2020 ke 2030

Ah, andaikan kau bisa dengan segera membalas surat ini. Maka aku akan bertanya tentang fluktuasi pasar modal dari tahun 2021 sampai 2030 nanti. Menjual segala aset yang ada, lalu berinvestasi sesuai dengan balasanmu nanti.

Kemudian memutuskan untuk pensiun muda dan bermigrasi ke sebuah desa di pesisir pantai. Membeli sebuah kediaman kecil kemudian menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, berdiskusi dan berkonklusi. Seperti mimpi masa remaja kita dulu.

Tapi sayangnya, waktu adalah satu-satunya materi yang tak dapat dimanipulasi. Setidaknya pada masa yang aku sedang tinggali kini.

Jadi, apa kabarmu di sana? Masih suka berkelana atau sudah memutuskan untuk menetap di sebuah lokasi?

Bagaimana kondisi 2030? Bagaimana kira-kira jika aku yang memandangnya? Akan jadi sebuah utopia atau malah distopia?

Sebenarnya, aku kini sedang membayangkan bagaimana situasi jika kita bertemu dan saling bertatap muka. Apakah engkau akan menjabat tanganku bangga, memeluk tubuh ini dengan haru, atau bisa jadi kita tidak dapat bertemu karena kau sudah bereinkarnasi menjadi seekor lumba-lumba?

Tampaknya aku ini hanya sedang meracau saja. Mau bagaimana lagi, bukankah kita memang senang bercanda dengan diri kita sendiri?

Sedangkan soal harapan, rasanya kita sudah sama-sama belajar akan apa yang dibutuhkan untuk hidup ini. Kalau pun harus menyebutkannya, harapanku hanyalah satu. Mudah-mudahan kau telah berhasil menaklukkan prinsip Pareto yang tengah kupelajari dengan sungguh-sungguh kini.

Tanpa terasa sudah cukup banyak yang telah kutulis pada surat ini. Aku sih berani bertaruh, bilamana kau sempat membacanya nanti, sudah pasti kau hanya akan membalasnya dengan sebuah senyuman saja.

Semoga surat ini pada akhirnya dapat membuatmu tersenyum manis, bukan miris.

C’est Tout!

13 thoughts on “2020 ke 2030

  1. Prinsip pareto, mantap.
    Meracau bisa jadi menjadi bagian dari mimpi. Walau terlihat bercanda, tapi tersirat bahwa mimpi itu sebagian sudah direncanakan dengan sungguh-sungguh. ๐Ÿ˜€
    Kembali lagi bahwa manusia tak pernah benar-benar memiliki masa depan, karena milik yang sesungguhnya adalah hari ini. Tapi harapan harus selalu ada, karena denganny manusia bisa terus melanjutkan hidupnya.

    Komen apa ya ini, hehehe. Anggep aja meracau juga. ๐Ÿ˜€

    Liked by 1 person

      1. Prinsip 80/20, Kang. 20% aktifitas kita menghasilkan 80% dari hasil yg kita peroleh. Intinya efisiensi. Tapi penerapannya aku juga masih belum bisa. Mesti pandai memilah skala prioritas dengan baik, dan di situ susahnya.

        Mungkin Rakha bisa jelasin lebih sederhana lagi. ๐Ÿ˜€

        Liked by 1 person

      2. Seperti yang sudah Mas Hp sebutkan, Kang. Inti dari prinsip/hukum itu adalah efisiensi dan efektivitas kalau untuk SDM.
        Kuncinya analisa diri sendiri, belajar dari hasil analisa tersebut, kemudian mendisiplinkan diri kita sehari-hari.
        Teorinya sih gampang. Tapi prakteknya? Ampun-ampunan ini. ๐Ÿ˜

        Like

  2. Kemudian memutuskan untuk pensiun muda dan bermigrasi ke sebuah desa di pesisir pantai. Membeli sebuah kediaman kecil kemudian menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, berdiskusi dan berkonklusi. Seperti mimpi masa remaja kita dulu.

    Mimpi ini pernah juga menghampiriku. Apalagi, aku sering membaca novel berkisah tentang penulis yang menghabiskan waktu di suatu tempat. Menulis, membaca dan bahkan orang tak pernah tahu siapa dia. Sampai akhirnya aku menyadari, itu mustahil bagiku๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s