Ken dan Dua Bulan

https://fineartamerica.com/featured/2-moon-size-pekka-parviainenscience-photo-library.html

Tulisan ini bagian dari novel yang pernah saya tulis. Aslinya sudut pandang narator adalah orang ketiga. Untuk tugas ketik 10 sudut pandangnya saya ubah menjadi orang pertama, disesuaikan dengan masing-masing tokoh. Selamat menikmati.

Cerita Ken

Aku tersentak dari tidurku. Masih jam empat pagi. Mimpi yang menakutkan! Aku berdiri di pelataran kampus ITB. Angin kencang menderu menerbangkan daun-daun kering. Sinar matahari panas menyengat. Pelataran sepi dari lalu-lalang orang, sepertinya semua enggan terkena udara kerontang ini. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ada di sini. Gerumbulan bunga-bunga bougenvile di pintu gerbang bergerak-gerak tertiup angin. Lalu kulihat Anton muncul bersama gadis itu, Taira. Bukan Taira, wajahnya bukan Taira, tapi aku tahu dia Taira. Mereka tampaknya tengah meributkan sesuatu. Aku berusaha mendengar apa yang mereka ributkan, tetapi suara mereka ditiup angin dengan cepatnya. Aku tersentak melihat Bulan muncul dari belakang mereka. Ia melambai pada Anton, tersenyum cerah, lebar, dengan mata berbinar-binar, seperti biasanya bila bertemu dengan orang yang sangat dikasihinya itu. Taira, atau siapa pun dia, berputar dan bertemu muka dengan Bulan. Lalu, tanpa peringatan, ia menyerang Bulan pada lehernya. Mencengkeram dengan jari-jarinya yang panjang dan menancapkan kuku-kuku lentiknya di kulit putih Bulan. Kulit yang sekali saja kusentuh bisa membakar hangus hatiku. Aku berteriak, berteriak kuat, tapi tak ada suara yang keluar. Aku ingin menyerbu meraka, merenggut Bulan dari cengkraman iblis itu, tapi kakiku tertancap bilah ke tanah, tak sanggup kugerakkan. Lari Bulan, lari! Aku hanya terbelalak menyaksikan Bulan tersiksa di sana.

Bajuku basah karena keringat. Kini aku tahu mimpi-mimpi yang selama ini selalu datang di tiap malam. Kini aku tahu apa arti sentuhan tangan Anton ketika pertama kali kami bertemu. Bukan Anton yang terancam bahaya dan bukan Taira yang menjadi ancaman. Mereka berdua seperti matahari yang menutupi cahaya bulan dan aku terpaku pada matahari itu bukan apa yang ada dibaliknya. Bodoh sekali aku selama ini! Aku, Ken, si anak indigo, gagal! Kalau bukan Taira, siapa? Siapa? Pemuda itukah? Yang ditemuinya dulu bersama Anton? Pemuda tampan berkulit tembaga dengan sorot mata dingin, rahang keras tanpa ampun ketika dia berkata, “What’s lost is lose forever.”

Mengingat itu aku panik. Mataku jelalatan mencari telpon seluler. Aku harus menghubungi Bulan. Jam empat pagi waktu Yunani berarti jam sembilan pagi di sana. Jari-jariku gemetaran menekan-nekan angka-angka kode sambungan jarak jauh dan nomor telepon seluler Bulan. Terdengar suata panggilan tapi tak ada sahutan. Lalu sambungan mati.

Damn!”

Teriakanku membangunkan Owen.

What’s up, Ken?” dia bertanya keheranan melihatku seperti kesetanan. I don’t care.

Cerita Bulan

Aku terbelalak bagai menatap hantu di siang bolong. Kakiku gemetar tak tertahankan. Tubuhku seperti daging tak bertulang dan mendadak rasa dingin merayap dari ujung kaki sampai jemari tanganku. Aku bersandar pada meja kerja Candra, menghadap orang itu sepenuhnya dengan rasa ngeri.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya lebih menyerupai desisan.

Mulutku bergerak, berusaha menjawab. Tapi suaraku bersembunyi di balik tenggorokan. Bahkan suara pun tak mau menghadapi orang ini.

“Apa yang kau lakukan?!” Candra membentak.

