Pahlawanku

Hal pertama yang teringat saat mendengar kata ‘Pahlawan’ adalah para pejuang kemerdekaan negeri ini. Mereka yang dulu dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa untuk merebut kembali tanah air tercinta dari tangan para penjajah. Seperti arti kata ‘Pahlawan’ dalam KBBI yaitu orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Maka dengan definisi tersebut, gelar pahlawan memang sangat tepat untuk diberikan kepada para pejuang kita dulu yang dengan kegigihan dan keberaniannya, akhirnya kita bisa menjadi bangsa yang merdeka sejak tahun 1945.

Namun aku tidak akan membicarakan para pahlawan bangsa ini lebih banyak karena pengetahuan sejarahku tidak bagus. Sebenarnya aku juga bingung akan menceritakan apa karena tantangan Ketik 5 yang bertemakan pahlawan ini lumayan sulit untuk ditulis. Tapi ya, namanya juga tantangan, tidak seru kalau tidak sulit hehe. Beruntungnya aku sebagai anggota baru IK, di sini sudah ada banyak contoh artikel tentang tantangan kali ini dari anggota lain. Jadi, beberapa hari belakangan aku sibuk baca-baca tulisan anggota lain yang sebenarnya sudah sangat mewakiliku. Tapi aku tetap harus membuat tulisan versiku, jadi mari dicoba.

Di zaman sekarang, arti pahlawan tidak hanya untuk para pejuang namun juga untuk orang-orang yang dengan kebaikan hati dan keikhlasannya mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Seperti misalnya para guru yang sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka dengan ikhlas mengajari anak-anak didiknya dengan penuh kesabaran walaupun di beberapa kasus yang aku tahu, ada guru-guru yang tidak mendapatkan hak-haknya sebagai tenaga didik. Namun mereka tidak menyerah untuk bisa mencerdaskan para generasi penerus bangsa. Atau di masa pandemi ini, ada istilah pahlawan medis untuk para petugas kesehatan yang berjuang tanpa lelah mengobati para pasien covid-19.

Untukku pribadi, jika ditanya siapa sosok pahlawan yang paling berjasa dalam hidup, mungkin ada beberapa. Tapi ada satu sosok yang membuatku ingin menuliskannya di sini, yaitu kakekku. Aku memanggilnya Mbah Akung. Dia bukan hanya pahlawan bagiku tapi aku yakin dia juga pahlawan bagi anak-anaknya. Aku tinggal bersama kakek dan nenekku di hampir setengah hidupku, jadi sedikit-banyak aku tahu bagaimana perjuangannya semasa hidup. Ini ditulis bukan untuk mengesampingkan peran orang tua atau nenekku, ya. Mereka juga punya andil besar dalam hidupku dan tentu saja aku menyayangi mereka semua.

Kakekku hanya orang desa yang lugu dan tidak punya apa-apa. Dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar untuk menghidupi keluarganya yang punya enam orang anak. Bahkan profesi itu masih dia jalani hingga aku lulus SD sebelum akhirnya diminta untuk mengurus sawah orang lain. Kami hanya tinggal di rumah sewaan sederhana berdinding anyaman bambu. Tentu saja dengan kehidupan yang seperti itu, ada banyak suara-suara sumbang yang mampir ke telinga yang sempat aku dengar saat kecil dulu. Namun kakek maupun nenekku tak pernah ambil pusing masalah itu.

Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan kakekku hanyalah pekerjaan rendahan. Namun bagi keluarga, terutama anak-anaknya, dari pekerjaan itulah mereka akhirnya bisa menjadi orang-orang yang seperti sekarang ini. Kakekku dengan penuh tanggung jawab sebagai kepala keluarga, mau bekerja semampunya. Berlarian keluar-masuk pasar untuk mengangkut berkarung-karung dagangan orang dari mobil bak ke dalam kios-kios para pedagang. Tidak peduli panasnya hari, tetesan hujan atau sakitnya pundak di malam hari yang akhirnya membuat posturnya sedikit bungkuk. Dari sanalah dia mengumpulkan beberapa lembar rupiah untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya untuk menjadi orang yang lebih berpendidikan.

