WKWK 6 – Berbincang-bincang dengan Dilan dari Kota Depok

Di dalam sebuah kafe di penjuru ibu kota, tinggal seorang barista. Kafenya menjajakan beragam jenis kopi sebagai menu utama. Jika kamu tidak begitu menyukai kopi, kafe ini menyediakan minuman lain seperti teh, susu, bajigur dan bandrek. Jika sedang beruntung, kamu juga bisa menemukan makanan tradisional yang biasanya disajikan dalam keadaan masih hangat. Menu makanan ini bervariasi setiap harinya. Tergantung mood si empunya, Wak Kecik. Kadang-kadang ada surabi, molen, colenak, basreng dan makanan lain yang mungkin kamu sendiri belum pernah mendengar namanya. Aku ralat sedikit. Sebenarnya bukan mengikuti mood Wak Kecik melainkan tergantung kepada keinginan sang koki. Tak lain, tak bukan yaitu istrinya, Teh Lilis. Kalau aku melihat pasangan ini sedang beraksi di dapur, terlihat seperti drama televisi. Kadang-kadang bertengkar. Selang beberapa menit kemudian terdengar cekikikan. Wak Kecik berdarah melayu asal Sumatera Selatan sedangkan Teh Lilis mojang asli dari Garut. Yang satu senang berteriak, sedangkan yang lain kalem dan tenang-tenang saja. Tapi segalak-galaknya Wak Kecik, di hadapan Teh Lilis dia adalah kucing. Bukan lagi singa seperti yang seringkali ia tampakkan jika istrinya sedang tidak ada.

Aku senang bisa berada lagi di kafe ini, atau sesuai namanya Warung Kopi Wak Kecik (WKWK). Nama ini tetap ia gunakan. Sejak muda dulu Wak Kecik sudah berjualan kopi. Ia berpikir bahwa mau sebesar apapun warung atau sebutlah kafe miliknya ini akan berkembang, nama itulah yang akan tetap dipakai.

“Sebagai pengingat saja, boi. Kata ‘warung’ mengingatkan asalku. Seorang pria kampung yang menjual kopi di warungnya,” begitu ceritanya padaku suatu waktu.

Sudah lama aku tidak datang. Sejak PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bulan Maret hingga sekarang, WKWK hanya melayani pemesanan take away, bukan untuk disantap di tempat. Mengetahui kalau aku dan kawan-kawan dari Ikatan Kata akan datang, cepat-cepat ia menutup tirai dan membalikkan papan di depan pintu menjadi CLOSE.

“Biar tak ada yang ganggu, boi,” ujarnya.

Ia lantas bergegas merapikan meja-meja dan menarik beberapa kursi yang sebelumnya tidak presisi. Lalu menuju sofa marun dan mengaturnya sedemikian rupa agar nyaman untuk kami, para pelanggan setianya.

“Wak senang kalian mau datang lagi. Kau tahulah sendiri, berdua di sini saja sama istri tanpa ada pengunjung yang datang, bisa pening Wak.”

“Kan bisa lebih romantis.”

“Harusnya sih seperti itu, boi. Tapi istriku datang ke WKWK setelah membawa penatnya menghadapi anak-anak yang belajarnya di rumah. Apa tuh namanya?”

“KBM Daring, Wak. Kegiatan Belajar Mengajar Dalam Jaringan atau online.”

“Ya semacam itulah.”

Ia lantas pergi menyiapkan pesanan minuman yang sudah kuberikan saat masuk. Teman-teman yang lain sudah mengirimiku pesan Whatsapp tentang menu apa saja yang ingin mereka pesan. Agar lebih praktis, begitulah mereka berkilah. Padahal mereka hanya ingin mengerjaiku.

Kurebahkan badan di sofa sambil melihat-lihat kondisi ruangan. Warung Kopi Wak Kecik bukan warung yang buruk, kotor, penuh asap rokok dan berbau busuk. Juga bukan warung yang kering, panas, gersang, tak ada sirkulasi udara, serta susunan meja dan kursi yang tidak beraturan. Warung ini warung milik Wak Kecik, warung yang sangat menyenangkan.

