Surat Buat Ito

Depok, 13 Oktober 2020

Hai, Ito. Apa kabar? Semoga Ito dan keluarga senantiasa baik-baik saja dan selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Amin.

Mungkin ini momen yang langka ya, Ito? Momen di mana aku menyuratimu walaupun kita hanya bersahabat lewat dunia maya. Kita belum pernah ketemu. Kita dipertemukan oleh sebuah grup menulis bernama Ikatan Kata di mana saat ini aku sedang memenuhi tugas challenge menulis di hari ke-7.

Jujur aku bingung dan harus menulis apa, Ito. Dan siapa yang harus kupilih untuk kusurati. Karena hanya satu orang yang boleh disurati, maka kupilih saja satu di antara teman-teman. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Ito. Bukan karena aku lebih memperhatikan Ito dibanding yang lain. Melainkan semata-mata karena harus memilih. Mudah-mudahan di waktu yang lain ada kesempatan untuk menulis surat kepada teman-teman yang lain.

Pernah aku bertanya pada Ito, saat Ito baru bergabung di Ikatan Kata dulu. Enaknya manggil apa ya? Ibu, Mbak, atau Ito? Dan Ito menjawab, bagaimana enaknya Bapak saja. Hehehe. Ya sudah, biar terasa akrab dan dekat aku panggil saja: Ito. Padahal aslinya itu panggilan untuk orang-orang yang punya hubungan kekerabatan cukup dekat ya?

Oh ya, Ito. Omong-omong, tema suratku untukmu adalah aku harus menceritakan keahlian yang kumiliki padamu selain menulis. Padahal menulis juga bukan keahlianku. Artinya aku belum merasa ahli dalam menulis. Keahlian lain pun aku juga tidak tahu, ahli apa aku ini. Ahli nujum juga enggak. 😀 Nanti kalau aku mengaku ahli dan ternyata buat orang lain gak ahli-ahli amat kan aku malu.

Mungkin lebih tepat kesukaan saja barangkali, ya? Karena kesukaan itu belum tentu ahli. Kalau ahli biasanya ada pengakuan dari masyarakat atau memiliki sertifikat untuk keahlian tertentu.

Bicara soal kesukaan, aku tuh suka masak sendiri di rumah Ito. Tidak sering sih, hanya ketika ada waktu luang saja dan di rumah tidak ada makanan yang bisa langsung dimakan. Atau ketika lidah ini ingin makan sesuatu yang lain, aku biasanya suka membuka-buka kulkas dan melihat-lihat di dalamnya apakah ada yang bisa diolah.

Lebih seringnya sih aku memasak nasi goreng, karena menurutku itu yang paling mudah. Aku belum bisa memasak masakan yang pelik-pelik seperti rendang, kare, tomyam dan segala masakan yang bumbunya rumit.

Jadi biasanya kalau lagi santai di rumah, terutama hari libur aku lebih suka masak sarapan. Nasi goreng itu masakan favoritku. Selain suka yang karena kadang melihat nasi di magic jar masih banyak dan anak-anak kurang bersemangat makan nasi kemarin di pagi harinya.

Istri biasanya langsung nodong aku. “Ayah, nasinya bisa nih digoreng.” Itu artinya dia minta aku yang menggoreng nasi. Istri pasti suka, dan anak-anakku juga suka dengan nasi goreng bikinan ayahnya.

Sebenarnya racikan bumbu nasi goreng yang aku buat sangat sederhana. Hanya saja karena disertakan bumbu cinta, jadi mungkin itu yang membuat rasanya berbeda. Hehehe, becanda ya, Ito.

Nasi yang aku goreng, itu bumbunnya simple banget. Cabe rawit, bawang merah, bawang putih, kecap, garam dan saus tiram. Cara masaknya juga simple, aku iris cabe dan bawangnya untuk ditumis. Bahan-bahan lain selain nasi, aku siapkan telur, daun pokcay, udang, bakso, sosis, suwiran ayam kalau ada. Salah satunya biasanya ada. Semua bahan itu aku masukkan secara berurutan, menumis dulu, kemudian telur aku pecahkan sehing bercampur dengan tumisan, lalu nasi, dan berikutnya campuran bahan-bahan lainnya. Setelah cukup matang, aku taburkan garam, kecap dan saus tiram.

Kira-kira 10 sampai dengan 15 menit nasi biasanya sudah matang. Aku sudah menyiapkan piring-piring untuk semua anggota keluarga, istri dan dua anakku, si sulung dan si bungsu. Kalau anakku yang kuliah di Lampung sedang pulang lebih meriah lagi pagi itu.

Dalam menyajikan nasi goreng, aku tidak langsung memasukkannya di atas piring. Tetapi aku cetak dulu di mangkuk ala chef, sehingga tertata di piring dengan cantik. Lalu aku hias dengan mentimun dan tomat. Kadang-kadang pakai irisan nanas. Kadang juga lengkap dengan kerupuk. Tergantung seadanya bahan pada saat itu.

Saat nasi goreng kusajikan dengan cara seperti itu, ternyata cukup membangkitkan selera makan. Dari nasi kemarin yang tidak menarik, setelah disulap menjadi nasi goreng bumbu cinta, maka istri dan anak-anak pun sarapan dengan penuh suka cita. Nasi tidak terbuang sia-sia. Dan sesuai anjuran nenek moyang dulu, hemat pangkal kaya. Hahaha.

Itulah sekilas cerita tentang kesukaanku, entah bisa disebut keahlian sesuai yang diminta tema challenge menulis hari ke-7 ini atau tidak. Semoga saja bisa. Entah, apakah cerita ini bermanfaat buat Ito atau tidak aku juga tidak tahu. Kalau toh tidak bermanfaat, mungkin Ito bisa pura-pura bilang bermanfaat ya. 😀

Akhir kata, aku sudahi suratku ini ya, Ito. Salam buat keluarga, semoga tali persahabatan kita tetap terjalin erat.

Mauliate.
masHP

2 thoughts on “Surat Buat Ito

  1. Terima kasih sudah menujukan suratnya untuk aku Pak. Bermanfaat koq Pak. Aku jadi ingin buat nasi goreng pakai daun pakcoy, karena selama ini belum pernah kalau utk nasi goreng. Juga berniat menambah saos tiram. Aku memang terlalu fanatik utk yang namanya penyedap, tapi membaca ini jadi ingin mencoba saos tiram.
    Dan, betul yang bapak bilang di postinganku.
    Cerita surat kita mirip,,,,, mirip bingungnya. Mau ditujukan ke siapa dan bingung mau cerita keahlian ha ha ha

    Liked by 1 person

Comments are closed.