Meminjam Sudut Pandang

Sumber: Pinterest

Ke Cimanggis beli tikar
Hi gaisss apa kabaaaar?

Kemarin sore, tetangga saya yang berprofesi sebagai penjual es lilin keliling bercerita mengenai kejadian yang baru dialaminya. Kejadian itu ialah pengalaman pertamanya berhadapan dengan polisi lantaran ia tidak memakai masker saat berkeliling menjajakan esnya. Raut wajahnya saat bercerita menunjukkan kalau ia benar-benar dilanda apes saat itu. Namun, di sisi lain ceritanya mengandung unsur jenaka, jadi saya pun tidak bisa menahan tawa.

Setelah mendengarkan cerita itu, terpikirkan oleh saya untuk mengerjakan KETIK10 yang bertemakan sudut pandang. Saya mempunyai gagasan untuk menjadikan cerita tetangga saya itu sebagai contohnya. Dan karena saya memilih contoh cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal, artinya saya akan berperan seolah-olah menjadi tetangga saya, si penjual es keliling itu. Oh iya, ceritanya juga akan saya tambahi seperlunya.

….
Hidup di usia senja membuatku malas menonton masalah Corona yang tiap hari diberitakan televisi. Tapi istriku sendiri, yang sepenuhnya menikmati masa tua dengan memelihara kambing, selalu saja sibuk menonton siaran tidak penting itu setelah kambing-kambingnya kenyang. Termasuk siang ini, saat aku sibuk memasukkan es lilin daganganku ke empat teremos kecil lalu menaruhnya di bagian belakang sepeda, istriku tetap bergeming di depan layar televisinya. Kaca matanya sampai melorot dan kunyahan sirihnya terlihat membuat rahangnya semakin rileks. Aku pun menyelesaikan pekerjaanku sendiri, hingga semuanya siap.

“Berangkat jualan, ya, Bu!” Aku berpamitan dengan istriku tanpa memedulikan jawabannya.

“Bismillah, semoga laris seperti biasa.” Kukenakan topi lalu kukayuh sepeda tuaku melewati jalanan yang membara di bawah terik matahari. Dan ketika sepeda sudah memasuki wilayah desa tetangga, kutiup terompet kecilku berulang kali.

Teee-ooo-eee-ooo-eee-ooo-eeet…

“Mbah Budi, beli yang rasa nanas sama kacang ijo, ya.” teriak Bu Siti dari balik pagar rumahnya. Ia adalah pelanggan setiaku.

Aku membuka teremos es lilin rasa kacang hijau dan nanas, dan anaknya yang berusia 8 tahunpun memilih-milihnya.

“Ambil yang agak bawah, Dek, yang agak keras.” kata Bu Siti pada anaknya.
Mereka mengambil 5 es lilin dan menyodorkan uang sepuluh ribu kusut padaku.

Matur nuwun, Bu.” ucapku berterima kasih.

“Laris, ya, Mbah.”

Aku mengencangkan tutup teremos, lalu berkeliling lagi. Rejeki dari rumah-rumah yang lain pasti sedang menantiku.

Selama ini, dagangan esku memang sangat laris di desa-desa tetangga. Orang-orang bilang kalau es lilinku punya rasa enak yang khas. Cara berdagangku dengan terompet pun sangat unik, ditambah teremos jadul dan sepedaku yang berusia puluhan tuhun katanya punya daya tarik tersendiri. Lebih lagi reaksi anak-anak terhadapku, generasi yang lahir belakangan itu senang sekali mencuri-curi kesempatan untuk memotretku. Ada juga yang tanpa malu minta foto bersama, yang kudengar istilahnya adalah ‘selfie’. Mereka menyuruhku tersenyum lebar dan bergaya ini itu. Setelah berfoto, sering kali aku penasaran dengan hasil fotonya, apakah gigi ompong dan pipi keriputku sudah mengaburkan ketampananku di masa muda dulu. Tapi anak-anak itu jarang sekali yang memperlihatkannya kepadaku.