Warung ini berpintu bundar, seperti jendela kapal. Catnya berwarna hijau dan tepat di atasnya dipasang sebuah lonceng kecil. Jika pintunya dibuka maka lonceng tersebut berbunyi sebagai penanda ada orang yang masuk dan tampaklah susunan meja dan kursi yang tertata rapi untuk para pengunjung. Di sudut bagian kanan, -tepatnya tempat aku berada sekarang- berderet tiga sofa warna marun yang disusun setengah lingkaran. Di tengahnya ada meja bundar dengan diameter 150 sentimeter, berbahan jati, kokoh dan tak goyah.

###

Lima belas menit telah berlalu. Setengah cangkir latte sudah kuminum dan berangsur-angsur kawan-kawanku berdatangan. Kami datang ke WKWK selain untuk silaturahim dengan Wak Kecik, juga sebagai titik kumpul. Selepas ashar, kami akan menemui seorang investor yang tertarik untuk bekerjasama membangun usaha penerbitan buku.

Sekitar pukul satu, Mas HP muncul. Ia datang paling terakhir.

“Maaf telat. Maklum, anak merengek minta dibantuin bikin prakarya.”

Lalu ia bergegas menuju wastafel dan mencuci tangan sebelum akhirnya bergabung dengan kami. Melihat pisang goreng yang berjejer manja di atas piring, masih hangat dan harum, tanpa malu-malu Mas HP mengambil dan mengunyahnya cepat-cepat.

“Laper apa doyan, Mas?” goda Frida.

Ia tak gentar. Usai melahap satu, diambilnya dua.

“Pishang ithu … enhak dhan huh huh bervitha min loh.”

Ia menjelaskan sambil meniup-niup pisang yang panas lalu mengunyahnya.

“Aku gak terlalu suka pisang,” ujar Frida.

“Nanti kamu juga bakalan suka pisang lho, De.” Bu Dian menggodanya. “Rena dan Desy juga doyan kalau dah merit. Haha.”

“Saya sih memang doyan pisang, Bu. Emangnya kalau sudah nikah makannya pisang terus?” tanya Desy polos.

“Ndaklah, sayang. Pisang yang Ibu maksud itu yang spesial.”

Rena mencubit paha Desy menyuruhnya untuk tidak bertanya lebih lanjut. Lalu ia berbisik di telinganya. Seketika pipi putihnya itu berubah kemerahan.

“Iiihhhh, Bu Diaaann!”

Kami semua tergelak melihatnya.

“Mas, member baru di sini ada yang belum kenal kamu. Bisalah diberi perkenalan sedikit,” ujarku untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Mas HP mengangguk pelan saat perutnya sudah ia pastikan kenyang.

“Iya, Rena juga pengen tahu.”

Mas HP berdehem beberapa kali dan mengetes suaranya seolah-olah ia akan memulai konser musik.

“Ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Barangkali dengan mengenal lebih dekat di sini, mungkin bisa menambah rasa sayang. Ahai. Aku rasa sebagian terutama member baru belum kenal namaku, mungkin hanya tahu nama panggilan MasHP. HP itu singkatan dari Heri Purnomo. Nama itu bermula dari beberapa teman yang sering panggil aku Mas HP, karena nama Heri mungkin sudah pasaran. Aku lahir di Jawa Tengah, 40an tahun yang lalu. Sekolah SD hingga SMA di Jakarta. Lalu kerja di Jakarta juga. Aku sudah memiliki 1 istri dan 3 orang anak. Jangan dibalik.”

Kulihat mereka mengangguk-angguk. Lalu Mas Tasim bertanya, “Mas HP, bagaimana asal muasal IK (Ikatan Kata) terbentuk?”

Mereka mengangguk lagi seperti boneka di dasboard mobil.

“Keterkaitanku dengan IK berawal dari saat aku menulis sebuah artikel tentang kegelisahanku menjalani aktivitas ngeblog. Di artikel itu aku tulis kalau aku merasa butuh sebuah komunitas.”

“Ngeblog udah berapa lama, Mas?” potong Bu Dian.

