Perspektif Rasa dari Seorang Sahabat

Bicara tentang orang terdekatku sekarang ini, aku bakal cerita mengenai mereka yang kuanggap sahabat.  Aku urutkan dari yang paling lama kukenal.

Diurutan pertama ada kawan LDR-an, namanya Sarita. Kenal sudah dari zaman SD, cuma dekatnya baru sejak SMA. Sarita ini memiliki rambut hitam lurus mirip bintang iklan sampo dan badannya berisi tapi tidak tinggi.

Dia cewek yang ceria, cendrung heboh, pintar, dan tipe yang senang berpetualang. Lengket banget sama dia sewatu jaman putih-abu. Kemana-mana selalu bersama, baik main dan juga mengerjakan tugas sekolah.

Berteman dengan dia sangat seru. Aku sering diajak melakukan kegiatan anti-mainstream. Seperti  mengintai orang yang dia suka, nekad bertamu ke rumah cowok itu demi bertemu ibunya, dan menjaring ikan di kolam milik cowok itu. Luar biasa perjuangan dia buat dapat perhatian dari orang yang disukainya.

Selanjutnya adalah kawan satu kosan, namanya Ella. Dia tipe perempuan tomboy. Rambutnya selalu pendek dan berwarna coklat muda. Kelihatan galak dari luarnya, karena fisiknya yang tinggi besar, tapi orangnya asik banget kalau dah nyambung sama dia.

Kawan dia kebanyakan cowok, makanya mentalnya itu beda sama cewek kebanyakan. Lebih sangar dan tidak suka diatur. Tipe yang langsung berontak saat ada hal yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Kadang juga suka bikin aku emosi, lantaran wataknya yang keras kepala dan agak egois. Ella juga tipe yang ambisius mendapatkan apa pun yang dia mau.

Lalu, aku bakal ceritain kawan-kawan yang mengisi hari-hariku di kampus.

Ada dua sohib yang seringnya aku ajak ngopi bareng. Mereka adalah Tira dan Isa. Mereka ini banyak miripnya. Dari umur mereka yang seumuran, setahun lebih tua dariku dan sifat-sifat mereka juga lumayan mirip. Mereka sangat sederhana, tidak suka keribetan dan juga kalem. Yang membedakan adalah Tira ini bertubuh mungil sedangkan Isa berbadan jangkung.

Saat bersama mereka aku malah mirip sales yang lagi menawarkan produk, lebih berapi-api dan terlalu heboh bercerita, sedangkan reaksi mereka tetap tenang. Aku bisa sangat terbuka dengan mereka berdua, tidak sungkan mau curhat apa saja kepada mereka. Itulah akan selalu menyenangkan menghabiskan waktu bertiga.

Kemudian ada si Dwi yang juga teman sekelas dan kawan ngopi. Dwi yang paling sering main ke kosanku, malahan suka sampai menginap. Aku dan Dwi tingginya sama, hanya saja postur badannya lebih berisi dibandingkan diriku. Dimanapun dia selalu menggunakan rok. Katanya sudah kebiasaan dari kecil.

Sifatnya agak sedikit manja. Makanya dia ingin selalu ada temannya ke mana-mana. Paling penakut juga, jadi hal-hal yang bersinggungan dengan dosen selalu minta saran lebih dulu ke kami. Namun, dialah yang paling rajin dari kami berempat. Seringnya, tugas kuliah dia selesaikan duluan tapi lucunya tetap saja masih menunggu kami juga untuk mengumpulkannya.

Berikutnya ada Erly, sang pemecah telor karena dia ini baru saja menikah. Aku turut bahagia mendengarnya, walau sedikit kecewa karena keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk hadir di acaranya. Erly ini mirip putri salju, lantaran kulitnya putih banget, aku sering minder sendiri jalan di sebelahnya.

Dia anak sulung sama sepertiku, jadi kami cocok mengeluhkan tanggung jawab anak sulung bersama. Dia juga yang paling responsif dari yang lainnya, lebih mudah bertanya hal mendesak padanya dan juga untuk curhat kepadanya lebih nyaman, karena dia ini begitu pengertian.

Satu lagi ada cewek cantik dan lembut, aku memanggilnya Mbak Mut. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku, tapi wajahnya sangat irit, masih imut-imut kayak anak SMP. Kulinya juga putih tidak beda jauh sama Erly. Pokoknya kalau lihat parasnya itu buat adem.

Pembawaan Mb Mut yang mengayomi dan suka membantu menjadikan dia mudah disayangi. Kurasa Mbak Mut ini adalah orang yang paling sering aku repotin. Eh, bukan aku saja, tapi yang lainnya juga. Kami merasa seperti punya kakak yang dapat diandalkan saat situasi genting dan kepepet. Sangat lembut dan baik luar dalam sih orangnya.

Terakhir, ada si ceriwis, namanya Oyik. Dia punya kulit sawo mateng dan paras yang sangat ayu. Sebenarnya, kami ini setipe. Tipe anak manis yang bawel dan heboh.

Kami berdua layaknya sepasang pembuat rusuh. Bisa dipastikan ribut deh kalau sudah bertemu. Ributnya bukan kayak cekcok atau berdebat gitu, hanya saja kami ini agak kelewatan lebay kalau menanggapi sesuatu, dan terlalu bersemangat saat bercerita.

Sifat identik lainnya adalah sama-sama pemalas. Sifat yang terakhir itu menjiplak, sangat serupa kadarnya. Kami berdua sering sekali menjadi makhluk yang paling terakhir mengerjakan tugas. Paling-paling buntunya cuma menyalin tugas punya Mbak Mut.

Aku rasa cukup sudah mendeskripsikan sosok mereka dari sudut pandangku. Mereka tetap punya peran dan warna sendiri dalam hidupku. Keberadaan mereka pun kuakui begitu berarti mengisi hari-hariku. Di sudut hatiku terdalam aku tahu benar bahwa aku sangat senang memiliki mereka sebagai sahabat-sahabatku.

5 thoughts on “Perspektif Rasa dari Seorang Sahabat

Comments are closed.