Preposisi Dalam Paragraf Gundah Gulana

Niat awal mau menuntaskan Ketik6 serupa tugas pelajaran bahasa indonesia. Setelah dipikir-pikir kurang dapat greget tantangannya kalau seperti itu. Jadilah, akhirnya rampung juga sebuah cerita gundah gulana yang bentuknya abstrak. Jadi preposisinya aku garis bawahi saja biar kelihatan. Moga-moga bisa dinikmatin. Selamat membaca.

Dalam keheningan malam aku dibelenggu oleh sosokmu. Menyelami setiap kebersamaan kita yang diukir dalam memoriku. Bahkan relungku sekarang masih dipenuhi bayangmu. Seperti masih belum sudi melupakan setiap kenangan di antara kita. Kini, kubertanya-tanya bagaimana kabarmu di seberang sana? Lama sekali kita tak saling menyapa, inginku sekadar mendengar suaramu di ujung telepon.

Tapi apalah dayaku, keberanianku tak sepekat malam. Semakin banyak hari berlalu, semakin tak kuasa aku mengusik kebahagiaanmu. Bukannya aku menyimpan maksud terselubung, hanya saja aku takut akan ada kecanggungan yang hadir.

Ke langit aku mencari jawaban itu. Lebih banyak yang kudapat cuma kesunyian yang kian menyiksa masuk ke dalam rongga batinku.  Kadang aku menanyakan hal yang sama pada bulan ke mana harus kubawa perasaan tak menentu ini.

Kuingat pertama kali kita berbincang singkat, membahas buku yang sedang kau cari. Pertemuan ke-dua aku senang sekali menyimak kau dengan riang menceritakan tokoh favoritmu dalam cerita itu. Pertemuan ke-tiga kau kembali lagi dengan wajah sebal karena akhir cerita yang tragis. Aku terus menghitung hingga pertemuan ke-sembilan, pertama kalinya kita janjian untuk ngopi berdua, katamu biar lebih leluasa membahas tentang buku.

Sekalipun aku lupa menghitung sudah berapa banyak buku yang kita bahas, aku selalu menikmati perjumpaan kita. Kalaupun memang aku yang salah mengartikan keakraban kita, biarlah tak mengapa, asal aku tetap bisa melihatmu dari dekat. Meskipun rasaku tak akan pernah tersampaikan padamu.

Sedihku pun tak terkira saat kau bilang hari itu akan menjadi hari terakhir sesi obrolan buku kita. Aku pun tak menyangka akan ada perpisahan pada senja yang memikat itu. Siapa pun mungkin tidak ada yang siap menyambut sebuah perpisahan.

Aku tak tahu pasti berapa banyak malam yang harus kuhabiskan memikirkan dirinya. Puluhan purnama telah berlalu, tapi parasnya masih belum juga pudar dari ingatanku. Sebenarnya, aku sudah berupaya namun ternyata susah betul untuk melupakanmu.

Biarlah, bersama angin aku bisa menitipkan rinduku dalam untaian doa terbaik disampaikan-Nya melalui kasih dan berkat-Nya yang paling indah menyapamu. Aku hanya mampu berharap semoga kau senantiasa dalam lindungan-Nya.

6 thoughts on “Preposisi Dalam Paragraf Gundah Gulana

  1. Kadang aku (hapus satu spasi sebelum hurum K)

    ke-dua dan hitungan lainnya yang kamu tulis seharusnya ditulis ‘kedua’

    untuk peringkat baru ditlulis ke-2

    lakukan hal yang sama pada ke-tiga dan ke-sembilan

    Like

Comments are closed.