The Real Superhero

Foto by Google image

Arti Pahlawan menurut saya adalah…

Orang hebat yang berjuang bagi kepentingan banyak orang atau orang yang dicintainya, hingga rela mengorbankan kepentingan dirinya sendiri. semua itu dilakukannya demi manfaat orang banyak dan orang yang dicintainya.

Dan membahas soal pahlawan, sebenarnya ingatan saya didominasi oleh sosok zaman dahulu seperti Ir. Soekarno, Bung Hatta, R.A. Kartini, Cut Nyak Dien…

yah para pahlawan kemerdekaan Indonesia, di mana saya pun belum terlahir saat itu

The real pahlawan bangsa Indonesia. Yang belum pernah satu pun saya bertemu dengan mereka, dan hanya mendengar kisah mereka dari media informasi, buku sekolah, guru-guru. Bukan secara langsung bertemu.

Karena mereka adalah sosok pahlawan yang telah tiada, dengan masing-masing kisah luar biasa, Maka di sini saya akan menulis tentang pahlawan nyata dalam kehidupan saya sendiri.

Yaitu tentang Ayah saya. Pahlawan sejak saya masih kecil.

The real superhero, yang menurut saya lebih hebat dari Spiderman dan kawan-kawan.

Ayah adalah superhero bagi anak-anaknya, dari kecil hingga dewasa mungkin?

Walaupun tidak semuanya. Karena saya juga sering mendengar cerita dan kisah nyata orang-orang yang memiliki pengalaman juga hubungan buruk dengan sang ayah.

Yah, saya tahu. Manusia memanglah tidak sempurna. Banyak sekali kekurangannya.

Namun kali ini saya menceritakan sedikit kisah nyata Ayah yang menjadi pejuang nyata bagi saya sendiri.

Pertama,

Ayah saya hanyalah seorang buruh. Pekerjaannya tidak tetap, penghasilannya pun tidak melebihi seratus ribu perhari.

Mendapat upah seratus ribu adalah untuk hari tertentu. Misal ada pekerjaan borongan, baru dapat agak lumayan.

Tapi kalau hari biasa?

Terkadang di bawah lima puluh ribu beliau diupah.

Namanya juga buruh. Bukan pekerja kantoran ataupun PNS (pegawai negeri sipil).

Tetapi untuk kebutuhan saya, beliau selalu mengusahakannya. Meskipun kadang tidak ada, diusahakan ada olehnya.

Beliau berpisah dengan ibu saya sejak saya berusia tujuh tahun. Bahkan saat itu saya belum bersekolah, namun mereka telah bercerai.

Mungkin sudah takdir ya.

Waktu itu, saya ikut ayah, sementara adik saya yang pertama, ikut ibu. Lantas, ayah harus menjadi bapak sekaligus ibu untuk saya, anaknya.

Merawat dari kecil, menyekolahkan dengan sebisanya. Bedanya, waktu itu masih ada Almarhumah nenek dan Almarhum kakek di rumah kami.

Jadi, ketika ayah saya pergi bekerja, saya dijaga oleh kakek dan nenek. Diasuh. Mereka sayangnya bukan main kepada seorang cucu.

Saya masih teringat waktu dulu, mereka mencubiti, menciumi saya yang masih mungil, sampai geli rasanya ketika pipi terkena gesekan kumis kakek.

Hihihi

Nah, ayah saya ini juga mennyayangi saya sebagai anak pertama yang katanya sangat dinantikan kehadirannya.

Masa sih?

Segala biaya sekolah, makan dan uang jajan beliau usahakan semampunya. Kalau pun tidak mampu, beliau mampukan.

Lalu ketika menginjak masa SMP (sekolah menengah pertama), sekitar umur lima belas tahunan, memasuki usia remaja, dan masa puber juga, saya mulai suka dengan yang namanya berdandan.

Yah, seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Saya menyukai pakaian dan kosmetik berupa pembersih wajah. Masa-masa centil yang menggelikan! Hahaha

Setiap bulan saya membeli pembersih wajah. Dan itu juga, ayah saya yang membiayainya. Bukan teman apalagi pacar ya. Waktu itu saya masih malu untuk menjalin hubungan asmara ala remaja.

Untuk urusan membeli kosmetik, saya juga bicara jujur pada ayah. Dan beliau malah senang dengan sedikit meledek bahwa putrinya mulai centil. Hahaha

Senangnya lagi, ketika saya minta uang untuk beli kosmetik, beliau memberi di luar dugaan saya.

Pernah waktu itu diberi lima puluh ribu lebih untuk pembersih wajah. Padahal harganya hanya sekitar delapan belas ribuan. Beliau bilang sisanya untuk jajan saya.

Oalah!

Senangnya kalau bocah diberi sebesar itu, girangnya bukan main. Apalagi, di zaman saya SMP, uang lima puluh ribu masih lumayan besar. Ongkos sekolah juga hanya empat ribu rupiah perhari.

Jadi, bisa jajan lebih besar dan banyak. Apalagi anak perempuan itu suka sekali dengan makanan. Seperti saya ini.

Lalu menjelang SMK (sekolah menengah kejuruan), biaya semakin meningkat. Apalagi sekolah saya itu swasta. Bayaran perbulan, buku dan lainnya juga lumayan membebankan ayah saya. Tapi beliau tetap mengusahakan, dengan bekerja serabutan.

Momen paling sedih itu, ketika saya akan melaksanakan PRAKERIN (praktek kerja industri) atau istilahnya magang di saat kelas sebelas.

Waktu itu, saya ditempatkan di lokasi magang yang lumayan jauh. Bukan takut jaraknya, tapi berat pada biaya transportasinya yang lumayan besar menurut kemampuan ekonomi keluarga kami. Belum lagi untuk uang makan, harus punya sendiri.

Dan magang itu waktunya sekitar tiga bulan. Saya dan ayah saya sempat mengajukan permintaan pindah lokasi magang yang lebih dekat, terkait biaya transportasi, namun guru saya menolak.

Karena saya juga bilang, sulit untuk mencari tempat yang menerima murid magang. Dan malah saya yang terancam tidak bisa ikut magang.

Waktu itu teman-teman dan guru saya mendukung penuh, memberi semangat untuk saya dan ayah agar jangan menyerah.

Pada akhirnya, ayah saya tetap mengusahakan. Sampai magang saya bisa selesai juga.

Sudah saya bilang, beliau berusaha untuk saya walaupun sulit.

Terima kasih banyak, ayah.

Pahlawan nyataku.

One thought on “The Real Superhero

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s