Sepucuk Surat Untukku

November 2020. Aku menulis ini untukmu, hay Dian? Apa kabarmu? Semoga saja sehat, bahagia, selalu tersenyum besertamu.

Terima kasih telah menjadi pribadi yang cukup baik, walau kadang sedikit menyebalkan. Terima kasih telah berjuang bersama melewati hari sulit, walau badai kehidupan terasa pelik. Terima kasih telah berusaha menjadi manusia tegar, walau keluh kesah masih saja datang berkunjung.

Bagaimana rasanya berjalan dalam sepuluh tahun ini? Bagaimana rencana dan mimpimu? Terwujudkah? Apapun hasilnya, aku tahu kamu sedang berjuang.

Banyak pertanyaan yang akan aku lontarkan kepadamu, Dian. Selama sepuluh tahun ini apa yang sudah kamu lakukan untuk orang tersayang? Apakah harimu menyenangkan? Mari kita lewati bersama, aku masih setia bersama ragamu selagi nafasku masih berhembus.

โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€ (QS. Al Baqarah: 216). Saat merasa sedih ataupun senang aku selalu mengingat ayat ini. Semoga kamu mengerti dan memahaminya saat sampai ke tujuanmu. Semoga setiap doa dan usahamu, bukan hanya untuk dirimu sendiri tapi keluargamu dan orang-orang sekelilingmu.

Suara air hujan saat ini sedang merdunya, bagaimana di sana? Apakah masih sama? Kebiasaanmu akhir-akhir ini adalah melihat langit bukan? Semoga langit yang aku rindukan sekarang, kamupun sama rindunya.

Foto: Dokumentasi pribadi.

Dari dirimu, ragamu sepuluh tahun yang lalu.

2 thoughts on “Sepucuk Surat Untukku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s