Kakak Beradik

sumber: pinterest

Dea punya seorang adik laki-laki. Masih TK, hanya selisih tiga tahun darinya. Sayang, adiknya tidak lucu, soalnya senang membuat Dea kesal.

Terkadang Dea heran, sebenarnya dia ini kakak atau adik. Rasanya ia selalu jadi yang diganggu walau tidak merecoki sang adik. Ada satu hal yang meyakinkan dirinya adalah sang kakak, yaitu nasihat ibu.

“Jadi kakak harus mengalah ya, Dea.” Begitu pesan ibu setiap waktu. Dea cemberut. Setiap ibu bilang demikian, adiknya selalu tersenyum jail. Aku menang, kurang lebih itu pesan tersirat dari wajah sang adik. Dea tidak suka itu. Selalu saja begitu. Apalagi adiknya tidak pernah absen mengganggu setiap hari.

Seperti siang ini.

Dea baru saja pulang sekolah. Ia masuk dan mengucap salam. Terdengar suara ibunya dari arah meja makan, menjawab salam putrinya. Ibu tidak sendiri, ada Faras, adiknya, sedang duduk di salah satu kursi di sampingg ibu yang berdiri. Melihat ibunya, Dea lekas menaruh tas, lalu datang menghampiri.

“Ada donat, nih,” ujar ibu saat putrinya mengintip meja makan. Tudung saji dibuka sedikit, lalu ditutup lagi oleh ibu. “Cuci tangan dulu ya kalau mau makan. Ini ada dua, ambil satu-satu.”

Wajah Dea semringah. Ia buru-buru ke wastafel untuk mencuci tangan. Saat keran dibuka, Faras menyusul di sampingnya. Perasaan Dea tidak enak. Benar saja, tidak lama kemudian sang adik mulai menyenggol lengannya, menyuruh geser dengan sedikit memaksa.

“Aku dulu!” seru Faras. Wajah jailnya muncul.

Dea mulai sebal. “Ih, aku duluan!”

“Aku yang duluan!”

“Aku!”

Tepat setelah Dea berseru, Faras menyentuh air yang mengalir dari keran dan mencipratkannya ke sang kakak.

“Iih! Faras!” Dea bersungut-sungut. Wajahnya memerah, menahan emosi. “Jangan ganggu kenapa sih!”

“Aku duluan!”

“Aku!”

“Aku!”

“Deaa, Faraas.” Suara ibu dari kamar menghentikan keributan kakak beradik itu. Dengan perasaan sebal, Dea mundur dari posisinya. Ia teringat nasihat sang ibu untuk mengalah walaupun harus ia lakukan dengan menggertakkan gigi. Alisnya tertaut, membuatnya tampak galak. Namun, itu justru membuat Faras tertawa kecil, menyenandungkan kemenangan. Aku nggak suka! batin Dea.

Setelah Faras selesai mencuci tangan, air keran dimatikan. Baru saja Dea mendinginkan perasaannya, tiba-tiba ada air yang dipercikkan ke wajahnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan adiknya….

“Faraaas!” Dea berseru kencang bersamaan dengan adiknya yang kabur sambil tertawa.

“Donatnya buat aku semua!”

Dea menghentakkam kaki, kemudian buru-buru menghampiri ibu di kamar. Mengadu. “Ibu! Faras nakal!”

Ibu yang sedang duduk di pinggir kasur hanya tersenyum, lalu mengelus punggung putrinya dengan lembut. “Faraaas, jangan ganggu kakakmu,” ujar ibu sedikit menaikkan volume suaranya agar putranya mendengar. “Kakak yang sabar ya, adikmu masih kecil jadi iseng.”

Alis Dea kembali tertaut, kesal. Rahangnya mengeras, pipinya menggembung. Air matanya sedikit menggenang, tetapi ia tahan kuat-kuat. Ibu selalu bilang begitu, dan Dea tidak merasa puas mendengarnya.

Aku nggak mau ngomong sama dia lagi! seru Dea dalam hatinya. Ia pun naik ke atas kasur, lalu menutup wajah dengan bantal. Rasa laparnya sudah hilang, dan kini berganti dengan kantuk yang menyergap. Tidak lama pun ia jatuh tertidur. Bersama dengan dirinya yang masuk ke alam mimpi, hatinya kembali tenang. Emosi yang tadi membuncah pun redam.


Dea terbangun satu jam kemudian. Ibu membangunkannya. Saat mengucek mata, perutnya berbunyi pelan. Ia teringat donatnya. Dea perlahan turun dari tempat tidur, lalu mengecek tudung saji meja makan. Tidak ada apa-apa. Namun, ibu melihat Dea berjalan ke meja makan dan mendengar tudung saji yang ditutup. Ia pun keluar dari kamar dan menoleh kanan-kiri.

“Faraas?” panggil ibu.

“Hmm?” Yang dipanggil menyahut dari ruang tamu. Ibu dan Dea mendekati sumber suara, dan Faras tampak sedang asyik bermain mobil-mobilan di atas karpet.

Dea melongok, mencari keberadaan donatnya, “Donatku di mana?” tanyanya dengan suara baru bangun tidur.

Faras berhenti menggerakkan mobil mainan. Ia meraih bungkusan donat di sampingnya, lalu disodorkan ke sang kakak, “Nih.”

Dea mengambil dengan tangan kanan, lalu duduk di samping Faras yang lanjut bermain. Makan donat persis di sebelah sang adik yang tadi nyaris membuatnya menangis, juga adik yang tadi tidak ingin ia ajak bicara lagi.

Begitulah adik dan kakak. Sekesal apa pun akan berbaikan dengan sendirinya.

Yah… walau nanti akan ribut lagi sih.

*

rufindhi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s