Suara Billy Si Ayam

“Billy, bangun dong sayang …” suara lembut mama membangunkan Billy.

“Ah, mama … Sebentar lagi ya. Masih sangat gelap.”

“Tidak Billy, kamu harus bangun sekarang. Tidak bisa ditawar lagi. Hari ini hari pertama kamu memulai tugas sebagai bangsa ayam. Tugas kita untuk berkokok membangunkan semesta.”  ujar mama dengan lembut.

Mendengar itu, Billy tersentak dan bergegas bangun. Bagaimana dia bisa lupa, dari kemarin mama sudah mengingatkan hal itu. Tugas mulia, ya tugas mulia. Tugas yang selalu diemban bangsa ayam dari sejak ayam ada di dunia. Konon katanya kejantanan seekor ayam juga bisa dilihat dari suaranya. Billy sudah lama menunggu saat ini tiba.

“Ayo Billy, kamu siap-siap ya. Hari ini bukan kamu sendiri yang akan memulai tugas. Beni dan Bono anaknya ibu sebelah juga. Ada Bimbo, Bobby dan Bombi sepupumu. Semangat ya, jangan mau kalah. Tunggu aba-aba kokokan pertama dari Pak Ketua dan kalian pun langsung berkokok.” Mama mengulang lagi kata-kata yang beberapa hari ini selalu dia ucapkan untuk menyemangati Billy.

“Iya, Ma. Doakan Billy ya.” ujar Billy.

***

Kukuruyukkkk!!!

Kokok pertama dari Pak Ketua pun terdengar memecah keheningan subuh. Kokokan itu kemudian disusul oleh kokokan lain termasuk oleh Billy dan teman-temannya yang pada hari ini mulai mendapat tugas untuk berkokok.
Tapi, hei apa itu? Tiba-tiba para ayam berhenti berkokok dan saling pandang. Ada kokokan yang bernada lain dan jauh dari merdu. Sekarang semua pandangan mengarah kepada Billy. Billy yang merasa dipandang pun bengong dan terdiam. Dia juga bingung kenapa suaranya tak semerdu ayam lain. Malu dan sedih, itu yang Billy rasakan.

“Ayo, kita mulai lagi.” kata Pak Ketua.

Kukuruyukkkk!!!

Billy pun mencoba lagi walau pun dengan rasa takut. Dan lagi-lagi yang lain menoleh kepadanya. Suaranya memang tidak separah tadi lagi tapi masih tetap jelek dibandingkan yang lain.

“Tidak apa-apa, itu biasa untuk pemula. Yang penting kamu rajin berlatih. Jangan takut dan malu untuk tetap mencoba.” Pak Ketua menepuk punggung Billy pelan. “Tetap semangat.” lanjut Pak Ketua.

***


“Billy, kamu kenapa?” tanya Mama melihat Billy pulang dengan lesu. Sangat berbeda dengan waktu berangkat tadi.
Sekarang Billy benar-benar sedih. Kalau tidak ingat malu, ingin rasanya dia menangis meraung-raung. Dia merasa hidupnya hancur, telah gagal melakukan tugas sebagai ayam.

“Ma, Billy telah gagal. Billy tidak berguna. Ternyata Billy tidak bisa berkokok semerdu ayam lain.”

“Siapa bilang kamu telah gagal dan tidak berguna?” dengan lembut mama mengusap punggung Billy.

“Tidak ada Ma. Tapi Billy sungguh merasa tidak berguna. Tadi Billy sudah berkokok 2 kali dan keduanya gagal. Billy hanya merusak suasana. Menurut mama, apa yang harus Billy lakukan? Billy malu Ma, kalau besok pagi ikut berkokok dengan suara jelek Billy.”

“Billy, kamu tidak boleh sedih begini. Bukan kamu saja koq yang pernah mengalami hal itu. Banyak yang awalnya tidak bisa bersuara merdu. Intinya, jangan malu dan jangan menyerah. Semangat dan terus mencoba. Percayalah, akan tiba waktunya suaramu akan semerdu ayam lain. Tidak usah peduli bila ada yang memandang sinis, tetap bersuara ya. “

“Iya, Ma. Billy akan terus mencoba sampai bisa. Doakan ya, Ma.”

***


Sampai hari ketiga, Billy belum juga bisa bersuara merdu. Tapi dia tetap mengingat kata-kata mama untuk tetap semangat dan tidak berhenti mencoba.
Sampai akhirnya pada hari keempat, Billy sudah berhasil. Suaranya tidak terdengar berbeda lagi, sudah merdu seperti yang lain. Billy sangat bersyukur telah mendengar nasehat mama dan Pak ketua untuk tetap semangat dan jangan malu mencoba.

Gassmom, 120820

8 thoughts on “Suara Billy Si Ayam

Comments are closed.