Ayam Holat

Sekarang semua serba online. Kalau dulu, rata-rata pedagang online menjual barang fashion atau barang yang tahan lama. Sekarang sudah semakin meluas, bakulan pun sudah berseliweran di media online.

Aku sebenarnya bukan orang yang suka belanja online, apalagi makanan. Mau viral bagaimana pun itu, aku tidak pernah ikut latah. Bisa dihitung jari, berapa kali aku order makanan dari online. Sepertinya 10 jari pun belum habis menghitungnya.

Termasuk makanan yang akan aku ceritakan ini. Teman-teman sudah banyak yang pernah order karena kebetulan suami si bakuler rekan satu kantor kami.

Makanan yang aku maksud adalah “holat“. Si bakuler dengan akun FB Evi Nurul Hadini Siahaan. Variasi bakulan dia tak banyak. Biasanya yang ada rujak kueni, rujak serut, bebek oblok, ayam oblok dan holat. Itu pun tidak setiap hari semua menu itu bisa diorder. Biasanya satu hari sebelumnya, dia memosting rencana bakulan untuk besok dan membuat list untuk yang order. Tapi yang order lumayan banyak juga. Bahkan sering dia tutup orderan karena sudah terlalu banyak.

Jadi, aku memesan holat ini karena kebetulan kami mau berkunjung ke rumah adikku. Bapak dan mama datang dari kampung. Datangnya pagi dan rencana makan siang di sana. Berhubung kondisi adikku belum pulih, maka daripada di sana repot jadi aku berniat order online saja untuk lauk kami. Terlebih karena orderan diantar langsung ke tempat.

Pukul 11 siang, orderan sudah sampai dan diantar langsung oleh si owner. Harga satu porsi Rp100.000,00. Dikemas rapi dengan kemasan styrofoam.

Ayam holat ini adalah olahan ayam kampung dengan menggunakan beberapa bumbu khas. Ada andaliman, kemiri, jahe dan berbagai bumbu yang aku juga tidak tahu karena belum pernah membuat sendiri. Sebenarnya ayam holat ini identik dengan kami etnis Simalungun, karena ini sudah menjadi makanan khas Simalungun apalagi bagi yang beragama Muslim. Ayam Holat ini diibaratkan kembar dengan makanan non halal etnis Simalungun yaitu dayok nabinatur yang diolah dengan hinasumba. Berhubung aku beragama Kristen, tentunya yang biasa aku makan adalah dayok nabinatur tadi. Tapi itu tidak halal bagi yang beragama Muslim karena memakai darah ayam sebagai campuran dan warnanya pun menjadi merah.

Kembali ke holat yang aku pesan tadi. Karena ini diorder untuk makanan biasa, bukan untuk keperluan adat, maka potongan dagingnya pun dibuat tidak terlalu besar. Ayamnya dipanggang terlebih dahulu dan setelah matang dicampur dengan bumbu holat yang dimasak terpisah. Karena holat ini menggunakan kelapa dan kemiri, jadi penampakan daging ayam yang kami pesan berwarna putih. Menurutku racikan bumbunya sangat pas, pedasnya juga tidak terlalu pedas, rasa andaliman juga terasa. Daging ayamnya juga diolah dengan bagus dan lembut. Bumbu holat ini sangat cocok untuk menambah selera makan. Aku sendiri cukup puas dan tidak merasa menyesal mengordernya.

Bapak juga suka tapi tidak berani makan banyak karena takut mengganggu pencernaan. Tapi anak-anak tidak suka, mungkin bagi mereka rasa getir dari andaliman belum bisa ditoleran dan masih mengganggap itu sebagai rasa pedas.

Karena anak-anak tidak ikut makan, maka masih ada tersisa. Sebagian aku bawa pulang. Sorenya singgah sebentar di rumah mertua. Kebetulan abang ipar baru pulang dan berniat makan. Ketika aku tawari ayam holat itu, dia tertarik. Tapi ketika tahu ayam holat yang aku tawari adalah versi warna putih, dia pun menolak. Karena itu tadi, kami biasa makan ayam hinasumba yang berwarna merah.

Pertama kali order ayam holat dari bakuler tersebut, aku cukup puas dengan rasanya. Tapi sepertinya tidak cocok kalau aku order untuk keluarga. Kami belum familiar dengan ayam holat tersebut. Karena sedari kecil sudah terbiasa dengan ayam hinasumba. Sama seperti hinasumba, holat ini pun harus langsung habis dimakan. Karena ada kandungan bumbunya yang tidak bisa bertahan sampai satu harian.

Gassmom, 111020

9 thoughts on “Ayam Holat

    1. Bumbu sejenis biji2an gitu Bu. Bentuknya bulat kecil bergerombol. Wanginya khas, rasanya juga khas.
      Lumayan mahal karena tumbuhnya suka di tanah2 yg curam gitu. Batangnya penuh duri, jadi mengambilnya juga harus hati-hati.
      Yang pake itu biasanya memang orang Batak Bu.

      Like

Comments are closed.