Pengetahuan Berharga

Sumber: Pinterest

“Pelajaran apa yang sudah kamu dapatkan di Ikatan Kata sampai saat ini?” Kira-kira begitulah yang ditanyakan oleh Engkong KETIK11.

Pertanyaan tersebut menyadarkan betapa lambatnya saya dalam mengejar target KETIK selama hampir setahun menjadi anggota komunitas. Banyak anggota baru yang bergabung dan mereka melaju dengan cepatnya, dengan mudah membuat jadwal tayang KETIK seminggu sekali. Sementara itu, saya terus bertahan dengan deadline sebulan sekali sembari was-was barangkali di pagi buta muncul notifikasi yang menyatakan: saya telah ditendang keluar dari WhatsApp Group komunitas. Hiks. Surprisingly, anggota bandel yang satu ini masih bisa terus bertahan di Ikatan Kata sampai sekarang.

Meski dengan kepayahan yang sedemikian rupa, saya sangat gembira sekaligus bersyukur menjadi bagian dari Ikatan Kata. Ada banyak pengetahuan berharga yang telah saya dapatkan selama berada di lingkarannya, khususnya yang bersumber dari koreksi-koreksi Kak Fahmi di kolom komentar pos KETIK. Bagi saya pribadi, adanya koreksi memang menunjukkan ketidaksempurnaan tulisan. Namun, koreksi selalu meninggalkan catatan yang nantinya harus saya pahami dan ingat-ingat, baik di saat pengerjaan KETIK selanjutnya maupun tulisan lain di luar KETIK.

Berikut adalah pengetahuan baru yang saya catat dan perlahan-lahan saya terapkan ketika membuat tulisan:

  1. Mencermati keseluruhan tulisan sebelum mengeposnya, memastikan tidak ada typo dari awal hingga akhir paragraf. Menurut saya, ini cukup riskan sehingga perlu dikerjakan dengan sangat hati-hati. Ketika membaca kembali keseluruhan tulisan, kita mungkin akan menemukan kalimat-kalimat baru yang kita rasa lebih baik. Akhirnya, menambah atau mengurangi tulisan pun terjadi sampai kemungkinan terburuknya; nggak bakal selesai-selesai.
  2. Mempelajari partikel -pun yang ditulis dengan cara digabungkan dengan kata yang diikutinya atau ditulis secara terpisah dengan kata yang diikutinya. Walaupun bisa memahami makna partikel ini, saya masih seringkali salah dalam penulisannya.
  3. Sebelumnya, saya selalu membubuhkan tanda koma (,) di akhir kalimat dialog dalam cerpen tanpa memerhatikan dialogue tag yang mengikutinya. Setelah mendapat koreksi dari Kak Fahmi, saya jadi mengerti penempatan tanda koma yang semestinya. Contohnya seperti ini:
    a. “Jangankan membalas cintaku, melihat wajahku saja dia tidak sudi,” kataku dengan putus asa.
    b. Adikku berkata, “Mayat bocah itu ditemukan di tempat pembakaran batu bata.”
    Selain itu, tanda koma di akhir dialog dapat menunjukkan adanya jeda dialog, yang berarti akan ada dialog pelengkapnya.
  4. Belajar membuat kalimat efektif, menghindari pemborosan kata. Saya pernah menulis kata ganti orang yang sama (misalnya ‘aku’) sebanyak tiga kali dalam satu kalimat panjang, dan itu sangat mengganggu cara penyampaian cerita kepada pembaca.

Sepertinya empat nomor saja sudah cukup, ya. Walaupun di sini topiknya berbagi, jangan-jangan dengan semakin banyak nomornya, hanya semakin menunjukkan diri saya yang suka amnesia dengan pelajaran tata bahasa Indonesia. Haha. Omong-omong, belakangan ini saya sedang mengerjakan beberapa tulisan yang lumayan serius. Keempat catatan di atas menjadi hal yang paling saya perhatikan supaya tulisan lebih bagus.

Selama di Ikatan Kata, tidak melulu soal tata bahasa yang saya pelajari. Anggota komunitas yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dengan suku, sifat, dan usia yang berbeda, mengajarkan bagaimana saya harus bisa menempatkan diri tanpa meninggalkan sopan santun ketika bergaul, sekalipun mereka belum pernah saya temui secara personal. Tapi maaf, jika terkadang saya agak celelekan. Saya anaknya memang sedikit begitu, sih.

At least, seru dan berfaidah banget menjadi anggota komunitas Ikatan Kata. Semoga saya bisa lebih rajin belajar menulis dan menjadi teman yang baik bagi anggota komunitas.

2 thoughts on “Pengetahuan Berharga

Comments are closed.