Salah Mantra

Hari itu awalnya biasa-biasa saja. Semua orang pada umumnya membenci pagi-pagi hari Senin, tapi aku tidak. Bukan Senin saja, semua hari aku suka, asal aku bisa keluar dari rumah. Namun, pada hari itu suatu tragedi terjadi.

Ketika aku menikmati sarapan saat itu, Ibu terlihat sedang memaki mentari pagi. Ibarat seorang majikan kepada anak buahnya yang tidak kompeten. Layaknya seorang istri yang memergoki suaminya yang main gila. Walau sebenarnya, alasan Ibu tidak sepelik itu. Inilah sebabnya aku tidak pernah betah berada di rumah. Adalah perilaku Ibu yang selalu berlebihan jika sedang menanggapi sesuatu.

Senin itu harusnya Ibu pergi ke sekolah. Ada sebuah pertemuan orang tua siswa mengenai tahun ajaran yang baru. Tapi pertemuan itu tidak dapat terlaksana akibat dari efek sebuah ritual khusus. Ritual yang rencana awalnya adalah membuat semua orang di Bumi melupakan hari. Semua orang akan merasa bahwa hari itu bukanlah hari Senin, melainkan hari Selasa. Jadi jadwal pertemuan tersebut, anggap saja sudah terlaksana.

Aku sadar kalau Ibu sangat tidak suka jika harus bertemu dengan orang tua siswa lainnya. Ia bukan seorang wiraswasta hebat, influencer atau juga pegawai negeri sipil seperti ibu dari teman-temanku yang lain. Ia hanyalah seorang penyihir yang membuka jasa konsultasi alias dukun.

Menurutku, Ibu sedang merasa iri saja. Ia juga benci karena tidak dapat mengendalikan takdirnya sendiri. Penyihir adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh faktor keturunan. Ibu pun terlihat sudah begitu frustasi karena terpaksa menjalani sepanjang hidupnya sebagai penyihir. Dan pada nantinya, aku pun akan menjadi seorang penyihir seperti dirinya.

Aku sempat siapkan secangkir teh hijau untuknya di dapur. Aku mengerti benar bahwa Ibu sudah melakukan ritual tersebut sejak dini hari. Mungkin saja ia telah meracik sari pati ekor sigung betina, taring kiri seekor bekantan remaja, pucuk daun nangka albino yang sudah diawetkan lama, beberapa tetes natrium hidroksida atau berbagai senyawa kimia lainnya. Lalu semua digodok dalam sebuah periuk sampai menguap tak bersisa.

Teh hijau itu untuk memulihkan stamina Ibu yang sudah pasti telah lelah merapal mantra, ratusan kali banyaknya. Aku memang merasa bahwa ritual tersebut tidak perlu untuk dilakukan, meski begitu aku tetap harus menjaga kesehatan Ibu yang sudah sejak lama diganggu hipertensi.

Baru beberapa langkah aku berjalan meninggalkan dapur, Ibu ternyata sudah menghampiriku dengan ekspresi yang begitu ketakutan. Ia memintaku untuk segera menghubungi NASA, LAPAN dan badan-badan sejenis lainnya. Kemudian dijelaskannya dengan singkat bahwa ia telah keliru merapal mantra. Saking paniknya, Ibu mendadak tak sadarkan diri.

Aku berlari keluar secepat mungkin untuk benar-benar memastikan. Kuperhatikan matahari, awan dan ke arah mana angin bertiup. Benar saja, ketiganya tampak begitu tidak kompak berirama. Matahari dan awan bergerak dengan tempo yang sangat berbeda, sedangkan angin tiba-tiba hilang entah ke mana.

Bumi telah mulai bereaksi untuk segera berhenti berotasi. Maka tak lama, semua benda di permukaan Bumi akan terhempas ke timur dengan kecepatan 100 mil/jam. Akan terjadi gelombang tsunami, letusan gunung berapi dan badai hebat di segala penjuru dunia. Bukan hanya itu, planet ini akan menjadi bentuk bola yang sempurna. Bumi tidak akan berbentuk elips lagi oleh sebab ketiadaan gaya sentrifugalnya.

Aku jadi kelabakan sendiri. Aku sama sekali tidak pernah memperhatikan ketika Ibu dan Bibi mengajarkan ilmu sihir mereka. Kupikir, aku masih terlalu kecil untuk menjadi seorang penyihir. Nenek ternyata benar, tidak ada waktu yang terlalu dini untuk mempelajari sebuah ilmu.

Sebuah ritual pada teorinya dapat dibatalkan oleh mereka yang lebih sakti atau juga oleh penyihir yang berhubungan darah secara langsung dengan si perapal mantra. Namun, sudah tidak ada waktu untuk menghubungi Deduskha Raspustin, Miss Hermione Granger, Eyang Sinto Gendeng dan para penyihir hebat lainnya, karena hanya dalam beberapa detik kemudian dampaknya sudah segera terasa.

Akulah yang harusnya dapat menjadi solusi dari tragedi besar ini. Namun sial, saat itu aku tidak tahu bagaimana caranya.

3 thoughts on “Salah Mantra

    1. Justru kalau menurut saya, Ibu Sondang akan sangat mudah untuk menulis fiksi fantasi.
      Moms, kan terampil menulis pngalaman pribadi. Tinggal modifikasikan saja itu dengan berbagai informasi yang didapat dari film dan buku-buku bertema fantasi.
      Maka hasilnya akan jadi sebuah cerita imajinatif namun tetap punya sudut logika yang kuat.
      Ciamik pasti Moms.

      Liked by 1 person

Comments are closed.