Bidadari

Sudah setahun kamu hilang, tapi aku masih ingat bentuk awan pagi itu. Kita berdua di depan rumahmu, kamu dengan tas gunung di punggung. Aku masih mencoba setengah mati untuk menahan kamu pergi, kamu malah membahas awan.

“Awan yang indah ya? Lihat, ada bentuk kereta kencana. Aku selalu terpesona dengan lukisan awan. Aku sering berkhayal berada di antara awan-awan itu. Terbang melayang, seperti dalam cerita negeri khayangan.”

Ah, kamu itu. Terlalu banyak membaca dongeng, membuatmu suka mengatakan yang tak jelas.”

“Apa salahnya berkhayal. Menghibur diri lho, Jaka.”

“Ya, ya, ya … berkhayal boleh, berimajinasi boleh. Semua boleh koq. Tapi kali ini aku serius meminta kamu jangan pergi. Aku mohon deh. Kalau kamu bilang ini melarang atau apa, terserah. Please, jangan pergi.” Aku memasang wajah memelas, tanda memang sungguh-sungguh meminta kamu untuk tinggal.

“Jaka, kamu kenapa sih? Ini bukan pertama kali aku pergi bukan? Ayo dong, kenapa kamu tiba-tiba posesif begitu? Medan yang akan kami daki juga bukan untuk pertama kali koq. Sudah 3 kali aku ke sana. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cukup doakan aku dan pendakian ini berjalan lancar. Dan aku akan pulang tepat waktu, merayakan anniversary kita yang pertama. Oke?” Sambil berbicara, mata indah penuh binar itu menatapku. Mata yang selalu membuatku merasa nyaman dan bahagia, apalagi kalau sudah penuh binar begitu, gemas rasanya.

Biasanya aku akan selalu mengiyakan apa saja yang kamu katakan bila binar indah itu terpancar.
Tapi aku juga tidak semudah itu menyerah. Hari yang lain, apa saja yang kamu minta pasti aku kabulkan. Tapi bukan untuk kali ini.

“Dinda, aku mohon jangan pergi. Perasaanku tak nyaman. Tadi malam aku bermimpi tentangmu. Please ya, kamu ikut rombongan berikutnya saja. Please, …” Tanpa malu, aku menyatukan kedua tangan, melakukan sikap memohon kepadamu.

Tapi apapun yang aku katakan tidak menggoyahkan niatmu. Ah, kamu memang begitu. Aku juga tak heran karena aku sudah mengenalmu sedari kecil. Tetangga yang manis, begitu aku memanggilmu sedari kita masih bocah. Manis tapi tangguh, buktinya sewaktu di bangku sekolah menengah kamu aktif dalam kegiatan remaja pecinta alam. Begitu memasuki bangku kuliah, kegiatan itu semakin meningkat. Entah sudah berapa gunung yang kamu daki. Mengenai ini, aku tetap tak habis pikir. Kamu melakukan kegiatan yang jauh dari feminim tanpa menghilangkan sikap feminim dirimu. Orang yang tidak tahu pasti tidak akan percaya kalau kamu sudah bolak-balik mendaki gunung. Sama seperti aku yang selalu mengagumi indahmu dan mengatakan bahwa kamu adalah bidadari tak bersayap yang dikirim Tuhan untukku. Aku beruntung, kamu memilihku, menerima rasa yang sudah aku pendam sedari kecil. Walaupun kadang aku merasa kecil hati karena tidak bisa mendampingi dirimu dalam pendakian. Aku memang bukan lelaki gagah sang penakluk pegunungan tapi hanya seorang lelaki kutu buku yang berhasil menaklukkan hatimu.

Tanpa sadar, aku tersenyum mengingat kenangan tentang kita.
Tak sengaja aku menatap langit dan aku melihat kereta kencana itu. Kereta kencana yang kamu kagumi di hari terakhir pertemuan kita.

Aku menajamkan pandangan seolah tak percaya. Ya, itu memang kamu. Kamu di atas kereta kencana, berpakaian putih indah laksana bidadari. Pakaian yang sama dengan yang aku lihat dalam mimpiku di malam sebelum kamu pergi keesokan harinya. Kamu melambaikan tangan, tanpa sadar aku membalas. Sampai akhirnya kereta kencana awan itu lenyap dari pandanganku.

***
Aku tertawa sambil menepuk jidat.
Ah, kenangan tentangmu membuatku berkhayal tak jelas. Kulangkahkan kaki ke beranda, waktunya membaca surat kabar pagi ini. Siapa tahu ada ide yang bisa menjadi inspirasi tulisanku yang baru. Dan aku tersentak melihat gambar itu, tas gunung yang sangat kukenal. Sebuah gambar yang melengkapi berita bahwa beberapa orang pendaki menemukan jenazah seorang pendaki yang dikabarkan hilang dalam pendakian tahun lalu.

Gassmom, 141020