Surat untuk Rahma

Hai Rahma Frida, apa kabar?

Sedang apa sekarang?
Hmm, pertanyaan bodoh ya? Kalau kamu bisa menjawabnya, pastilah jawabannya sedang membaca surat ini.

Sorry, aku menuliskan surat ini untukmu. Sebenarnya ini adalah sebuah challenge menulis selama 10 hari dari komunitas yang kita ikuti bersama yaitu Ikatan Kata. Jadi aku mengikuti challenge tersebut dan hari ini sudah memasuki hari ke-7. Tema hari ini adalah menulis surat kepada salah satu member Ikatan Kata. Bukan sekedar menulis surat, tapi ada tambahan yaitu menceritakan keahlian yang dimiliki kepada si penerima surat.

Awalnya aku bingung mau menulis kepada siapa. Sempat terpikir untuk menulis kepada Rifihana karena aku tahu dia memiliki hobi korespondensi. Sempat juga ingin menulis kepada Rakha karena suka lihat tulisannya yang selalu tanpa typo dengan ide-ide yang tak terpikirkan olehku.
Tapi akhirnya aku memutuskan menulis surat untukmu saja. Alasannya sederhana, tapi sepertinya perlu aku beritahu juga di surat ini. Hal ini karena di antara semua member, menurutku dirimu yang paling nyata bagiku? What, he he he

Semua nyata sih sebenarnya, tapi karena status WhatsApp darimu sering melintas di berandaku, jadi aku merasa lebih tahu tentangmu saja dibandingkan yang lain. Waduh, maafkanlah aku yang semakin tidak jelas. Ini memang salah satu kekuranganku, yang suka gaje istilah anak sekarang alias nggak jelas.

Jadi, aku itu sering kepoin status dan kegiatanmu yang begitu aktif dalam organisasi Desa Gilang Harjo. Nah, aku sampai hapal khan namanya? Melihat statusmu, aku seakan melihat Indonesia sejati. Karena hal-hal yang sering kamu dokumentasikan di desa itu adalah gambaran desa yang sering kulihat di buku sewaktu kanak-kanak dulu.

Lewat status itu, aku juga tahu kegiatan organisasi karang taruna di sana. Aku kagum melihat anak-anak muda yang begitu sungguh-sungguh memberikan jiwa raga untuk kemajuan desa. Aku salut melihat orang-orang yang berkecimpung dan serius dalam organisasi. Rasanya mereka yang gemar berada dalam suatu organisasi itu adalah orang yang hebat. Sementara aku, adalah orang yang tidak pernah terlibat dalam organisasi. Ada memang terdaftar dalam organisasi profesi, tapi itu hanya sekedar terdaftar karena memang begitulah persyaratannya.

Kamu pasti akan pusing membaca surat ini. Keanehanku terpancar jelas di sini. Aneh, karena tidak pernah terlibat organisasi tapi kagum melihat orang yang gemar berorganisasi. Kalau memang kagum, kenapa tidak masuk organisasi?
Nah, itu dia. Setiap orang mempunyai kepribadian masing-masing. Ada banyak hal yang tidak bisa dipaksakan. Aku termasuk salah satu di dalamnya. Aku tidak bisa mengatakan ini kekurangan. Meskipun tidak bisa juga mengatakan kelebihan.

Sedari kecil, aku adalah orang yang senang berdiam diri di rumah. Aku senang dengan suasana sunyi. Menyibukkan diri dengan membaca buku demi buku yang aku senangi. Walaupun terkadang buku yang aku baca tidak memberi manfaat. Aku senang mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan suka dengan pekerjaanku. Aku juga menemukan bahwa aku bukan orang yang enak diajak kerjasama karena cenderung tidak yakin dengan hasil pekerjaan orang lain. Dengan kata lain, aku seorang introvert yang cenderung egois. Aku juga tidak tertarik masuk organisasi karena aku tidak pintar berbasa-basi dan berdiskusi. Aku juga tidak suka berlelah-lelah mengurus segala birokrasi. Itulah yang membuat aku tidak pernah tertarik. Tapi dibalik tidak tertarik itu, sebenarnya aku menyimpan kagum untuk mereka yang gemar berorganisasi. Mereka hebat, mau mengerjakan itu semua untuk kepentingan bersama. Sementara aku tidak pernah bisa untuk menjadi seperti itu.

Nah, lebih kurang begitulah kekagumanku melihat segala aktifitas di desa kalian.

