My Father is Vampire : Hari Ayah

Sebentar lagi menjelang Hari Ayah, semua teman sibuk memikirkan untuk merencanakan hadiah untuk ayahnya. Mereka tampak berdiskusi sambil menikmati makanan siangnya di kantin sekolah sambil mengobrol dengan asyik tentang ayahnya masing-masinng. Mereka tampak bahagia ketika menceritakan tentang kehebatan ayahnya kecuali Jean yang masih terdiam mengamati teman-temannya yang asyik berbicara di hadapannya. Jean enggan menceritakan tentang sosok ayahnya kepada mereka karena dirinya malu mempunyai ayah yang merupakan seorang vampir dan sangat berbeda dengan ayah mereka sehingga Jean tidak berani menceritakan ini kepada teman-temannya.

***

Pulang sekolah, Jean berjalan di pinggir jalan sambil membayangkan obrolan-obrolan cerita dari teman-temannya. Mereka sibuk menyiapkan sesuatu untuk menyambut Hari Ayah, bahkan hadiahnya sudah mereka rencanakan dari kemarin dan tinggal memberikan hadiahnya kepada ayah mereka. Jean bingung memikirkan hadiah apa untuk ayahnya, sebenarnya ayahnya tidak terlalu suka dengan barang-barang mewah ataupun sebuah jam tangan dan sepatu mewah yang disukai laki-laki pada umumnya. Ayahnya tidak tertarik dengan barang-barang itu seperti barang mewah ataupun barang-barang biasa seperti pada umumnya sehingga Jean harus berpikir keras untuk menentukan hadiah yang cocok. Jean terus memikirkan hadiahnya sambil melewati persimpangan jalan yang dikelilingi hutan yang lebat.

Tiba-tiba Jean mempunyai ide untuk hadiah ayahnya nanti. Darah, iya darah. Ayah sangat suka sekali darah hasil buruannya. Jean teringat di mana dirinya hampir darahnya dihisap oleh ayahnya ketika pertama kalinya bertemu dengan sang ayah. Ia tidak bisa hidup tanpa darah karena darah adalah sumber energinya supaya vampir menjadi kuat dan hidup lebih lama.

Jean memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Jean hanya kesana karena ingin mendapatkan darahnya sendiri dengan cara mendonorkan darahnya, ini pertama kalinya Jean melakukan donor darah karena sebenarnya dirinya sangat takut terhadap benda jarum seperti jarum suntik. Tetapi Jean harus berusaha untuk melawan rasa phobia itu supaya dirinya tidak lemah. ”Aku harus berjuang melawan benda mengerikan itu.” Ucapnya dalam hati. Beberapa jam kemudian, akhirnya Jean selesai melakukan donor darah di rumah sakit demi mendapatkan darahnya sendiri, tetapi Jean hanya mendapat darah sedikit di tabung kecilnya karena hanya sebagian darahnya diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Jean akhirnya pulang dari rumah sakit sambil membawa tabung kecil berisi darahnya sendiri.

Di rumah, Jean sibuk menyiapkan hadiah untuk ayahnya besok, Jean memasukkan tabung kecil berisi darah, kelopak Bunga Crocus  ungu sebagai hiasan, dan sepucuk surat yang sudah ditulis di dalam kotak hadiahnya. Jean berharap semoga ayahnya sangat suka dengan hadiahnya itu.

***

Besoknya, Jean berangkat pergi ke mansion sambil membawa paper bag berisi kotak hadiah. Hutan semakin gelap dan bulan tampak terlihat hanya sebagian saja di langit malam, seekor burung hantu tampak hinggap di dahan pohon yang tinggi sambil memantau sekitar hutan. Jean berjalan melewati jalanan hutan yang kecil sambil menerangi jalannya dengan bantuan senter. Akhirnya Jean sampai berada di depan mansion besar bergaya gothic dan menyeramkan.

Jean memasuki mansion itu dan mencari ayahnya di sekitar ruangan, seperti biasa di dalam mansionnya sangat sepi dan gelap meskipun hanya beberapa cahaya lampu yang menerangi sebagian ruangannya saja. Jean menaiki tangga yang besar dan menuju ke sebuah lorong panjang untuk menuju ke ruang perpustakaan tempat dimana sang ayah itu berada, tetapi ayahnya tidak ada di ruang perpustakaan itu, biasanya ayahnya selalu hadir di ruang perpusatakaannya.

Jean mencari di seluruh ruangan mansion untuk mencari ayahnya, namun hasilnya nihil dan tidak menemukan tampak hidungnya. Jean terus mencari sosok ayahnya hingga sampai di sebuah ruang makan yang besar, lagi-lagi ruang makan itu kosong dan hanya terdapat sebuah makanan kecil di meja panjang serta lampu besar yang menerangi ruangan ini di atas langit-langit. Saat Jean mengitari ruang makannya, tiba-tiba Jean menemukan ayahnya dalam keadaan tidak sadarkan diri di depan bangkunya

Jean terkejut dan segera menghampiri ayahnya, “Ayah!” pekik Jean sambil berusaha membangunkan ayahnya dalam terbaring di lantai. “Kumohon, bangunlah.” Jean mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya supaya ia sadar, akhirnya ayahnya kembali sadar dan ia terlihat seperti kelelahan. Jean membantu ayahnya untuk bangun dari lantainya sambil menahan perut san bahu ayahnya untuk membawanya duduk di bangkunya. “Ayah, tidak apa-apa?” kata Jean.

