Aku dan Bledeg

Gambar Burung Dalam Sangkar Kartun | Gambar Burung Wallpaper

Setiap kepulangan Bledeg selalu saja ada sesak di dadaku. Celotehannya yang berkepanjangan harusnya bisa menghibur kita semua. Cerita-ceritanya senantiasa segar dibalut keceriaan. Selalu ada hal yang baru terutama bagi diriku yang tak pernah beranjak dari rumah ini. Paling jauh hanyalah seputaran pekarangan. Tidak bagi Bledeg, hampir setiap kesempatan perjalanan Tuan selalu dia yang jadi pilihan. Aku? Tak berani sedikit pun menaruh harap. Si hitam yang selalu bersembunyi dari cerahnya matahari. Mataku lebih berguna di kegelapan malam.

Beberapa hari ini aku tidak mendengar celotehan juga nyanyiannya yang lumayan memesona. Ah, itu lagi nyanyiannya selalu menerbitkan sesak pada diriku. Tak pernah ada yang mengganggap nyanyianku merdu. Tak pernah ada kontes yang memungkinkan aku bisa jalan-jalan sebagaimana Bledeg. Berbagai kota telah dirambahnya. Tak heran kemudian Tuan juga memanjakannya. Aku? Ah…

Tuan memanjakannya.

Betul. Lihatlah bagaimana Bledeg memiliki tempat yang istimewa. Ruang yang selalu terjaga kebersihannya. Makanan selalu siap sedia, tidak seperti makanan rumahan, apalagi sisa. Nah, kalau yang ini memang bagianku. Sisa makanan rumah. Untuk yang satu ini aku cukup menikmatinya. Tak peduli Bledeg mendapatkan yang jauh lebih mahal. Aku tak pernah menaruh minat pada menu keseharian Bledeg.

Bledeg memang sang bintang. Tentu seisi rumah tahu semua. Tuan memanjakannya juga tak ada yang mengingkarinya. Kelincahannya, celotehnya dan nyanyiannya memang luar biasa.

Sore ini sepertinya ada yang berbeda. Kisah perjalanan yang biasanya mengalir kini hanyalah desah nafas yang berat. Bledeg mendengkur dalam tidurnya? Tidak, Bledeg tidak sedang tidur. Ada was-was yang tiba-tiba menyelinap dalam diriku. Bagaimana jika terjadi hal yang tak diinginkan pada Bledeg. Terbayang betapa sepinya rumah ini. Ingin sebenarnya aku mendekatinya, sekedar bertanya atau sedikit memberikan hiburan yang menenangkan. Tidak, aku tidak berani, khawatir justru akan mengganggu istirahatnya.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja aku sudah sangat dekat dengan Bledeg. Tanpa kata, bahkan kuharap suara nafas ini tak sampai mengganggunya. Aku duduk saja sambil menunggu perkembangan yang akan terjadi.

“Kau, Jacky. Dah lama di sini?” tiba-tiba Bledeg menyapaku. Tentu aku sangat terperanjat sekaligus girang karenanya. Bledeg baik-baik saja.

“I..iya Bledeg. Aku khawatir denganmu.” Tidak bisa kututupi rasa khawatir ini.

“Terima kasih.” Jawabnya dengan desah nafasnya yang kudengar jelas. Aku tak berani menanyakan apapun.  

“Suaraku diperas sampai tinggal serak.” Kemudian Bledeg membuka diri untuk menceritakan keadaannya.

“Maksudnya?” terus terang saja aku tak paham arah pembicaraannya. Yang kutahu selama ini Bledeg memang mendominasi keceriaan rumah ini. Suaranya selalu memberikan keceriaan pada seisi rumah.

“Ternyata mereka masih juga belum puas.” Lanjutnya kemudian. “Uang dihambur-hamburkan hanya untuk membuktikan siapa di antara kami yang paling merdu suaranya, paling tahan lama menjaga merdunya.“

Aku tak bisa komentar apa-apa, hanya menunggu saja Bledeg terus melanjutkan ceritanya.

“Banyak di antara kami yang kehausan, suaranya serak.”

Ada nada sedih dalam pembicaraan Bledeg. Tak terasa air mata ini pelan-pelan menetes membasahi pipi. Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan. Kejadian yang sama sekali tak pernah terbayangkan terjadi pada Bledeg. Setahuku Bledeg selalu ceria, banyak berbagi cerita bahagia.

Pelan-pelan ada rasa yang menjalar di dada. Menjadi lebih lapang. Seperti himpitan lama sedikit sedikit terkikis. Kusadari rasa sesak itu justru berasal dari diriku sendiri yang kurang menerima kenyataan. Aku si meong yang tak dibuatkan tempat khusus oleh Tuan, iri pada Bledeg burung pekicau yang memang banyak meramaikan suasana. Tak jarang kicauannya dilombakan.