Benar saja, dalam waktu dua jam berkeliling es lilinku sudah banyak yang ludes. Es rasa kacang hijau yang paling digemari anak-anak sudah habis duluan. Rasa tape, nanas, dan sirsak masih sisa sedikit. Aku memutuskan untuk menjajakan daganganku yang tersisa hingga ke desa seberang jalan raya yang menjadi batas dua kecamatan. Pasti ada rejeki di sana. Sekaligus aku ingin mengunjungi kawan lama yang tinggal di desa itu seusai berjualan nanti.

Aku turun dari sepeda dan menuntunnya ketika menyeberang jalan raya. Kulihat semua pengendara sepeda motor dan orang-orang yang berjalan kaki di pinggiran jalan menutupi separuh wajah mereka dengan masker. Kecuali aku. Tapi aku tidak memedulikan apakah mereka melihatku sebagai pelanggar, atau memaklumi sikapku karena alasan usiaku yang sudah tua. “Namanya juga orang jaman dahulu, pasti susah ngikutin peraturan!” Aku pernah tidak sengaja mendengar kata-kata ini diucapkan oleh seorang anak muda. Dan mungkin itu juga yang saat ini ingin dikatakan orang-orang di jalan ketika melihatku. “Mbah ini pasti nggak mau pakai masker karena udah tua.”

Di seberang jalan kulihat ada dua polisi yang baru saja turun dari sepeda motornya. Tak ubahnya yang lain, mereka pun mengenakan masker. Tapi masker keduanya terlihat sama, berwarna hitam dan ada lambang kepolisian di sisi kirinya. Salah satu dari mereka melihatku dan melambaikan tangan, memberi instruksi agar aku datang menghampiri. Aku tersenyum lebar, polisi ini pasti berhenti dan melambai karena ingin membeli es lilinku.

“Mau beli es lilin, Pak?” tanyaku ramah pada mereka.

“Selamat siang, Pak. Bapak kenapa berjualan tidak memakai masker?” tanya polisi yang berbadan tinggi besar dengan suara tegas tanpa sedikitpun menghiraukan senyum dan tawaranku. Ternyata mereka memanggilku karena alasan masker.

“Yaa… saya tidak pakai masker karena saya sehat, Pak! Buktinya tidak pakai masker juga tidak apa-apa. Ini ada pagebluk kan datangnya juga karena manusia yang sering kuwalat.” jawabku malah memperingatkan kedua polisi itu.

“Maaf, Pak. Tapi Bapak harus mematuhi peraturan untuk selalu memakai masker saat keluar rumah.” kata polisi yang tubuhnya lebih pendek.

Kedua polisi sama-sama ngotot. Meski demikian, aku berusaha terlihat tenang dan tidak memberikan perlawanan.

“Pak, lha saya itu jualan keliling harus meniup terompet ini!” kataku sambil menunjukkan terompet kecil yang kupegang. “Kalau saya pakai masker, saya kan jadi nggak bisa meniup terompet. Terus orang-orang nggak tahu kalau saya lewat jualan, karena nggak ada suara toet-toet.” terangku kemudian.

“Maaf, Pak. Tapi aturan yang berlaku seperti yang sudah kami sampaikan tadi. Sekarang, karena Bapak ketahuan tidak memakai masker, kami terpaksa harus mendenda Bapak Rp 100.000. Ini juga sudah menjadi peraturan, Pak.”

Peraturan, peraturan, peraturan. Seenak jidat saja polisi itu ingin memerasku dengan dalih peraturan yang tidak masuk akal.

“Yaaa… Saya tidak mau kalau harus keluar uang seratus ribu. Orang kecil seperti saya ini harus capek-capek keliling dulu, Pak, untuk dapat uang seratus ribu.” aku berkilah.

“Kalau tidak mau membayar, Bapak bisa menerima sanksi lain seperti menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Bagaimana, Pak?”

Walaah, apa ya harus menyanyi di pinggir jalan begini?”

“Ini sudah peraturan, Pak.”

