Dzul dan Galunggung

Sekitar tiga tahun yang lalu, aku mengajak rekan-rekan kerja ke kampung halaman. Rumahku terletak di sebelah selatan kabupaten Tasikmalaya. Dari obrolan kami sebelumnya di kantor, mereka penasaran ingin melihat Gunung Galunggung. Malam itu kami sampai di rumah dan esok hari berangkat menuju tempat wisata alam tersebut.

Setelah meniti anak tangga satu demi satu ke arah kawah, menikmati suasana pegunungan, turun dengan perasaan senang walau kaki pegal-pegal, berendam di kolam pemandian air panas dan makan bersama –atau kami menyebutnya botram- dengan bekal yang dibawa dari rumah. Ternyata momen tiga tahun silam itu terpatri di ingatan Dzul, salah satu rekanku yang ikut kala itu.

Di tengah pandemi yang menjangkiti seluruh daerah di muka Bumi dan work from home yang menjenuhkan, terbersitlah sebuah asa dari benaknya. Ia bilang ingin liburan lagi. Kangen main dan menghirup udara kampung yang bersih. Sebagai orang Betawi asli, tak ada gunung yang bisa ia daki. Yang ada hanya Gunung Sahari, tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari.

“Ajak gue ke rumah lo lagi, Mi,” rengeknya tempo hari.

Kubilang kalau pandemi masih belum berakhir maka rencana itu kecil kemungkinannya bisa terwujud. Dzul merengut tapi kemudian dia berceloteh, “Ya udah, kita tunggu aja. Si corona ini kapan sih kelarnya? Bikin ruwet segala urusan dan banyak rencana jadi berantakan.” Kutepuk pundaknya memintanya bersabar.

“Eh, sebelum nanti gue ke rumah lo lagi, ajarin bahasa sana, Mi. Kemarin gue angguk-angguk pala doang kalau ada orang yang ngajak ngomong bahasa Sunda. Gue juga taunya awewe gelis doang.”

“Geulis, Dzul. Bukan gelis,”

“Ya itulah.”

“Beneran mau belajar?”

“Yongkru, Mi. Ajarin gue bahasa yang simpel aja dulu.”

Wani piro?

“Goceng?”

“Kali 100 kalau mau. Haha.”

Anak tangga menuju kawah Galunggung

Selanjutnya aku memberitahu Dzul beberapa kata atau kalimat umum yang perlu ia ketahui agar bisa berkomunikasi dengan pribumii Sunda.

  1. Kalimat sapa sebelum bertanya yaitu ‘Punten’ artinya ‘permisi’. Jawabannya adalah ‘Mangga’ bukan berarti buah mangga ya.

Misal :

A : “Punten.”

B : “Mangga.”

A : “Jalan ka Galunggung ka palih mana nya?” (Jalan (arah) ke Galunggung ke sebelah mana ya?)

B : “Ujang, kantun lurus weh ti dieu, teras belok ka katuhu. Ti dinya tuturkeun weh jalan ageung.” (Ujang (adek), tinggal lurus saja dari sini lalu belok ke kanan. Dari sana ikuti saja jalan besar.”

###

  1. Kata ‘Punten’ juga bisa digunakan sebagai kata untuk permintaan maaf. Punten di sini merupakan kependekan dari Hapunten yang berarti maaf.

Misal suatu ketika si A tidak sengaja menyenggol B saat berbelanja. Sikutnya bersentuhan karena suasana toko oleh-oleh sedang penuh.

A : “Punten, Pa. Teu kahaja katoel nembe.” (Maaf, Pak. Tidak sengaja tersentuh barusan.”

B : “Teu sawios, Jang.” (Tidak apa-apa, Jang)

###

  1. Kalimat untuk berterima kasih yaitu ‘Hatur Nuhun’.

Misal si A memberikan uang parkiran lebih banyak daripada biasanya ke si B (tukang parkir). Tukang parkir itu senang dan ingin mengungkapkan rasa terima kasih.

B : “Hatur nuhun, A.” (Terima kasih, A)

A : “Sami-sami.” (Sama-sama)

Atau kita bisa manambahkan kata ‘pisan’ yang berarti ‘melebihkan (banyak)’. Seperti pada kalimat ‘Hatur nuhun pisan’ artinya ‘terima kasih banyak’. Atau kalau dalam bahasa chat, sering disingkat ‘hanupis’.

Misal si A sedang membeli ayam goreng di warung makan. Ibu penjual itu memberikan tambahan sepiring karedok (makanan khas Sunda berbahan sayuran mentah dengan bumbu kacang) sebagai bonus karena si A dan kawan-kawannya sudah membeli banyak makanan si Ibu itu.

B : “Ieu, Jang. Ku Ibu ditambihan karedok.” (ini, Jang. Ibu tambahin karedok)

A : “Hatur nuhun pisan, Bu.”

###

  1. Bertanya tentang harga suatu barang dengan menggunakan kalimat, ‘Sabaraha ieu pangaosna?’

Misal si A sedang membeli sebuah kaus di toko dan ia ingin menanyakan harganya ke si B (penjual)

A : “Kang, sabaraha ieu pangaosna?” (Kang, berapa ini harganya?)

Atau si A bisa bertanya lebih singkat.

A : “Sabarahaan ieu, Kang?” (Berapaan (nih harganya), Kang?”

