Cerita Tragedi 9/11

Hari itu awalnya biasa-biasa saja. Semua orang pada umumnya membenci pagi-pagi hari Senin, tapi aku tidak. Bukan Senin saja, semua hari aku suka, asal aku bisa keluar dari rumah. Namun, pada hari itu suatu tragedi terjadi.

Tragedi yang begitu menyakitkan dan mengejutkan bagi masyarakat kota New York dan juga bagiku, tragedi yang merenggut nyawa hampir seluruh keluargaku dan tragedi yang akan dikenang dunia.

Hari itu, tanggal 11 September tahun 2001, Ayah, ibu dan anak-istriku, pergi ke Manhattan untuk sekedar berekreasi, menghabiskan waktu bersama di tengah keramaian dan kesibukan orang-orang.

Aku tidak ikut dengan mereka, karena memiliki urusan lain, yaitu bertemu kolega bisnis di Boston. Ini bukan keinginanku, yang aku inginkan sebenarnya adalah menghabiskan waktu bersama keluargaku dan ikut dengan mereka.

Namun aku tetap senang ketika mereka juga bahagia saat itu. Sampai berita mengerikan itu muncul di televisi-oh tidak, di semua media berita…

Berita yang membuat masyarakat negara ini terutama kota New York, terkejut bukan main, ketakutan sekaligus membuat tangisan yang teramat pilu ribuan pasang mata.

Asap tebal mengepul setelah ledakan yang disengaja terjadi, menghancurkan ketujuh menara kembar gedung World Trade Center dan sekitarnya. Membunuh dan melukai orang yang berada di sana. Tak terbayangkan betapa mengerikannya saat itu.

Isak tangis, jeritan, teriakan ketakutan dan sakaratul maut bercampur menjadi kekacauan luar biasa. Seketika aku teringat pada empat orang keluargaku yang sedang menghabiskan waktu di Manhattan.

Kusambar telepon, dan menghubungi Jessica, istriku. Tidak ada jawaban. Di luar jangkauan. Lalu kucoba menghubungi Dalton, ayahku, tetap sama, tidak ada respon. Terakhir kuhubungi Ivanka, ibuku, namun tetap sama. Tidak ada jawaban, dan aku, tidak mungkin menghubungi Noah, puteraku yang baru berusia lima tahun. Dia bahkan tidak mengerti dan tidak memegang peralatan komunikasi.

Aku panik bukan kepalang, sama seperti orang di sekitar. Mereka pun berusaha mencoba menghubungi keluarga dan orang-orang terkasih mereka yang berada di New York City. Tidak, aku hampir putus asa, meskipun berkali-kali mencoba menenangkan diri.

Cara terakhir adalah menghubungi kerabat dan yang sedang tidak berada di lokasi ledakan mengerikan, untuk menanyakan keadaan sekaligus meminta tolong untuk menghubungi empat orang keluargaku. Aku tidak bisa langsung pulang ke sana, karena akses transportasi terganggu akibat kejadian mengerikan tersebut.

Demi Tuhan, aku hampir tidak bisa menenangkan diri. Kecemasan begitu hebat menyerang. Dan kulihat orang-orang di sekitar juga tak kalah paniknya.

Bagaimana nasib Jessica, Noah, ayah dan ibuku? Apa mereka akan selamat dan baik-baik saja? Apa mereka akan pulang dan berkumpul bersamaku lagi? Kuharap begitu. Kuharap Tuhan masih mengizinkanku menghabiskan waktu dengan mereka, kumohon…

Dan dua hari kemudian adalah jawabannya. Aku segera pulang demi melihat kondisi keluarga.

Sayang sekali, dugaan burukku sepertinya benar. Mereka belum ditemukan, sementara pemerintah terus menurunkan aparat negara, biro investigasi, tim penyelidik dan antek-anteknya untuk mencari para korban yang hilang bersama ledakan biadab hari itu.

Tidak ada tanda-ada empat orang itu sudah ditemukan, meskipun aku menunggu dalam kecemasan yang luar biasa. Lalu tiga hari setelah itu, semua terungkap, rasa penasaranku terjawab. Dan jawabannya sungguh merobek jantungku.

Sejak hari itu, aku benci hari-hari di hidupku, aku benci kota kelahiranku. Mimpi burukku terjadi di sana, mengerikan. Aku muak, dan lebih memilih pindah, menjauh dari kota itu.

2 thoughts on “Cerita Tragedi 9/11

Comments are closed.