Fokus pada Preposisi

Cr : Pexels

Sebagai seorang penulis, salah satu hal yang perlu dipelajari untuk meningkatkan kualitas tulisan sesuai standar PUEBI adalah dengan belajar preposisi. Preposisi adalah kata penghubung dalam sebuah kalimat dengan beragam fungsinya, misalnya untuk penunjuk arah, waktu, tempat, dll. Kata preposisi yang sudah kita kenal yaitu di, ke, dan nya. Biasanya masih banyak sekali yang salah dalam penulisan kata penghubung ini.

Meskipun preposisi ini terasa tidak banyak memengaruhi makna sebuah kalimat (menurutku) tapi ternyata ada aturan cara kepenulisannya. Secara teori, aku sudah cukup hafal tentang preposisi ini tapi dalam praktiknya masih sering terjebak antara disambung atau tidak. Selain preposisi, ada tambahan partikel ‘Pun’ yang sama menjebaknya, jadi mari kita belajar bersama. Berikut ini aku tuliskan aturan penulisan preposisi beserta contohnya, yaitu :

di yang disambung (sebagai kata kerja pasif) :

  1. Dika mengakhiri ceritanya yang disambut dengan dengusan meremehkan dari Randi.
  2. Kebodohan yang memalukan itu harus ditambah dengan kebodohan kecil lainnnya.
  3. Ia terkekeh pelan pada candaan yang sebelumnya selalu ditanggapi dengan umpatan kesal.

di yang dipisah (untuk menunjukkan arah atau tempat) :

  1. Ia membenarkan letak tali tas ransel yang melingkar di bahunya.
  2. Tubuh mungilnya berhasil mendarat di atas tanah berumput dengan kedua tangan dan lututnya sebagai tumpuan.
  3. Matahari akan siap tenggelam di langit barat beberapa puluh menit lagi.

ke yang disambung (sebagai kata kerja atau kuantitas) :

  1. Surat itu ditujukan kepada sang pujaan hati.
  2. Aku cukup tahu alasannya datang kemari secepat ini.
  3. Kedua anak itu hilang setelah sebelumnya terlihat memasuki area hutan.

ke yang dipisah (untuk menunjukkan arah atau tempat) :

  1. Ia tahu pasti seperti apa teman sekelompoknya yang akan datang ke rumah malam ini.
  2. Kepalanya tiba-tiba pening membuat ia sedikit terhuyung ke belakang.
  3. Ia segera berlari ke dapur begitu bau gosong mulai tercium hidungnya.

ke- untuk menyatakan nomor urut :

  1. Presiden ke-35 Amerika Serikat tewas ditembak orang tak dikenal.
  2. Fendi adalah anak ke-3 dari empat bersaudara.
  3. Elevator itu mendadak berhenti ketika hampir mencapai lantai ke-7.

pun yang disambung (untuk menyatakan penegasan) :

  1. Aku tidak melakukan apapun pada Dinda.
  2. Bagaimanapun juga ini semua bukan sepenuhnya salah sang istri.
  3. Ia baik-baik saja, masih hidup dan tak ada luka di dahinya ataupun noda darah di bajunya.

pun yang dipisah (untuk menyatakan juga atau saja) :

  1. Untuk bernapas pun ia tak berani.
  2. Seorang yang segenius Lisa pun bisa dibuat pening jika sudah mendapat tugas dari dosen itu.
  3. Aku pun tak mengerti kenapa masalah ini bisa jadi sepelik sekarang.

nya yang disambung (untuk menyatakan kepemilikan orang ketiga atau menunjukkan sesuatu) :

  1. Segaris senyum tanpa sadar terukir di bibir tipisnya.
  2. Orang itu kembali mengincar korbannya di tempat lain.
  3. Degupan jantungnya berpacu lebih cepat saat melihat sang pujaan hati mendekat ke arahnya.

Nya– yang dipisah (untuk menyatakan kepemilikan Tuhan)

  1. Hanya kepada-Nya tempat kami kembali.
  2. Di masa pandemi seperti sekarang ini, semoga kita selalu berada dalam lindungan-Nya.
  3. Aku hanya bisa mendoakan agar orang bebal seperti dia bisa mendapat hidayah dari-Nya.

Sekian sedikit penjelasan tentang preposisi dan contohnya dariku. Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas #Ketik6. Tulisan ini juga sudah dibaca ulang beberapa kali, jadi kalau masih ada typo apalagi typo soal preposisinya berarti tulisan ini gagal. Haha. Mohon koreksinya, terima kasih dan semoga bermanfaat.

One thought on “Fokus pada Preposisi

Comments are closed.