Salaka

Sudah setahun kamu hilang, tapi aku masih ingat bentuk awan pagi itu.Kita berdua di depan rumahmu, kamu dengan tas gunung di punggung.Aku masih mencoba untuk menahan kamu pergi, kamu malah membahas awan.

“Apa yang bisa kau katakan tentang awan di atas langit biru itu, Dik?”

“Biasa saja. Aku sedang tak ingin mengatakan apa-apa, kecuali memintamu menunda keberangkatanmu mendaki gunung Salak. Kamu baru saja pulang dan fisikmu perlu istirahat terlebih dahulu.”

“Aku merasa sehat dan bugar, Dik. Rasa capekku sudah bisa kuatasi dengan jiwa petualanganku yang besar. Rintangan alam adalah darahku. Apalagi pagi ini langit begitu cerah. Awan tipis dan lembut seperti sutra, dan ia telah berhasil memancarkan kesejukan pada bumi karena sinar matahari disaringnya sebelum ia menghangatkan kulit kita.”

“Tapi kali ini firasatku mengatakan sebaliknya, Bang.”

“Ah, jangan kau berpikir yang tidak-tidak. Kegelisahanmu tidak beralasan, itu lebih karena kamu terlampau memikirkan hal-hal negatif.”

“Bang, awan di langit tak selalu bersahabat dengan manusia. Ini bulan November, bulan di mana hujan mulai turun dengan curah yang tinggi. Awan pagi ini boleh tipis, tetapi sebentar lagi mereka akan memanggil teman-temannya dan bergerombol di awang-awang. Bila sudah jenuh, mereka akan menjadi air dan tak kuat lagi bertahan di langit walau saling bergandengan. Lalu mereka akan jatuh menjadi titik-titik air bernama hujan. Mereka akan dibawa angin kencang dan jika curah hujannya tinggi, banjir seringkali membawa bencana di kota Bogor dan Jakarta. Dan di gunung Salak, tentu tingkat kesulitan pendakianmu akan semakin tinggi dan membahayakanmu.”

“Dik, tak usah dirimu terlampau mengkhawatirkan Abang. Abang sudah menakhlukkan banyak gunung selama 20 tahun. Bagi Abang tantangan itu adalah sahabat yang membuat kita kuat. Relakan diriku sekali ini saja, menakhlukkan gunung Salak dari sisi yang belum pernah kutakhlukkan.”

“Tetapi, Bang. Gunung Salak dikenal menyimpan aura mistis. Aku sudah mendengar banyak cerita tentang gunung itu. Tak ingatkah dirimu dengan tragedi pesawat Sukhoi enam tahun yang lalu? Pesawat canggih yang dibeli negara dan sedang dalam ujicoba harus rela menjadi bangkai di sana. Menabrak dinding seolah sang pilot tertutup matanya.”

“Bagi Abang ajal itu soal takdir, Dik. Ajal bisa menjemput di mana saja. Dan penumpang Sukhoi itu juga telah dijemput takdir. Manusia bisa apa?”

“Aku tahu itu, Bang. Tapi manusia juga diberi kehendak untuk berusaha, Bang. Apa salahnya kita menjaga diri dari bahaya. Apakah menjemput bahaya itu yang dinamakan menjemput takdir? Aku rasa tidak. Kita diberi ruang ikhtiar oleh Tuhan untuk itu.”

Pada akhirnya aku pun tak kuasa menahan Abang untuk tidak pergi. Sehari, seminggu, sebulan dan setahun sudah berlalu. Percakapan di teras itu ternyata menjadi percakapan terakhir, karena sampai saat ini tak ada yang bisa menemukan Abang dalam keadaan hidup atau sudah menjadi jasad. Tim SAR telah menelusuri setiap jengkal tanah dan tebing yang bisa dilalui. Tak ada tanda-tanda atau jejak Abang ditemukan di sana. Atau jasadnya sekalipun dalam keadaan utuh ataupun serpihan-serpihan.

Hingga kini gunung Salak masih menjadi misteri atas kehidupan Abang. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin hanya kematian yang bisa menasehatinya. Sayang sekali, kukira semuanya sudah terlambat.

One thought on “Salaka

Comments are closed.