Aku melonjak kaget. Kutarik nafas panjang dan mengendalikan bibirku yang gemetar waktu menjawab, “Aku … aku … mengumpulkan tugas …”

Candra berjalan mendekat dan berhenti tidak sampai dua meter di depanku. Di lantai, dekat kakinya, tergeletak foto yang terlepas dari genggamanku tadi. Candra tidak mengacuhkan foto itu. Matanya lekat menatapku dengan pandangan yang sukar ditebak.

“Tugasnya ada di meja Bapak.” Aku menghimpun kembali tenagaku. Yang kupikir sekarang hanya bagaimana keluar dari ruangan ini.

Namun, seakan membaca jalan pikiranku, Candra menggelengkan kepala. Perlahan-lahan ia membungkuk mengambil foto yang terjatuh itu. Ia mengamati foto di tangannya. Jemarinya perlahan mengelus wajah di sana lalu matanya kembali menatapku tajam. “Jangan harap kau bisa lolos dari sini.” Bulu kudukku berdiri.

Candra menyeringai, “Kau kira dapat menipuku selama ini? Sekali – dulu – aku sudah melepaskan kekasihmu. Setelah apa yang kalian lakukan terhadap Taira, aku memilih untuk mengubur semua kisah pahit itu. Aku juga telah mengingatkan sebaiknya kau mundur dari pelatihan ini. Tapi kau nekat.  Kau terlalu percaya diri. Kalau kau kira dapat menghancurkan aku seperti Taira, kau salah sangka.”

Candra tertawa. Terdengar nada puas berlumur kepahitan dalam tawanya.

Dia pasti gila, batinku. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Candra menggeram, “Setelah kau merebut laki-laki ini dari adikku, kau bilang kau tidak mengerti apa yang kukatakan?!” Candra mengibaskan foto di tangannya.

Otakku berputar keras berusaha memahami kata-katanya. Laki-laki yang mana? Cuma ada Mas Anton di foto itu. Siapa adiknya? Apakah gadis yang berfoto bersama kami itu adik Candra?

“Kau pasti salah menebak orang. Aku tidak pernah kenal dengan adikmu.”

“Pembohong!” teriakan Candra membuat darahku membeku. “Apa kau mau mengatakan kalau orang di foto ini bukan dirimu?!”

“Tentu saja itu fotoku.”

“Berarti kau kenal siapa orang yang berfoto bersamamu!” potong Candra, “Setelah membunuhnya kau katakan kau tidak mengenalnya?!”

Jadi gadis itu, adik Candra, sudah mati. Candra jelas-jelas menyalahkannya. Dia kira adiknya mati karena aku merebut Mas Anton.  Bagaimana gadis itu mati? Apakah kematian itu yang menyebabkan Mas Anton berubah? Aku terkenang kembali sikap misterius Mas Anton, waktu dia tiba-tiba berubah menjadi paranoid dan tertutup. Setelah Ken bertemu dan berbicara panjang lebar dengan Mas Anton, ia memang mau kembali bergaul dengan lingkungannya. Tapi Mas Anton tidak pernah benar-benar kembali seperti sediakala. Apa kata Candra tadi? Aku dan Mas Anton telah membunuh adiknya?

Aku berusaha menjelaskan duduk perkaranya. “Dengar. Kau salah sangka. Aku tidak terlibat apa pun dengan kematian adikmu.”

“Adikku sudah mati. Seharusnya kau menghormatinya dengan mengakui perbuatanmu dan minta maaf. Tapi kau malah pura-pura tidak kenal dan terus menyangkal.”

Seluruh tubuh Candra memancarkan api kemarahan. Ia telah berubah menjadi dewa kematian. Wajah tembaga Candra mengeras, bola api memancar dari tatapannya membuat sekujur kulitku pedih terbakar. Setiap langkah pemuda itu mendekat bagai tusukan sembilu. Sebelum tangannya terangkat pun aku sudah dapat merasakan jari-jari pemuda itu di leherku. Dia akan mencekikku sampai mati. Lari!  Lari!! Kau harus menyelamatkan dirimu!!! Otakku berteriak, tapi kakiku berkhianat. Aku hanya dapat terbelalak melihatnya semakin dekat.