Polisi yang lagi-lagi membicarakan peraturan itu menanti kesediaanku. Aku menghela nafas sambil tanganku masih memegang erat stang sepeda. Tanpa pikir panjang lagi, mau tidak mau aku harus menyanyikan lagu Garuda Pancasila dari pada kehilangan uang seratus ribu. Syukurlah aku masih hafal lagu itu karena sering menyanyikannya bersama cucuku.

“Ya sudah, Pak. Kalau harus menyanyi ya tidak apa-apa.” kataku tanpa menunjukkan sikap menyerah.

Polisi itu pun mempersilakanku untuk menyanyi.

Garuda Pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju
Ayo maju, maju
Ayo maju, maju!”

“Pak, Bapak ini menyanyinya terlalu cepat.” Kedua polisi malah protes. Bukannya memaklumi aku, mereka justru ingin aku menyanyikan ulang dengan tempo lagu yang sesuai dengan harapan mereka.

“Ya harus cepat, Pak. Lagunya kan memang penuh semangat. Kalau pelan-pelan nanti es saya keburu cair, Pak!” aku tidak mau mengalah.

Polisi itu kehabisan kata-kata. Kulihat salah satu dari mereka memberi kode berupa anggukan kecil pada temannya, kemudian temannya pun berkata padaku kalau aku sudah diperbolehkan untuk pergi.

“Kami harap, Bapak tidak mengulanginya lagi, ya.” pesannya.

“Ya, Pak!” kataku tidak ingin berlama-lama.

Aku menuntun sepeda dan berlalu dari hadapan mereka. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan, kedua polisi itu kembali memanggilku.

“Pak, Pak! Tunggu sebentar, Pak!”
Aku berhenti dan menoleh. Belum sempat aku bertanya, polisi itu sudah mengutarakan maksudnya. “Pak, boleh saya beli esnya?”

Mataku terbelalak. Tak kusangka polisi yang tadi beradu mulut denganku mau membeli es lilinku.

“Boleh, Pak. Boleh.” Lekas-lekas kubuka teremos es dan kutunjukkan sisa es lilinku.

“Saya beli semuanya ya Pak.” ujar si polisi.

Aku gembira sekali mendengarnya. Kutarik plastik kresek dan mulai kumasukkan semua es lilin yang tersisa ke dalamnya.

“Ini semuanya ada 11 potong, Pak.” kataku sambil tersenyum lebar.

“Jadi, saya bayar berapa, Pak?”

“Satunya dua ribu. Jadi semuanya dua puluh dua ribu.”

“Ini, Pak. Ambil saja kembaliannya.” polisi itu menyodorkan uang dua puluh lima ribu padaku.

“Waah, terima kasih lho Pak Polisi! Kalau begini kan saya tidak jadi mangkel (kesal). Memang harus begini, berani kasih solusi!” kataku penuh kemenangan. Aku menerima uang dua puluh lima ribu itu dengan suka cita.

“Benar sekali, Pak. Jadi karena es lilin Bapak sudah habis, sekarang Bapak harus memakai masker, ya.”

We-laa-daa-laah…!! Ternyata ada udang di balik batu. Polisi itu memberikanku masker dan menyuruhku untuk mengenakannya saat itu juga. Akupun tidak bisa berkutik lagi.

TAMAT

Kosa kata:

  1. Pagebluk: Wabah

6 thoughts on “Meminjam Sudut Pandang

  1. Nice!

    Koreksi untukm, De.

    1. Termasuk siang ini, saat aku sibuk memasukkan es lilin daganganku keempat teremos kecil (ke empat)

    2. istriku tidak bergeming (hapus kata ‘tidak’. karena bergeming artinya tidak bergerak)
    Kukenakan topiku lalu kukayuh sepeda tuaku melewati jalanan yang membara di bawah terik matahari. (terlalu banyak ‘ku’. Perbaiki lagi)

    3. “Mbah Budi, Beli yang (beli)

    4. Salah satu dari mereka melihatku dan melambaikan tangan ke arahku, memberi instruksi agar aku datang menghampiri. (terlalu banyak ‘ku’. Perbaiki lagi)

    5. Istilah ‘pagebluk’ bisa kamu tambahkan di akhir tulisan sebagai keterangan dan sertakan artinya

    Like

Comments are closed.