Akibat Sok Kenal

ilustrasi: aceh.tribunnews.com

Ini kejadian di awal-awal masuk kerja.

Waktu itu aku masih tinggal di Ciganjur, Jakarta Selatan. Aku biasa berangkat kerja dengan menumpang angkutan umum. Dari rumah ke kantor tiga kali ganti angkutan. Saat menunggu angkutan ke tiga biasanya ada mobil teman sekantor yang memberi tumpangan. Karena itu aku sering berharap mendapat tumpangan sebelum akhirnya memilih angkutan umum sebagai pilihan terakhir ketika tak ada mobil rekan yang lewat.

Suatu ketika di pagi yang cerah. Aku selalu bahagia di saat menunggu mobil angkutan, jika tiba-tiba sebuah mobil Toyota Kijang Grand Extra berhenti tepat di depanku. Pagi itu pun demikian. Waktu itu mobil jenis ini sangat populer. Rekan kantorku banyak yang memakai kendaraan jenis ini.

Melihat mobil dengan jenis dan warna yang tak asing, aku pun tak ragu untuk melempar senyum kepada pengemudi dan penumpang di depan yang terlihat dari luar. Lalu kusapa, “Hai..”. Mereka pun tersenyum, dan itu isyarat yang selalu kutangkap saat rekan kantor menawarkan tumpangan. Kubuka pintu belakang. Dengan semangat 45 aku pun duduk dengan bangga dan rasa lega. Lumayan, nyaman dan hemat ongkos pikirku.

Mulailah si pengemudi membuka percakapan.

“Mau ke mana, Mas?” , tanyanya ramah sambil tersenyum.

“Ke PT. A kan, Mas.” jawabku sambil membetulkan tempat duduk.

“Oh, bukan mas. Kita mau ke PT. B.”

Mendengar mau ke PT. B, seketika aku kaget lalu kuamati satu persatu penumpang di mobil itu. Oh my God, tidak seorang pun kukenal di antara mereka!

Ya, ampuun. Kalau ada cermin mungkin aku bisa melihat wajahku memerah. Ingin rasanya menutupi wajah ini dengan panci atau apapun agar aku tak bisa melihat wajah-wajah mereka yang tersenyum-senyum menyaksikan kekonyolanku.

“Waduh… maaf, Mas. Saya pikir ini mobil rekan kantor saya. Ya sudah Mas, saya permisi turun, ya.”

“Hehehe… gak usah, Mas, kita kan searah. Malah kantor Mas kami lewatin. Sudah terus aja. Malah kita bisa kenalan.” jawab mas pengemudi dengan tetap menampilkan senyum dan tawa yang belum juga sirna.

“Iya mas, terus aja. Sekalian lewat..” kata kata yang lain ikut menimpali.

Ya sudahlah, kepalang basah. Aku pun meneruskan perjalanan dan berkenalan dengan mereka. Di antaranya mbak-mbak yang cantik-cantik di sampingku. Merah wajahku pun berangsur-angsur memudar.

Makanya bro, lain kali jangan sok kenal, batinku menasehati diri ini. 😀

***

11 thoughts on “Akibat Sok Kenal

Comments are closed.