Atau si A ingin bertanya lebih penjang dan detail. Dan kata ‘pangaos’ bisa juga diganti dengan kata ‘hargi’ yang berarti ‘harga’

A : “Kang, eta kaos biru nu aya gambar Galunggung, sabaraha hargina?” (Kang, itu kaus biru yang bergambar Galunggung berapa harganya?)

###

  1. Kalimat untuk menawar harga suatu barang gunakan kalimat ini, “Tiasa kirang teu, Kang/Teteh/Bu/Pa?”

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ada orang luar sedang berwisata ke suatu tempat, ada saja penjual yang memanfaatkan momen itu. ia menaikkan harga jualnya hanya karena si pembeli bukan orang lokal. Tapi jika si pembeli adalah dari suku yang sama atau minimal bisa berbahasa yang sama dengan si penjual, biasanya harga suatu barang bisa ia ‘tolerir’ dengan menurunkannya (dengan harga yang ia masih mendapatkan keuntungan).

Misal harga sebuah mainan wayang golek tokoh Cepot dijual seharga 150 ribu rupiah. Modal awal si penjual adalah 75 ribu rupiah. Mari kita cermati contoh percakapan di bawah ini.

A : “Bu, eta wayang golek si Cepot sabarahaan?” (Bu, itu wayang golek si Cepot berapa harganya?)

B : “Saratus lima puluh rebu, Jang.” (Seratus lima puluh ribu, Jang)

A : “Tiasa kirang teu, Bu?” (Boleh kurang gak, Bu?)

Teknik menawar itu yang paling baik adalah dengan menawar setengah harga dulu baru menaikkannya pelan-pelan. Bukan dari harga yang dekat dengan harga jual lalu turun.

B : “Tiasa. Wantunna sabaraha?” (Boleh. Beraninya (nawar) berapa?”

A : “Tujuh puluh lima rebu.” (Tujuh puluh lima ribu)

B : “Taekkeun deui, Jang. Eta masih modalna Ibu.” (Naikkan lagi, Jang. Itu harga modal Ibu.”

A : “Salapan puluh.” (Sembilan puluh)

B : “Saratus dua lima, Jang.” (Seratus dua lima, Jang)

A : “Jejegkeun weh Bu. Saratus.” (Genapin aja, Seratus)

Dan si Ibu penjual itu melepas harga sebuah wayang golek si Cepot (ukuran kecil) seharga seratus sibu rupiah. Tentang masalah tawar-menawar ini sifatnya untung-untungan. Tergantung kebaikan hati si penjual dan keberanian menawar si pembeli.

###

  1. Agar bisa menawar dengan baik, kamu juga harus mengetahui pengucapan angka atau bilangan dalam bahasa Sunda. Yaitu sebagai berikut :

1 = hiji, 2 = dua, 3 = tilu, 4 = opat, 5 = lima, 6 = genep, 7 = tujuh, 8 = dalapan, 9 = salapan, 10 = sapuluh, 11 = sabelas, 12 = dua belas, 13 = tilu belas, 14 = opat belas, 15 = lima belas, 16 = genep belas, 17 = tujuh belas,  18 = dalapan belas, 19 = salapan belas, 20 = dua puluh, 21 = dua puluh hiji, 22 = dua puluh dua, 34 = tilu puluh opat, 100 = saratus, 105 = saratus lima, 116 = saratus genep belas, 150 = saratus lima puluh, 1000 = sarebu, 2000 = dua rebu dan seterusnya.

###

  1. Biasanya pedagang di tempat wisata itu suka k.e.p.o atau penasaran tentang pembelinya. Entah itu murni karena ingin tahu atau sebatas basa-basi. Misal kamu sedang nongkrong di sebuah warung. Kalau di Galunggung, tempatnya itu di dekat anak tangga menuju kawah. Ada berjejer warung-warung di sana. Pertanyaan standar yang biasa ditanyakan yaitu, ‘baru ke sini’, ‘dari mana’ dan ‘sama siapa’.

Misal seperti di bawah ini

A : “Pa, meser kopina hiji.” (Pa, beli kopi satu)

Si bapak penjual membuat kopi lalu menyerahkan minuman itu

B : “Mangga, Jang.” (Silakan, Jang)

Si A menyeruput kopinya.

B : “Nembean ka dieu, A?” (Baru (berkunjung) ke sini, A?)

A : “Muhun, Pa. Leres.” (Ya, Pa. Benar)

B : “Ti palih mana kitu?” (Dari mana gitu?)

A : “Abi ti Jakarta, Pa.” (Saya dari Jakarta, Pa)

B : “Sareng saha ka dieu?” (Sama siapa ke sini?)

A : “Sareng kulawargi, Pa.” (Bersama keluarga, Pa)

###

Demikianlah 7 kalimat umum yang bisa kamu pelajari jika akan berkunjung ke tempat wisata di daerah Sunda. Silakan berikan pertanyaan lain seputar bahasa Sunda pada kolom komentar jika ada yang ingin kamu tanyakan.

Keterangan :

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Untuk mencapai puncak Galunggung, dibangun sebuah tangga yang memiliki 620 anak tangga. Di wilayah ini terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain objek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Objek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.(Wikipedia)

 

 

 

 

4 thoughts on “Dzul dan Galunggung

      1. yuk, mas. sampean pasti bisa. buat cerita fabel yang sederhana saja.

        barusan aku baca tulisanmu genre fiksi JEWERAN TUHAN. keren tuh. bisa jadi inspirasi untuk nulis fabel. mengambil inti cerita yang sama.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s