Kini ayahnya sudah simpang siur dan sadar melihat anaknya yang sudah datang di depan matanya. Matanya terlihat sayu serta mata berwarna merahnya terlihat berkilau namun tertutup oleh kelopak matanya di bingkai kacamatanya. Wajahnya yang tampan namun terlihat sangat pucat seperti mayat yang terbujur kaku, bibirnya tipis dan sangat pucat serta kulitnya yang putih.“Uhuk—maaf Ayah tidak kelelahan, hanya saja Ayah merasa dehidrasi karena dari kemarin Ayah belum minum darah.” Ucapnya sambil sedikit terbatuk.

Jean membenarkan posisi duduk ayahnya dan merapikan poni rambutnya ke samping. “Ayah jangan paksakan diri untuk bekerja terlalu lama, untung saja Aku datang ke sini.” Ayah membenarkan posisi duduknya dan memegang kening kepalanya yang sedikit pusing. “Maaf, telah merepotkanmu, Ayah tidak apa-apa kok. Apakah kau lapar? Duduklah, Ada kudapan kecil di meja situ.”

Jean menatap kearah kue muffin yang terletak jauh dari ujung meja, kebetulan Jean merasa lapar karena dirinya belum makan dari rumah. Jean menghampiri sebuah meja berisi kue muffin yang berjejer di tempat kue bertingkat, Jean pun ingin memakan kue muffin itu dan tiba-tiba dirinya teringat momen yang dimana Jean tidak sengaja memakan muffin berisi darah tersebut. Hal itu membuat Jean merasa berhati-hati untuk memeriksa kue muffin itu, bentuk teksturnya sudah jelas berwarna merah dan kasar sehingga Jean tidak jadi memakannya karena dirinya takut dengan kejadian dulu, perasaannya mulai tidak enak dan terduduk lemas di bangkunya sambil melihat kue muffin yang terlihat mencolok di tempat kue bertingkat.

“Itu hanya kue muffin biasa, Ayah tidak mencampuri darah ke dalam kue ini untukmu.” Ucap ayahnya yang tiba-tiba berpindah posisi dari duduk di ujung meja kini terlihat berdiri di seberang meja tepat di depannya, Jean terkejut melihat ayahnya yang kini kondisinya menjadi membaik sejak insiden tadi. “Bu—bukannya Ayah sedang sakit, cepat sekali pulihnya.” Kata Jean menatap dengan heran. “Dehidrasinya tidak terlalu parah, sudah kubilang ayah ini baik-baik saja. Harusnya malam ini ayah harus berburu mangsa untuk mencari darah.” Jawabnya sambil membernarkan kacamatnya yang mulai turun.

“Siapa mangsanya?” tanya Jean.

“Manusia.” Jawabnya dengan santai duduk berhadapan dengan Jean.

“Kenapa Ayah masih suka mengincar manusia.” Kata Jean dengan heran melihat tingkah ayahnya yang tidak berubah-ubah. Sedangkan ayahnya tersenyum menyeringai dan berkata, “Karena mereka sangat lezat dan manis daripada darah hewan. Ayah sangat jarang menyerang penduduk desa karena ayah sudah tidak kuat lagi dengan darahnya, jadinya Ayah tidak bisa menghentikan kendali hawa nafsunya.”

“Sudah beberapa kali aku memperingatkan ayah untuk tidak boleh melukai penduduk desa. Sekarang jumlah penduduk desa semakin sedikit karena ulah makhluk vampir, lebih baik aku saja yang memberikan darahmu.” Kesal Jean. Mendengar ucapan itu, Ayah merasa kaget melihat sikap anaknya, sebenarnya ia tidak mau dihisap darahnya dan menolak keras menjadi vampir seperti ayahnya. Namun kali ini tiba-tiba saja ia rela memberikan darah untuk ayahnya. “Oh, jadi kau ingin memberikan darah kepada Ayah, ya?” kata Ayahnya sambil tersenyum kecil.

Tanpa berpikir panjang, Jean mengeluarkan sebuah kotak hadiah berwarna merah serta terdapat pita berwarna merah dari tasnya dan meletakkannya ke mejanya. “Ini.” Kata Jean dengan pelan. Ayah bingung melihat kotak hadiah dari Jean, “Apa ini?”

“Buka saja, aku membuatkan hadiah ini untuk Ayah.” kata Jean.

Ayah pun membuaka kotak hadiah itu dan isi kotaknya itu berisi sebuah kelopak Bunga Crocus berwarna ungu sebagai hiasannya serta terdapat tabung kecil berisi darah Jean dan sepucuk suratnya, Ayah pun membuka isi surat itu dan membacanya.