Tiba-tiba dering telepon seluler mengoyak kebisuan. Langkah Candra terhenti. Suara itu seperti mengembalikan ia dari alam fana. Ia mendengarkan dan bola matanya mencari-cari sumber suara itu.

Dering telepon itu datang dari tas saku yang terselempang di pundakku, tersembunyi antara aku dan meja kerja. Ken! Dering telpon Ken yang selalu menghiasi pagiku kini membangunkan saraf-saraf di kakiku yang membeku. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sementara Candra masih linglung mencari asal bunyi itu, aku setengah melompat berlari menuju pintu. Sesaat kukira tanganku berhasil meraih tombol pintu, tetapi suatu hentakan kuat menarikku kembali. Candra berhasil menyambar tasku dan menghentikan pelarianku. Aku terjatuh dalam pelukan Candra seiring putusnya tali tas kesayanganku, hadiah ulang tahun dari Mas Anton. Dering telpon terputus ketika tas itu membentur kursi kayu jati kualitas nomor satu.

Cerita Candra

Bulan terjatuh dalam pelukanku. Kulingkari tanganku di lehernya, merebut semua oksigen yang dapat dinikmati gadis itu.

“Apa…apa…yang kau…lakukan?” ia tersedak.

“Aku akan membunuhmu. Sebelumnya, aku akan menikmatimu lalu membuang mayatmu di suatu tempat.”

Bulan menggigil, “Kau tidak dapat berbuat begitu.”

“Jangan ajari aku apa yang dapat atau tidak dapat aku buat!” Darahku menggelegak.

“Orang-orang akan mencariku. Kau tidak dapat mangkir.”

Aku tertawa lepas, “Aku tak peduli. Aku tak peduli.”

Dunia di sekelilingku meleleh. Kudengar sendiri nafasku memburu seperti sprinter yang berhasil mencapai garis finish. Jantungku berdegup di atas 145 kali semenit. Aku tahu aku berada pada titik paling ekstrim kesadaran manusia. Yang kulihat hanya Bulan. Yang kurasakan hanya detak nadinya di lengan. Yang ada di otakku hanya keinginan untuk melenyapkan semua rasa sakit ini. Kurasakan tubuh Bulan semakin berat dan berat. Semua beban ini membuatku lemah, membuat tungkai kakiku bengkok, dan aku terduduk di karpet tebal nan lembut dengan Bulan dalam pelukanku.

Kesadaranku datang kembali. Kini aku dapat melihat sekelilingku dengan jelas dan merasakan tubuh Bulan. Harum tubuh gadis itu menyesakkan napas. Kubenamkan wajahku di kelembutan rambut hitamnya yang selalu kukagumi sejak pertama kami bertemu. Diam-diam aku menangis di sana. Dunia tidak pernah adil padaku dan Taira. Taira harus kehilangan orang-orang yang dicintainya sebelum akhirnya ia menamatkan sendiri riwayat hidupnya. Dan aku? Sejak melihat Bulan di foto yang ditunjukkan Taira kepadaku, aku telah jatuh hati padanya. Pada dua lesung pipinya. Pada senyumnya yang tulus dan matanya yang memancarkan gairah hidup. Bahkan, sebelum mengenalnya pun, aku telah mengkhianati kepercayaan Taira. Aku mencintai musuhku sendiri. Kini, orang yang menghancurkan Taira ada dalam genggamanku. Aku dapat saja membunuhnya sekarang, dengan tanganku. Tapi aku tak sanggup.

3 thoughts on “Ken dan Dua Bulan

  1. Koreksi :
    1. Lalu lalang (lalu-lalang)
    2. terkena udara kering kerontang ini. (kerontang artinya kering. Sebaiknya hapus salah satu antara kering atau kerontang pada kalimat ini)
    3. Gerumbulan (apa arti dari kata ini?)
    4. Mencengkram (Mencengkeram)
    5. Memenekan (menekan-nekan)
    6. disini (di sini)
    7. Tapi suaraku bersembunyi di balik tenggorokanku (Tapi suaraku bersembunyi di balik tenggorokan)
    8. “Aku…aku…mengumpulkan tugas…” (“Aku … aku … mengumpulkan tugas … ”)
    9. “Tentu saja itu fotoku……” (“Tentu saja itu fotoki.”)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s