Hujan, Aku Rindu

Hujan yang melibatkan kesengsaraan kerinduan. Hujan yang melibatkan emosi yang mendalam. Menyenangi dalam kesunyiannya.

-M Seno Rahmanto

Hujan kemarin malam membuatku teringat peristiwa setahun lalu. Tubuhku gemetar dan pikiranku buyar. Aku tak sanggup mengingatnya lagi. Hanya potongan-potongan kecil yang sanggup aku katakan, selebihnya aku simpan atau aku buang.

Malam itu pacarku, Sofia, mengajak pergi ke kafe kesukaannya. Ia suka sekali minum kopi. Dia pernah memintaku untuk membelikannya espreso.

Gemerlapnya jalanan Surabaya membuat indahnya kota ini jadi syahdu. Karena Sofia sering mengajak keluar, aku jadi hafal tempat favoritnya. Tapi anehnya dia tidak mau pakai helm kalau keluar. Wah, jadi repot nih aku. Selalu saja begitu, sebelum dia pergi dariku.

Pernah, suatu malam kami dikejar polisi. Dia ngeyel keluar kota nggak pakai helm. Yang repot juga aku. Harus ngebut dan sembunyi ke gang-gang kampung. Untungnya bisa menghindar sama polisi. Huft. Merepotkan!

Namun dari kekonyolan dan kebodohannya itu, aku berkali-kali menatap gedung-gedung pencakar langit. Menatap kosong jalanan kota dan selalu duduk sendiri di Caturra.

Selama berjam-jam aku selalu berharap kehadiranmu. Berkali-kali menelepon setiap malam minggu juga tak dihiraukannya. Aku merasa sepi dan kosong. Awan hitam menyelimuti hati dan pikiranku.

Kejadian yang tidak aku inginkan terjadi. Suatu malam Minggu, saat jalanan Kota Surabaya sedang ramai-ramainya. Hujan yang turun waktu itu membuatku agak tergesa-gesa. Mantel juga tidak dibawa. Kasihan kalau harus berteduh dulu karena sudah larut juga.

Aku disenggol mobil yang berseberangan dengan jalanku. Sofia ikut terjatuh bersamaku. Sofia jatuh di sebelah kanan jalan hingga ia tertabrak mobil di belakangnya. Sedang aku jatuh mengarah ke kiri terseret dengan motor yang aku bawa.

Sofia seketika tidak sadarkan diri. Aku panik dan meminta tolong kepada orang-orang di sekitar. Darahnya membasahi jalanan. Kepalanya terbentur aspal hingga tidak sadarkan diri.

Aku meminta tolong kepada temanku Rendra, rumahnya di dekat kawasan Pasar Turi yang tidak jauh dari tempat kejadian. Aku langsung menelepon dan memintanya untuk membawa Sofia ke Rumah Sakit.

Sofia langsung dibawa ke UGD Sutomo. Aku panik dan bingung. Aku menunggu di luar bersama Rendra. Situasi semakin tidak mendukung karena orang tua Sofia tidak bisa dihubungi.

Sudah hampir subuh dan Sofia belum sadarkan diri. Dokter bergegas melakukan pembedahan namun harus mendapat izin dari keluarganya. Aku sudah menelepon ayah Sofia, namun beliau masih sibuk di luar kota. Sedang ibunya tidak bisa dihubungi. Berkali-kali aku menelepon dan chat whatsapp namun tak ada balasan.

Hampir lewat jam 5 pagi dan akhirnya Tante Salma datang. Tante Salma adalah Ibunya Sofia. Tante Salma seketika menangis histeris melihat anaknya tidak sadarkan diri. Aku mencoba menenangkannya, namun Tante Salma sepertinya tak acuh denganku.

Operasi dimulai tepat 5 pagi dan Om Ruslan baru datang dari Kota Palembang. Semuanya nampak panik dan berharap yang terbaik bagi Sofia.

Sehabis sholat subuh, aku berdoa memohon kepada Allah agar Sofia bisa terselamatkan. Tak kuasa aku menahan air mata ketika menghadap Allah. Seumur hidupku waktu itu adalah malam yang meruntuhkanku. Aku bertanya kepada diriku apa yang akan aku katakan kepada Om Ruslan jika Sofia nanti tidak terselamatkan?

Baca juga : Memulai Menulis Antologi Puisi

Aku meminta pendapat dari Rendra. Katanya, “Kamu harus jujur dan ikhlas. Kamu harus mengakui segala kesalahan yang kamu perbuat malam itu.” Rendra sangat baik, di saat keadaan genting seperti ini ia sanggup membantuku di sela kesibukannya.

Om Ruslan dan Tante Salma mengernyitkan wajah, kepanikan yang mereka rasakan tak kunjung sudah. Jantungku semakin tak berterus terang dengan segala hal yang telah datang. Aku kacau.

Dokter keluar dari ruang UGD dan memberitahu kepada Om Ruslan dan Tante Salma tentang keadaan Sofia.

Tante Salma seketika pingsan mendengar kabar bahwa Sofia tidak dapat ditolong. Aku merasakan dingin dan tak dapat berucap apapun. Hanya penyesalan dan kesedihan. Om Ruslan nampak sangat sedih mendengarnya. Putri satu-satunya meninggal karenaku. Karena kecerobohan dan kebodohanku.

Haruskah aku mati karenamu, terkubur kesedihan sepanjang waktu. Hingga kini aku sendiri ketika minum kopi di Caturra. Gelapnya hidup dan badai juga tak kunjung reda. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Om Ruslan dan Tante Salma. Terakhir kali aku menghadap Om Ruslan saat pemakaman Sofia.

Kini dia telah jauh pergi dariku. Meninggalkanku di sini. Hidupku bagaikan kemaraunya dunia.

Aku selalu memohon kepada Tuhan, dialah orang yang aku sayang. Dalam benakku hanyalah dia. Aku berharap dia kembali, namun khayalan gila apalagi yang aku rasa ini?

Setahun yang lalu aku begitu gila ditinggalnya. Aku bertanya di depan nisannya “Kapan kamu kembali?” Setiap hari selama satu bulan aku pergi ke makam dan membawakan cokelat kesukaannya. Kopi espreso tak lagi menjadi bahan yang merepotkanku, dan aku rindu hal itu.

Selama setahun lalu aku menyimpan cerita ini. Dan sangat menyakitkan. Hingga akhirnya aku menulisnya.

Oleh : M Seno Rahmanto (cerpen fiksi)

Baca juga : Puisi Pagi

One thought on “Hujan, Aku Rindu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s