Bagiku, Mbah Akung adalah sosok yang luar biasa. Dia adalah kakek yang baik. Dari sekian banyak kebaikannya, ada satu yang membuatku merasa bersalah hingga saat ini. Saat masa SMA dulu, aku pernah pulang terlalu malam karena bermain ke rumah teman yang ada di kota sebelah. Aku memang sudah bilang saat berangkat sekolah kalau hari itu aku akan pulang malam, namun tidak tahu sampai pukul berapa. Saat itu tidak ada ponsel yang bisa dihubungi karena kakek dan nenekku tidak bisa menggunakannya dan kami hanya tinggal bertiga.

Di malam saat pulang, sekitar pukul 7 malam, hujan badai turun ditambah matinya listrik di sepanjang jalan yang aku lalui. Kata orang-orang dalam bus, ini mati listrik massal satu kabupaten. Aku jelas was-was karena setelah turun bus nanti, aku masih harus jalan jauh melewati sawah untuk sampai ke rumah. Aku yang penakut ditambah gelapnya malam akibat mati listrik dan hujan badai, membuatku ingin menangis. Tapi saat aku turun dari bus, di sana kakekku sudah menunggu. Memakai payung besar yang beberapa kali tertiup angin kencang, di tangannya ada sebuah senter yang menyala, juga payung lipat untukku. Dia memakai sarung yang dilipat ke atas karena hujan semakin deras dan membuatnya hampir kuyup.

Aku lega, tapi aku juga merasa bersalah karena membuat kakekku harus menunggu lama hingga basah kuyup. Katanya dia sudah menunggu sejak ba’da Maghrib, padahal aku sampai rumah pukul delapan malam. Katanya dia takut aku nangis-nangis di pinggir jalan karena takut gelap kalau tidak dijemput. Dari sana sebisa mungkin aku tidak mau pulang malam lagi, apalagi sampai menyusahkan orang rumah. Kakekku memang baik, rasanya semua kakek pasti baik pada cucunya.

Ya, begitulah kakekku. Kadang kalau aku sedang mengerjakan PR, dia ikut duduk di sampingku lalu mencoba mengeja tulisan yang ada di cover buku paketku karena Mbah Akung tidak bisa baca-tulis. Mbah Akung juga yang mengajariku naik sepeda, membuat layang-layang hingga menerbangkannya, yang mengantarku dan membelikanku apa saja tiap kali aku merengek ingin sesuatu. Dan tentu saja mengajarkanku arti keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur dalam kesederhanaan yang dia miliki.

Sekarang tugasnya sebagai seorang ayah telah selesai. Dia meninggal lima tahun lalu karena sakit. Bahkan di tengah sakitnya dulu dia sempat menikahkan anak terakhirnya. Dia meninggalkan enam orang anak yang soleh-solehah, insya Allah bisa menjadi amal jariyah baginya. Di hari terakhir aku bertemu dengannya, dia berpesan agar aku selalu berbakti kepada kedua orang tua dan selalu mendoakannya. Semoga Mbah mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. Aamiin.

Sekian cerita tentang kakekku, pahlawan bagi kami anak dan cucunya.

3 thoughts on “Pahlawanku

  1. Salam hormat untuk Mbah Akung, Tyas.
    Koreksi :
    1. Pelajari penggunaan kalimat efektif. Seperti dalam pos ini banyak pengulangan kata aku dalam satu kalimat. Bisa lebih disederhanakan.
    2. berdiding (berdinding)
    3. ditangannya (di tangannya)
    4. kalau tidak dijemput haha (kalau tidak dijemput. Haha)
    5. Dari situ(Dari sana)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s