Peninggalan Terakhir Seorang Arsitek

Hai, Sahabat! Apakah kamu pernah mendengar peribahasa, “Blood is thicker than water?

Artinya hubungan atau ikatan antar keluarga itu lebih kuat dan penting daripada orang lain. Dan ikatan paling kuat yang aku rasakan adalah antara aku dan Bapak.

Barangkali karena tak banyak remaja di kampungku yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Barangkali lantaran anak-anak dari Bapak semua bisa kuliah. Barangkali karena tak ada satupun arsitek, warga kampung kami sangat menghormati Bapak.

Beliau pernah bercerita bahwa untuk sekolah STM (Sekolah Teknik Menengah), ayahnya –kakekku— mesti pintar-pintar membagi uang untuk keperluan rumah, sekolah anak-anaknya yang berjumlah sepuluh orang dan bayar ini-itu. Bapak pergi mengayuh sepeda sejauh 20 kilometer sekali jalan. Jangan bayangkan jalannya semulus zaman sekarang -meskipun sekarang aspalnya masih dikorupsi-.

Sejak aku masih kecil, lucu dan menggemaskan, Bapak bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Ia pernah bekerja di PT. Wijaya Karya. Bukan sebagai orang nomor satu di perusahaan. Bapak adalah mandor yang membawahi tidak kurang dari 200 orang. Ia mesti menghadapi ratusan orang yang beraneka ragam sifat dan karakternya. Kadang-kadang, jika perusahaan telat membayar pekerja maka Bapak yang berusaha menenangkan mereka. Atau ia menalanginya dulu meskipun kutahu sakunya tak sedalam sumur bor.

Bapak adalah orang yang sibuk. Bahkan di masa pensiunnya. Bapak berhenti bekerja karena diabetes dan penyakit lain yang melemahkan tubuhnya. Ia ‘mempensiunkan diri’ dan menghabiskan banyak waktu di kampung.

Di masa ‘pensiun’ itu, Bapak masih saja aktif bolak-balik ke empang atau kolam ikan. Kami, orang Sunda menyebutnya balong. Balong milik Bapak terletak tidak jauh dari rumah. Perjalanan 7 menit jalan kaki.

Bapak pintar dalam segala hal yang berhubungan dengan balong. Sebut saja pemijahan ikan, mulai dari memilih bibit ikan, menempatkannya di balong khusus, menyimpan ijuk sebagai tempat ikan bertelur, mengangkat induk ikan jika telur sudah keluar, lalu memeriksa keadaannya setiap pagi dan sore hari.

Keahlian lain dari Bapak adalah ia bisa memancing ikan dan melemparkan jala hingga berbentuk huruf O sempurna. Ia juga mampu memastikan pasokan air untuk balong dan sawah tetap terjamin, mengadoni umpan ikan, hingga ngabedahkeun balong.

Ngabedahkeun balong artinya memanen ikan dengan cara mengosongkan balong. Bapak bisa memperkirakan waktu yang pas kapan mesti turun ke balong. Dengan balong yang cukup luas, air yang keluar pun tidak akan langsung habis dalam waktu yang cepat.

Jika saat ngabedahkeun balong tiba, sekitar pukul setengah 6 pagi Bapak pergi ke balong lalu mengambil sumbat yang menutupi jalur air keluar. Bapak kadang-kadang akan kembali ke rumah atau menunggu saja di saung dekat balong sambil melakukan aktivitas lain. Dua jam kemudian, keluarga kami datang untuk saling membantu memanen ikan.

Bapak mahir dalam urusan balong dan konstruksi. Kedua bakat itu turun ke anak pertamanya. Kakakku –aku memanggilnya Aa– itu menguasai semua hal yang Bapak ajarkan. Untuk urusan balong, ikan, kebun dan lain-lain Aa sudah khatam. Untuk urusan menggambar konstruksi bangunan dan hitung-hitungannya, Aa pandai. Ia juga memakai komputer sebagai alat bantu. Aa tidak bisa menggambar bangunan di kertas milimiter block sebagus dan sedetail Bapak.

Lalu bagaimana denganku? Untuk urusan balong, ikan dan sebagainya, aku hanya senang di bagian makan nasi liwet dan menghabiskan ikan bakar. Untuk urusan konstruksi bangunan, aku hanya bisa membelikan Bapak kertas milimiter block, pensil, penghapus, penggaris, jangka dan menyajikan minuman. Tak ada satupun bakatnya yang aku bisa.

Sekitar 4 tahun sebelum akhir hayatnya, Bapak diminta oleh warga di kampung kami untuk membuat masjid. Seluruh pekerjaan dari mulai menggambar, menghitung kebutuhan bangunan, memilih pekerja, mencari bahan bangunan berkualitas dan lain-lain, dikomandoi oleh Bapak.

Masjid kami ini adalah peninggalan terakhir yang Bapak berikan untuk masyarakat. Di masa hidupnya, Bapak sudah pergi mengelilingi pulau Jawa bahkan menyeberang hingga luar pulau seperti Makasar untuk urusan konstruksi.

Jembatan, jalan, tower telekomunikasi, rumah, gedung bertingkat, rumah sakit, sekolah dan lain-lain sudah pernah Bapak bangun. Tapi Bapak belum pernah membangun sesuatu di kampung kami. Maka saat ada rencana untuk membangun ulang masjid, itu menjadi warisan terakhir. Sebuah kenang-kenangan.

Setiap kali aku pulang kampung dan shalat di masjid, aku menjadi teringat Bapak kembali. Campur aduk perasaan antara sedih dan bangga menyelimuti diri. Sepertinya masjid merupakan ikatan lain yang bisa menghubungkanku dengannya.

Bapak, aku rindu.