Tujuh Teman Terindah

In My Life

There are places I remember

All my life, though some have changed

Some forever, not for better

Some have gone and some remain

All these places had their moments

with lovers and friends, I still can recall

Some are dead and some are living

In my life, I’ve loved them all

-The Beatles-

Salah satu lagu The Beatles yang berkesan dalam hidup saya adalah In My Life. Lagu ini bercerita tentang tempat dan teman yang tersimpan dalam hati kita walaupun kita telah berpisah dengan semua itu. Seperti disebut dalam liriknya, di antara banyak tempat dan teman, tentu ada satu dua yang istimewa. Saya tidak hendak membedakan teman yang satu dengan yang lain. Namun, perjalanan hidup ini mengajarkan saya bahwa ada chemistry yang bermain dalam suatu hubungan pertemanan.

Saya punya seorang teman, sebut saja namanya Juli. Kami bersekolah di sekolah yang sama sejak TK sampai universitas. Bahkan rumah kami bertetangga. Namun, entah mengapa, saya dan Juli tidak pernah berbagi cerita dari hati ke hati. Di sisi lain, ketika baru jadi mahasiswa, saya bertemu teman baru yang sampai saat ini jadi teman asik dalam suka dan duka. Pastinya ini tidak terlepas dari sunnatullah, bukankah Allah yang menjadikan kita berpasang-pasangan? Nah, dalam Ketik7 ini saya akan mencoba menggambarkan tujuh teman tempat saya berbagi suka dan duka.

 Teman kuliah yang saya sebut di atas tadi punya sifat cuek, apa adanya. Tidak ragu dalam mengemukakan pendapat, dia menjadi sparing partner saya dalam berdiskusi macam-macam topik. Salah satu kesukaannya adalah traveling, membuat kami sering sama-sama menjelajah kampus, gunung, dan laut. Jelajah kami yang paling anyar adalah ke Taman Nasional Baluran tahun lalu. Sudah lama kami hanya bersua lewat media daring. Dia masih apa adanya, pekerja keras, selalu optimis, dan ceria.

Teman berikutnya yang ingin saya perkenalkan adalah Ibu Atria. Saya pernah menulis tentang dia di blog pribadi saya. Pembawaan supel dan ramah melengkapi wajah manisnya. Ibu Atria ini tempat curahan hati dan meminta tolong orang “sekampung” karena sulit mengatakan tidak. Sifatnya ini lama kelamaan luntur karena sering saya kritik, hehehe. Sekarang, dia sudah dapat berpikir dulu sebelum mengatakan iya. Berteman dengan ibu yang satu ini membuat saya belajar cara berempati dan menanggapi kesusahan orang lain secara humanis. Dia suka mengajak saya ke tempat-tempat makan berkelas, sebaliknya saya suka mengajak dia jajan di pinggiran. Langit dan bumi bertemu dalam persahabatan kami.

Teman baik saya tidak melulu cewek, ada juga yang cowok. Persahabatan kami terbentuk secara perlahan, dibangun oleh banyak peristiwa yang saya sendiri tidak menyadari. Awalnya, karena terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, kami sering berbagi strategi dan solusi. Teman saya ini betawi tulen. Sepertinya orang Betawi kalau bicara selalu nyablak (ini yang saya tangkap sewaktu menonton Si Doel Anak Betawi). Tetapi teman saya ini bicaranya selalu hati-hati. Dia rada-rada idealis, bersedia kerja di lapangan asal sesuai dengan passion nya. Dia juga sangat pemurah. Saya selalu dapat mengandalkan dia bila ada teman yang perlu bantuan, terutama bantuan keuangan.

Teman yang berikut adalah kolega saya. Umurnya lebih tua empat tahun. Namanya Andi. Orang kadang tertukar menyebut nama kami karena bunyinya mirip. Andi dan Dian, kalau diulang-ulang memang jadi tertukar. LOL. Kolega saya ini orangnya tegas, bahkan terkesan galak. Saya dan kolega lain pun, yang sudah lama berteman, masih suka kaget kalau menerima kata-katanya yang tidak dapat ditawar. Andi keturunan Bugis, tapi lahir dan besar di Jambi. Karena suami saya juga Bugis dan kota kelahirannya bertetangga dengan keluarga Andi, sejak awal dia sudah curiga bahwa kami bersaudara. Teka-teki itu terjawab ketika kami mengikuti seminar di Brunei Darussalam dan bertemu dengan keluarga kakak Andi yang sudah beberapa tahun bekerja dan menetap di sana. Percakapan pertama suami saya dengan kakak ipar Andi langsung membuka simpul kekerabatan kami. Lucunya, saya dan Andi langsung berpelukan dan berseru, “Ternyata benar, kita keluarga!” Siapa sangka, saya malah menemukan keluarga baru di negeri orang. Sungguh, hanya Allah yang mampu menyambung tali silaturahmi kita. Omong-omong, Andi ini perempuan, ya.

Rasanya tidak benar bila saya tidak memasukkan suami saya di sini. Hanya, saya tidak perlu menulis panjang-panjang tentang dia. Orang bilang wajahnya ganteng. Orang bilang dia bisa diandalkan. Yang jelas sampai saat ini dialah yang mau menerima semua kekurangan saya dan mencoba mengerti. Saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang sederhana, tidak banyak menuntut. Tetapi, tentu saja itu SALAH BESAR. Ah, andaikan suami saya tidak mengasihi saya pastilah dia tunjukkan daftar tuntutan saya melebihi tinggi Tugu Monas.

Orang yang menjadi pamungkas pos ini adalah Ibu saya. Ibu adalah ibu dan teman sejati saya. Ibu saya tipe ibu rumah tangga dengan spesialisasi perawat gigi. Keahliannya sebagai ibu rumah tangga segudang: memasak, menjahit, mengatur keuangan, membacakan cerita pengantar tidur siang, menjaga rumah tetap apik, dan masih banyak lagi. Sewaktu berganti profesi menjadi asisten dokter gigi dia terampil membersihkan karang gigi, termasuk menambal gigi yang bolong. Dengan segudang pengalaman, ibu saya adalah teman yang sangat berharga yang tidak ada duanya.

2 thoughts on “Tujuh Teman Terindah

Comments are closed.