

Saya : Din, masa gak ada sih upaya apa yang dapat ‘menyehatkan’ industri ini di kala pandemi? Soalnya, kalau lo jawabnya begitu, banyak pertanyaan gua yang selanjutnya jadi tidak valid lagi buat ditanyakan.

Dina : (tertawa lagi) Lo dan gua sudah sama-sama paham, kalau salah satu esensi dari seni pertunjukan adalah bertemunya performer dan penonton termasuk penyelenggara di sebuah ruang yang sama pada waktu yang sama. Sebaik-baiknya, sekeren-kerennya sistem yang kita terapkan nanti, kuncinya tetap saja di awareness publik. Sekarang lo pilih saja, mengadakan event tapi punya kecenderungan membuat kluster baru, atau fokus di event daring seperti sekarang ini?

Saya : Taiwan bisa loh buat konser outdoor dengan ribuan penonton kemarin. Kenapa kita tidak bisa?

Dina : Ya lo lagi, bandingin kita sama Taiwan.

Saya : Okay, skip ke pertanyaan berikutnya. Apa pendapat lo soal penanggulangan pandemi ini di Indonesia? Dan kenapa?

Dina : Gua pikir kalau gua ini tidak punya kapasitas untuk berpendapat soal itu. Pertanyaan semacam ini biasanya akan menarik jawaban yang bias. Untuk memberikan sebuah pendapat atau penilaian, kita harus tahu lebih dulu standar penilaiannya.

Saya : Elaborate it, please.

Dina : Gua sering banget denger banyak orang membandingkan situasi pandemi di Indonesia dengan yang ada di Malaysia, Singapore bahkan Taiwan, kayak lo barusan. Padahal sudah jelas kalau kita punya issues yang berbeda dengan mereka. Virus ini tuh baru. Semua negara juga kelimpungan keles. Semacho-machonya Putin, bawel juga dia gara-gara Corona.

Saya : Terus?

Dina : Ya, next question saja berarti.

Saya : Ya sudah. Gini aja deh, apa saran lo untuk penanggulangan Covid-19 ini di Indonesia?

Dina : Cuma ada dua saran. Perbanyak jumlah tes dan berikan jaminan bagi para tenaga kesehatan. Sedih loh Pak, mereka itu.

Saya : Capek dan kesal juga pasti. Apa komentar lo buat mereka yang masih beranggapan bahwa pandemi ini hanya sebuah konspirasi?

Dina : Hentikan menonton channel youtube yang suara naratornya pakai google voice, sering-seringlah nontonin Ted Talks. Jangan terlalu percaya sama argumen orang kalau tidak disertai referensi penelitian ilmiahnya. Kalaupun ada, harus tetap dicek dan dikrosscek kebenarannya.

Saya : Akhirnya, Non Dina menunjukkan karakter aslinya.

Dina : Bener kan? Apa yang salah coba sama komentar gua? It’s not a sarcastic comment.

Saya : Iya ah. Di lingkaran pergaulan lo, ada tidak yang menganggap semua ini sebagai sebuah konspirasi? Jika ada, siapakah itu?

Dina : Mudah-mudahan kagak ada ya. Tapi kalau pun ada, gua siap untuk diajak diskusi.

Saya : Tapi kita tetap tidak boleh menghakimi sebuah persepsi loh ya.

Dina : Siap 86, Kakak!

Saya : Kapan dan di mana lo mulai merasa khawatir oleh pandemi COVID-19 ini?

Dina : Sebelumnya karena percakapan ini akan ditayangkan pada sebuah blog, gua musti tekankan kalau semua omongan gua ini hanya sebuah opini. Jadi bisa salah dan tidak boleh dijadikan sebuah referensi tunggal.

Saya : Setuju. Itu disclaimer dari wawancara ini.

Dina : Kapan dan di mana gua mulai merasa khawatir? Masuk bulan Juni atau Juli tuh, gua baru mulai merasa khawatir dan di mana-mana juga.

Saya : Kenapa?

Dina : Kekhawatiran terbesar gua adalah kalau gua amit-amit jadi OTG, lalu tanpa sengaja menularkannya ke ortu di rumah. Mereka kan jauh lebih rentan daripada kita-kita. Dan di Agustus itu, sudah ada saudara jauh yang meninggal karena virus ini.

Saya : Betul, itu kekhawatiran terbesar gua juga. Ini pertanyaan terakhir yang tidak terlalu serius. Hal apa yang paling mengejutkan di kehidupan lo sepanjang pandemi ini berlangsung?

Dina : (cekikikan sendiri selama hampir satu menit) Pada akhirnya, selama tiga puluh tahun lebih gua hidup, nyokap bertanya kapan gua mau nikah.

Saya & Dina : (sama-sama tertawa lagi).

Dina : Mungkin karena selama pandemi ini, gua kan jadi lebih sering bertamu ke rumah. Jadi ada kesempatan nyokap buat nanya.

Saya : Pertanyaan klasik ya. Terus kapan lo mau nikah?

Dina : Yuk! (Sambil menganggukkan kepalanya dengan usil).

Saya & Dina : (sama-sama tertawa).

Dina : Eh, by the way. Karena gua sudah bersedia diwawancarai, jadi orderan lunch gua setelah ini, lo yang bayar ya.

Saya : …………


Catatan penulis : Sepertinya saya telah keliru memilih narasumber.

2 thoughts on “Opini di Panggung Pandemi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s