Gadis Jeruk – Jostein Gaarder

ID_MIZ2013MTH01GJ_B

Menurut panduan pengerjaan KETIK 9 kali ini, saya diminta untuk membuat ulasan dari salah satu bab dalam novel karya Andrea Hirata yang berjudul “Ayah”. Tapi berhubung saya tidak punya novelnya dan menunggu giliran pinjaman di iPusnas tidak juga dapat, akhirnya saya meminta izin untuk menulis ulasan novel lain milik Jostein Gaarder yang berjudul “Gadis Jeruk”. Saya memilih novel ini untuk diulas karena setelah membaca sebagian isinya, masih ada unsur ‘ayah’ di dalamnya. Tapi sepertinya saya salah pilih buku karena mengulas novel ini ternyata berat, ya, dengan nama besar penulisnya. Terlebih saya tidak begitu mengerti bagaimana cara mengulas buku yang baik dan benar. Jadi, ulasan ini akan singkat saja, sebisa saya.

Novel ini bercerita tentang Goerg, anak lelaki berumur 15 tahun yang mendapatkan surat peninggalan ayahnya, Jan Olav, yang meninggal 11 tahun lalu. Georg tak begitu ingat seperti apa sosok ayahnya dan apa saja yang telah mereka lewati berdua dulu kecuali dari beberapa video dan foto lama yang masih tersimpan rapi di rumahnya. Dalam surat yang ditemukan tersimpan di kereta bayi milik Georg itu, ayahnya berkisah tentang pertemuannya dengan Gadis Jeruk. Seorang gadis bermantel oranye pembawa kantung penuh jeruk yang pertama kali ia temui saat menaiki trem, yang membuatnya penasaran. Saat sekantung jeruk itu akan jatuh karena guncangan trem yang mendadak, Jan Olav bermaksud untuk menyelamatkannya. Namun sialnya, hal itu justru membuat jeruk-jeruk itu jatuh berhamburan. Insiden tersebut membuat si Gadis Jeruk terlihat marah lalu turun dari trem begitu saja meninggalkan Jan Olav dengan segunung keinginan untuk bertemu kembali dengan si Gadis Jeruk. Siapakah gadis jeruk itu?

Novel ini tipikal tulisan yang saya suka, jadi ulasan ini pasti sangat bias. Cerita disampaikan dari sudut pandang orang pertama, bergantian antara Georg dan ayahnya. Ada 9 bab dalam novel ini yang setiap babnya berisikan surat dari sang Ayah dan tanggapan Georg tentang isi surat itu. Saya belum punya tulisan pembanding karya si penulis karena ini buku pertama yang saya baca, tapi saya tidak heran lagi kenapa banyak orang menyukai karyanya. Gaarder adalah seorang pendongeng yang andal. Dia bisa menyajikan cerita ‘sederhana’ namun menarik dengan gaya tulisan yang -saya tidak tahu istilah tepatnya- dreamy? Kemampuan analisis Jan Olav, karena dia berlatar belakang seorang mahasiswa kedokteran, tentang si Gadis Jeruk dengan deskripsi yang hiperbolis namun manis dan punya unsur magis, membuat saya sempat meyakini jika ini adalah novel fantasi. Lalu ‘pertemuan’ Georg dengan ayahnya melalui sebuah surat dari 11 tahun lalu juga cukup menghangatkan hati.

Setahu saya, Gaarder terkenal dengan karyanya yang banyak menyajikan ilmu filsafat di dalamnya, hal yang membuat saya urung untuk membaca buku-bukunya sejak dulu. Tapi “Gadis Jeruk” ini, menurut ulasan dari pembaca yang sudah membaca banyak karya Gaarder, adalah cerita yang ringan. Ya, mungkin benar, ringan, karena saya masih bisa menikmati cerita ini. Yang saya tangkap, makna dari cerita ini adalah perenungan tentang kehidupan, yang disinggung beberapa kali. Tapi ya, jangan tanyakan soal pesan moral, apalagi kutipan-kutipan indah dalam novel yang saya baca karena saya bukan tipe pembaca yang akan mencari-cari dan menandai tentang hal-hal itu.

Ya, saya sangat menikmati membaca novel ini meski butuh waktu lama untuk menyelesaikannya karena beberapa kali saya mengulang-ulang beberapa bagian saking gemasnya, lalu berakhir menutup bukunya karena terlalu overwhelmed. Saya membaca ini di iPusnas, buku lama yang wajib dibaca setidaknya sekali seumur hidup, menurut saya. Tapi, entah ini masalah dalam e-booknya atau di buku cetaknya juga seperti itu, tidak ada penanda saat perpindahan sudut pandang antara Georg dan ayahnya, jadi lumayan membingungkan, terlebih cerita ini memakai sudut pandang orang pertama. Harus jeli saat membacanya, apakah si Aku ini Georg atau ayahnya.

Itu saja ulasan dari saya, seperti yang dikatakan Kompas dalam ulasan singkat yang tertera di cover buku ini, Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder ini cocok dijadikan sebagai bacaan keluarga maupun hadiah ulang tahun. Terima kasih.

“Karena, sesungguhnya ada dua semesta paralel, yang satu memuat matahari dan bulan kita, yang lain memuat dongeng tak terjelaskan yang pintunya telah tiba-tiba dibukakan oleh si Gadis Jeruk.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s