Memberi Diam-diam, Meminimalisir Rasa Iri

Pemikiran ini muncul setelah saya mengalami kejadian berkali-kali dalam hidup.

Singkat cerita, saya sering memberi barang-barang berupa makanan, pakaian, kepada saudara sepupu saya dengan diketahui oleh sepupu yang lainnya. Waktu itu saya belum juga menyadari bahwa ada reaksi berbeda dari sepupu yang lain itu.

Nah, suatu waktu, saya memberi lagi kepada sepupu saya itu, berupa beras dari hasil BANSOS (bantuan sosial). Karena dirasa terlalu banyak, makanya saya berikan ke dia, dan ternyata adiknya dia itu tahu kalau Kakaknya diberi beras oleh saya.

Saya perhatikan raut wajahnya dengan seksama setelah tahu soal itu, ekspresi masam dan dia agak diam. Dari sini, saya mulai mengerti sesuatu, yaitu bahwa dia diserang perasaan iri, karena saya hanya memberi beras kepada Kakaknya saja.

Apakah saya menyalahkannya? T I D A K . Saya tidak menyalahkannya.

Karena menurut saya, rasa iri adalah fitrah dan alami bagi manusia. Bahkan hewan pun memiliki rasa iri, apalagi kita sebagai manusia?

Rasa iri, pasti ada pada setiap diri manusia.

Tinggal bagaimana cara kita mengaturnya saja.

Karena saya sendiri pun mengalaminya.

Pernah, adik saya diberi pakaian yang masih bagus oleh tante kami, sedangkan saya tidak, dan saya melihatnya. Tahu apa yang terjadi?

Jujur, dalam diri ini terbersit rasa kesal karena tidak melihat adik saya diberi pakaian itu sementara saya tidak.

Kemudian, saya langsung mengingatkan diri saya, itu sudah rezeki dia. Buat saya juga pasti ada nanti.

Nah, itu juga adalah bentuk dari usaha saya untuk menetralisir rasa iri dalam diri. Karena saya menyadari, perasaan jengkel itu datang karena rasa iri.

Setelah itu, jika saya memberi sesuatu pada siapapun, saya akan mengingatkan kepada orang yang saya beri, supaya tidak perlu memberitahukan pada orang lain yang berpotensi menimbulkan rasa iri.

Rasa iri memang sudah fitrah bagi manusia. Tapi kita harus berusaha mengendalikannya.

2 thoughts on “Memberi Diam-diam, Meminimalisir Rasa Iri

Comments are closed.