Paradoks

Menurut Malcolm Gladwell dalam bukunya Blink (Chapter 3: The Locked Door-The Secret Life of Snap Decisions), alam bawah sadar kita sering tidak sesuai dengan pengetahuan atau ilmu yang kita miliki. Akibatnya aksi kita sering melenceng dari yang seharusnya. Kita seperti orang yang selalu mendapat “rekaman” bahwa hal-hal sederhana terlalu sederhana untuk dilakukan sehingga tidak berarti. Jadi, walaupun kita tahu (mengilmui) bahwa yang sederhana tadi bila dilakukan oleh sejuta orang akan menjadi hal yang sangat berarti, kita toh tidak melakukannya.

Jadi, pada bagian mana kita salah? Mari melongok dalam diri sendiri.

Sejujurnya, kita tidak percaya dengan hal-hal yang sederhana. Alam bawah sadar kita tak percaya bahwa hal-hal sederhana itu besar artinya. Membantah? Kenyataannya, kita memang tidak mematikan lampu bila meninggalkan ruangan untuk makan siang. Kita tidak mematikan komputer dan lampu dan AC walau kita tahu rapat di kantor berlangsung lebih dari tiga jam. Boleh heran bersama saya waktu menjadi saksi mata seorang gadis cantik yang kursus di Sekolah Kepribadian Ra*** Sanggar**** membuang bungkus roti dari dalam mobilnya! Teman saya (yang ilmunya tentang lingkungan sudah mentok) berkata, ”Percuma saja kalau cuma kita yang gak pakai kantong plastik” (dan melanjutkan gaya hidupnya memakai plastik kresek!).

Kita merindukan alam yang bebas rokok tapi orang yang kita cintai merokok. Kita menginginkan kota yang tidak banjir, tapi rumah kita dibangun di atas rawa yang seharusnya jadi kolam retensi (retarding basin; Kompas, 8 Feb.2007). Kita berteriak hemat bbm dan kurangi polusi, tapi kita tidak pernah mengajarkan anak-anak naik kendaraan umum. Kita ingin hal-hal yang indah-sehat-aman, dengan catatan panjang tentang hal-hal yang tidak dapat kita lakukan (korbankan). Kita tahu kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi mungkin kita belum tahu bahwa untuk menjaga kebersihan itu kita perlu sepenuh iman.

Referensi:

[1]. Galdwell, M. 2005. Blink. The Power of Thinking Without Thinking. Back Bay Books, New York.

[2]. Maryono, A. “Retarding Basin” dan Banjir Jakarta. Kompas 8 Februari 2007: 7.

3 thoughts on “Paradoks

  1. Nice!

    btw, kategori posnya pilih : KETIK

    Kita berteriak hemat bbm dan kurangi polusi, tapi anak-anak tak pernah kita ajarkan naik kendaraan umum. (kalimat ini bisa diperbaiki lagi)

    Kita ingin hal-hal yang indah-sehat-aman, dengan catatan panjang tentang hal-hal yang tidak dapat kita lakukan (korbankan?). (tanda tanya di sini sepertinya tidak diperlukan)

    Liked by 1 person

Comments are closed.