“Kalau aku gak salah ingat, ngeblog itu dari tahun 2016. Sebelumnya ikut ngeblog bareng-bareng di Kompasiana, lalu baru kepikiran buat blog sendiri. Saat itu aku sudah temenan beberapa lama dengan Kang Fahmi. Gayung bersambut, Kang Fahmi mengajak membuat sebuah komunitas menulis. Lalu dengan proses pencarian nama dengan survey segala macam, terbentuklah komunitas menulis Ikatan Kata. Tadinya aku kurang PD karena belum punya pengalaman untuk itu. Tetapi dengan kemauan kuat Kang Fahmi, akhirnya beliau membidani berdirinya Ikatan Kata. Aku sebisa mungkin membantu apa yang aku bisa. Untuk design dan konten blog IK, sepenuhnya kupercayakan Kang Fahmi, sebab aku gaptek soal itu. Akhirnya aku bantu mencatat aktivitas menulis teman-teman dalam bentuk list progress report KETIK. Begitu sekilas asal muasalnya IK. Dan berkat IK, kita bisa bersilaturahmi di sini.”

“Baru tahu Mas HP ikut membidani IK,” komentar Bu Dian sambil menyeruput teh tarik.

“Kurang lebih begitu Bu. Sebagai perantara takdir saja.”

Mas Tasim mengangkat tangan. Mungkin di dalam benaknya dia sedang berada di dalam sebuah kelas. “Kok bisa kenal Kang Fahmi, Mas?

“Awal mulanya ya aku sering komen di blog Kang Fahmi. Begitu pun sebaliknya. Dari intensitas itu kita akhirnya menjadi semakin akrab. Begitu saja, sebagaimana pertemanan dengan bloger-bloger lainnya.”

“Mas HP, kenapa memilih platform WordPress, padahal ada yang lain seperti Medium, Blogspot atau Wix?” tanya Frida penasaran.

“Aku pernah pake blogspot, waktu itu umtuk jualan buku. Tapi setelah aku mencoba WP, ternyata ada banyak kelebihannya dibandingkan blogspot. Tools untuk design lengkap, pemakainya aku dengar paling banyak di seluruh dunia, juga kemudahan dalam mengelolanya. Pas aku ingin membuat blog untuk menulis, akhirnya tanpa ragu aku pilih WP.”

By the way, aku suka sama nama panggilan mashp,” puji Desy.

Dilan dari kota Depok itu sumringah. Ia tersenyum bangga. Sepertinya ia harus mulai membuat fans club untuk dirinya. Sejak film Dilan keluar dia meyakinkanku bahwa wajah Dilan mirip ia sewaktu muda.

Sekarang giliranku untuk bertanya. ”Bagaimana caramu membagi waktu antara menulis, bekerja di kantor, ngegrab, jualan jamu, menjadi suami dan ayah?”

“Kalau ditanya soal membagi waktu, aku adalah contoh yang buruk, Kang. Haha. Aku masih terus belajar. Susahnya bukan main, padahal sudah coba pakai aplikasi organizer seperti Any Do. Tapi aku sendiri sering melanggar jadwal yang sudah aku buat. Seringkali yang aku prioritaskan itu kebutuhan yang paling mendesak terutama menyangkut keuangan.”

Di tengah-tengah pembicaraan hangat itu Wak Kecik datang membawakan sebotol air mineral dingin untuk Mas HP. Wak Kecik tampaknya keturunan cenayang. Ia tahu kalau ada yang sedang kehausan. Kemudian ia pergi ke singgasananya. Diam-diam kutahu dari tadi Wak Kecik ikut mendengarkan obrolan kami.

“Anaknya Mas HP ada yang bikin blog?” tanya Bu Dian.

“Sudah aku coba dorong ke arah sana, Bu. Sempat aku ajarin caranya membuat blog dan menulis beberapa artikel. Tapi gak diterusin. Apalagi sekarang dia sudah sibuk dengan kuliahnya.”

“Terus terang aku masih sulit mengatur waktu produktif dalam hal menulis. Paling sekadar buat puisi kecil. Kalau Mas HP  gimana? Dalam hal menulis sudah merasa cukup produktif belum untuk membagi waktu menulis dengan kesibukan dengan yang lain.” Desy si penyuka pisang mulai aktif bertanya.

“Tentu belum, Desy. Tapi ketika aku tidak menulis, hatiku sebenarnya tidak bisa benar-benar lepas dari keinginan menulis. Aku sebenarnya ingin membuat aktivitas menulis secara rutin. Tetapi sekali waktu aku bisa melakukannya, tapi di waktu lain ada hal-hal yang prioritasnya lebih kudahulukan daripada menulis. Seperti urusan finansial.”

###

Temukan keseruan obrolan Para Pengikat Kata di WKWK

7 thoughts on “WKWK 6 – Berbincang-bincang dengan Dilan dari Kota Depok

Comments are closed.