Selamat Hari Ayah! Aku sangat menyayangimu. Aku memberi hadiah ini supaya Ayah sangat suka dengan hadiahku, dan aku rela memberikan darahmu supaya Ayah sangat suka dengan ini. Tetapi aku hanya bisa mendapat ini sebisa mungkin, kuharap ayah harus mengharaginya.

Ayahnya tersenyum kecil membaca surat itu sekaligus bingung melihat surat itu. “Tulisanmu menyentuh sekali, tumben sekali kau membuat surat cinta ini untuk Ayah.” Kata Ayah. Jean hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. “Eh, itu hanya sebuah surat biasa saja, karena hari ini adalah Hari Ayah jadinya aku memberikan hadiah ini untuk Ayah.”

Senyuman ayahnya terlihat mengembang di bibirnya sehingga senyuman itu menjadi hangat. “Ayah tahu kau ingin sekali membuatkan hadiah kasih sayang untuk ayah, kau tahu sekali ya Ayah menyukai darah ini.” Katanya sambil memegang tabung kecil berisi darah Jean dan mengendus tabung berisi darah itu. “Ini terlihat manis dan mirip sekali dengan aroma darah ibumu. Sayangnya, wangi darahmu bukan wangi Stroberi, tetapi seperti buah ceri.”

“Itu menurut penciuman ayah, anggap saja darahku itu adalah sebuah jus ceri.” Kata Jean.

“Darahnya emang mencolok dan seperti jus ceri, tetapi kenapa kau mengambil darah seperti ini? itu terlalu bahaya untukmu.” Ujar ayahnya yang sedikit khawatir. “Umm—maaf, aku sengaja melakukan donor darah di rumah sakit agar aku bisa mendapatkan darahku sendiri untuk Ayah. Jadinya ayah tidak usah langsung mengambil darahku lewat leher.” Jawab Jean.

“Tapi darahmu kan campuran darah vampir, bisa saja manusia itu akan menjadi vampir karena ia di donorkan darah darimu.” Kata Ayah.

“Itu kan hanya darah biasa, lagipula darah vampir dan darah manusia hampir sama warnanya sehingga aku tidak bisa membedakannya, karena aku ini adalah setengah manusia dari ibuku dan juga setengah vampir dari ayah.” Jawab Jean dengan mantap. Ayahnya sedikit terkejut mendengar ucapan anaknya dengan santai, kini Jean mengakui bahwa dia adalah sang gadis keturunan vampir dan juga manusia. Tetapi sifatnya tetap seperti manusia normal pada umumnya dan bisa berbaur dengan sesama manusia, fisiknya hampir sama seperti ayahnya dan wajahnya mirp seperti ibunya. Namun Jean terlihat lebih cantik seperti ibunya yang membuat Ayahnya menjadi alasan kenapa dirinya masih menyayangi si anaknya, Jean.

Note :

Cerita ini menggunakan sudut pandang campuran dan sedikit terdapat Sudut Pandang Orang Ketiga Tunggal

2 thoughts on “My Father is Vampire : Hari Ayah

  1. Koreksi:
    1. Mereka pada sibuk (Mereka sibuk)
    2. Jean bingung memikirkan hadiah apa untuk kepada ayahnya, (Jean bingung memikirkan hadiah apa untuk ayahnya.) // akhiri dengan tanda titik
    3. Ayahnya tidak tertarik dengan barang-barang itu seperti barang mewah ataupun barang-barang biasa seperti pada umumnya sehingga Jean harus berpikir keras untuk menentukan hadiah yang cocok. (pengulangan kata ‘barang’) // gunakan kalimat efektif
    4. Tiba-tiba Jean mempunyai ide untuk hadiah kepada ayahnya nanti. (Tiba-tiba Jean mempunyai ide untuk hadiah ayahnya nanti.)
    5. Darah, iya darah, ayah sangat suka sekali darah hasil buruannya. (Darah, iya darah. Ayah sangat suka sekali darah hasil buruannya)
    6. dimana (di mana)
    7. kesana (ke sana)
    8. Di rumah, Jean sibuk menyiapkan hadiah untuk ayahnya besok, Jean memasukkan tabung kecil berisi darah, kelopak Bunga Crocus  ungu sebagai hiasan, dan sepucuk surat yang sudah ditulis di dalam kotak hadiahnya.(gunakan kalimat efektif, pemberian tanda baca yang pas, kurangi kelebihan spasi)
    9. hanya sebagian saja (hanya sebagian)
    10. Hutan semakin gelap dan bulan tampak terlihat hanya sebagian saja di langit malam, seekor burung hantu tampak hinggap di dahan pohon yang tinggi sambil memantau sekitar hutan. Jean berjalan melewati jalanan hutan yang kecil sambil menerangi jalannya dengan bantuan senter, akhirnya Jean sampai berada di depan mansion besar bergaya gothic dan menyeramkan. (Ganti tanda koma dengan tanda titik)
    11. dimana (di mana)
    Note:
    – di paragraf berikutnya hingga akhir masih mengulangi kesalahn yang sama. Mohon segera diperbaiki

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s