Berhati-hati dengan Preposisi

Adakah di dunia ini yang tidak diikat aturan? Sesuatu yang elegan dan berkelas pasti menuntut sebuah aturan. Serumit apapun aturan itu, kita akan berusaha mengikutinya, berharap bisa diterima dan diakui menjadi bagian dari yang elegan dan berkelas itu.

Menulis juga seperti itu. Tidak hanya sesederhana menuangkan ide dan gagasan saja, tetapi ada beberapa aturan yang harus diikuti. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), pengganti EYD (Ejaan yang Disempurnakan), pedoman penulisan lama yang bagi kalian generasi 90-an pasti sudah tidak asing lagi.

Nah, tidak banyak berbeda dengan EYD, di dalam PUEBI ini ada banyak sekali kaidah-kaidah penulisan yang harus kita ikuti jika ingin menjadi penulis yang handal, ada tentang penggunaan huruf kapital, kalimat kutipan, kata depan, imbuhan, akhiran, dan banyak lagi yang lain.

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi mengenai salah satu kaidah penulisan pada PUEBI yang meskipun sederhana tapi sering membuat saya atau mungkin banyak dari kita, penulis pemula, salah menggunakannya, yaitu Kata Depan atau Preposisi.

Bagi kalian yang ternyata tidak pernah mengalami kesulitan mempraktekkan kaidah preposisi ini, itung-itung aja sebagai bahan kaji ulang pengetahuan yang sudah kalian dapatkan selama ini ya. Jadi yuk, silahkan disimak penjelasan berikut ini:

  • DI

Disambung jika menyatakan kata kerja pasif, contoh:

  1. Ketika berumur tujuh tahun, Pangeran Kecil mulai diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo.
  2. Suasana Pangeran Kecil dibesarkan sangat berbeda daripada suasana Keraton Yogyakarta di bawah asuhan Sultan Hamengku Buwono II.
  3. Ketika besar nanti, banyak keputusan Sang Pangeran yang jika kita telaah lebih jauh, sangat dipengaruhi oleh asuhan sang nenek buyut , Ratu Ageng Tegalrejo.

Dipisah jika menyatakan arah atau tempat, contoh:

  1. Meskipun berkediaman di Puri Tegalrejo, Sang Pangeran masih harus sering datang ke Yogyakarta untuk menghadiri acara-acara keraton.
  2. Dominasi Belanda mulai membuat bangsawan-bangsawan di keraton menjadi resah.
  3. Belanda bahkan berani mengatur cara Sultan harus bertakhta di dhampar kencananya.
  • KE

Disambung jika menyatakan kata kerja atau kuantitas, contoh:

  1. Sang Pangeran selalu memaksakan dirinya ke Yogyakarta, menghadiri acara-acara keraton yang dianggapnya ‘kurang islami’, semata-mata pakewuh kepada kakeknya, Sri Sultan, dan ayahnya, Putra Mahkota.
  2. Sang Pangeran pernah ditunjuk menjadi wali sultan bagi sultan yang masih balita bersama ketiga wali sultan yang lain.
  3. Sang Pangeran keluar dari keraton setelah semakin muak dengan banyaknya penarikan pajak yang membebani rakyat.

Dipisah  jika menyatakan arah atau tempat, contoh:

  1. Puri Tegalrejo luluh lantak diserang Belanda, Sang Pangeran berhasil menyelamatkan diri ke Selarong, untuk berikutnya membangun kekuatan perlawanan.
  2. Sentot Prawirodirjo, panglima termuda dan terhebat Sang Pangeran, menyerah kepada Belanda dan dikirim ke Padang untuk memerangi kaum padri.
  3. Belanda mengetahui kesepakatn rahasia Sentot dan Tuanku Imam Bonjol, akhirnya Sentot diasingkan ke Bengkulu hingga akhir hidupnya.

Ditulis ‘ke-‘ jika menyatakan nomor urut, contoh:

  1. Hal yang mungkin menjadi sebab pecahnya Perang Jawa yang pertama adalah dipandang rendahnya Pangeran oleh para perwira Belanda, yang ke-2 hilangnya kesabaran Pangeran akan praktek penarikan Pajak oleh Belanda, dan yang ke-3 dipasangnya patok-patok pembangunan jalan di tanah milik Pangeran di Tegalrejo.
  2. Serangan pertama ke markas Pangeran di Selarong dilaksanakakan pada tanggal 25 Juli 1825 oleh pasukan yang dipimpin Kapten Bouwens. Serangan ke-2 pada akhir bulan September 1825 dengan dipimpin oleh Mayor Sellewijn dan Letnan Kolonel Achenbach. Berikutnya serangan yang ke-3 dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 1825.
  3. Urutan pengasingan Dipanegara oleh Belanda adalah yang pertama membawanya menuju Batavia dari Semarang, yang ke-2 mengasingkannya ke Manado, dan yang ke-3, setelah 11 tahun di Manado, memindahkan pengasingannya ke Makassar hingga Beliau mangkat.
  • PUN

Disambung jika menyatakan penegasan, contoh:

  1. Sekalipun Dipanegara telah diasingkan, para pengikutnya masih percaya perlawanan akan dibangkitkan kembali.
  2. Meskipun menjadi buron, tercerai-berai di berbagai wilayah, mereka tetap masih bisa mengenali satu dengan yang lainnya.
  3. Adapun cara yang dilakukan mereka adalah dengan menanam pohon sawo kecik di halaman rumah mereka.

Dipisah jika menyatakan juga atau saja, contoh:

  1. Tidak hanya Belanda yang melakukan spionase, Dipanegara pun melakukannya terhadap barisan Belanda.
  2. Jika Belanda menarik pajak kepada masyarakat, Dipanegara pun menarik pajak di wilayah yang dikuasainya.
  3. Pada akhir-akhir masa jabatannya sebagai panglima, Sentot tidak hanya memimpin perang, ia pun memimpin penarikan pajak ke masyarakat.
  • NYA

Disambung jika menyatakan kepemilikan orang ketiga atau menunjukkan sesuatu atau sufiks murni, contoh:

  1. Tepat sebelum berlayar ke Manado, Sang Pangeran sempat menulis surat kepada istri dan anaknya.
  2. Kyai Modjo, sebelum menyerah dan diasingkan ke Tondano, meminta syarat kepada Belanda agar prajurit di bawah komandonya dilepaskan.
  3. Setelah Pangeran mangkat di Makassar, istrinya meminta kepada Belanda agar ia tetap diijinkan untuk tetap tinggal di Makasar.

Ditulis “-Nya” jika menyatakan kepemilikan Tuhan, contoh:

  1. Di Pengasingan, Sang Pangeran menerima kekalahannya dalam Perang Jawa, menganggap itu semua jalan dari Tuhannya, ketetapan-Nya yang harus diterima setiap hamba.
  2. Dalam babad, Pangeran berpesan agar keturunan-keturunannya hidup dengan selalu menjalankan perintah Allah Swt dalam Alquran dan hadist Rasul-Nya.
  3. Bagi hamba-Nya yang selalu berjuang pada jalan yang benar, Allah Swt telah menyiapkan tempat terbaik di kehidupan akhirat nanti.

Itulah sedikit penjelasan mengenai penggunaan preposisi dalam Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan dengan mengikuti tata bahasa yang ada ketika menulis, kita menjadi bagian dari mereka yang ikut merawat bahasa. Jika bukan kita yang merawat bahasa ini, siapa lagi?

One thought on “Berhati-hati dengan Preposisi

Comments are closed.