Eh, mungkin dirimu akan jenuh membaca surat ini. Maafkan karena isi surat juga sudah ngelantur kemana-mana.

Padahal, rule dalam challenge tersebut adalah menceritakan keahlian yang kumiliki kepada penerima surat. Eh, aku malah melenceng memberitahu aib diri yang egois.

Tapi, rule harus tetap diikuti ya? Saatnya aku bercerita tentang keahlian yang aku miliki. Nah, di bagian ini aku malah bingung. Tak tahu menulis apa. Di rule disebutkan: ” ceritakan tentang keahlian yang kamu miliki selain menulis.”
Katanya selain menulis, padahal menulis pun aku tak ahli. Semakin bingung khan?

Keahlian, apa sih keahlianku? Karena menurutku, aku tidak memiliki keahlian yang bisa ditonjolkan. Semua biasa saja. Kalau dirimu pernah dengar lagu dangdut dengan judul “sedang-sedang saja” … Nah, itulah aku.

Semua yang ada pada diriku masuk kategori sedang-sedang saja.
Menulis juga tidak ahli, memasak juga tidak ahli, membuat kerajinan juga tidak ahli, pokoknya semua sedang-sedang saja.
Dulu aku berpikir kalau aku itu mempunyai keahlian mendengar. Aku siap mendengarkan cerita orang dan memastikan kalau cerita itu tidak tersebar kemana-mana. Tapi seiring perkembangan zaman, eh keyakinan itu harus kubuang jauh-jauh. Aku juga manusia biasa, kadang tergoda dengan gosip segala macam. Dan secara logika itu juga bukan keahlian ya, tapi kelebihan.

Berbelit-belit ya aku? Jadi, apa nih keahlianku? Aku bingung nih. Tapi daripada surat ini tidak selesai karena aku bingung, baiklah aku putuskan saja apa keahlianku.
Keahlianku yang benar-benar ahli tidak ada. Aku bisa melakukan banyak hal tapi sebatas bisa dan harus tetap belajar. Yang pasti, aku berusaha tetap melakukan yang terbaik semampuku.

Sepertinya itu saja deh. Rasanya sudah terlalu panjang isi surat ini. Jadi daripada kamu nanti semakin jenuh (atau bahkan muak?), baiknya aku akhiri sampai di sini.

Terima kasih aku ucapkan kalau kamu berkenan membaca surat ini sampai selesai. Kalau misalnya tidak dibaca, aku juga tetap berterima kasih karena namamu muncul menjadi inspirasi tulisan ini.

Eh, kalau zaman aku remaja dulu, ada lho pantun untuk surat menyurat.

Begini bunyinya:

Empat kali empat
Sama dengan enambelas
Sempat tidak sempat
Jangan lupa dibalas

Tapi aku tidak mau merepotkan dengan mengharap balasan surat ini. Jadi di sini aku tuliskan saja pantun gaje ala Gassmom.

Empat kali empat
Sama dengan enambelas
Aku harap kamu jangan merepet
Melihat Gassmom yang nggak jelas.

Salam hangat dariku.

Gassmom,131020

7 thoughts on “Surat untuk Rahma

  1. Mommyyy… ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
    Pertama, terima kasih karena surat ini ditujukan kepadaku dan aku ngga nyangka dengan apa yang mommy tulis di paragraf-paragraf awal. Aku pun sempet bingung dan mengartikan “diriku yang terlihat real” bagi orang lain itu seperti apa hahaha ๐Ÿ˜‚
    Kedua, aku baca surat ini sampai akhir loh. Karena menurutku bahasanya tidak bikin jenuh sama sekali, ngga datar juga. Aku malah sempet ngakak berulang kali tuh.
    Ketiga, menurutku mommy itu punya keahlian dalam bikin kristik (kalo tidak salah itu namanya). Aku pernah lihat itu di pos IG/WA dan itu keren banget. ๐Ÿ˜ Ngga semua orang bisa bikin itu dan mau mempelajarinya dari nol.

    Jadi, maaf kalau komentar ini terlalu panjang. Harusnya aku buat surat balasan ya biar lebih soswit, tapi anggap saja deh ini balasan dariku ๐Ÿ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Wah, rupanya sudah dibalas. Jadi malu he he he
      Soal real,,, pokoknya real gitu deh he he he
      Thanks ya sudah dibaca.
      Soal kristik, menurutku itu bukan keahlian. Semua juga pasti bisa, karena memang gampang. Hanya diperlukan kesabaran dan ketekunan saja.

      Liked by 1 person

Comments are closed.