Musuh Adalah Pahlawan Saya

Kali ini saya harus menceritakan tentang sosok pahlawan. apa arti seorang pahlawan dan siapa pahlawan dalam hidup saya. Pahlawan sudah pasti adalah mereka yang berjasa dalam hidup saya. Mereka yang memberikan sumbangsih dalam hidup saya sehingga menjadi lebih baik dan lebih bijaksana. Betul tidak?

Tentunya semua pasti setuju jika saya mengatakan bahwa pahlawan dalam hidup saya adalah orang tua. Pahlawan dalam hidup saya adalah keluarga. Pahlawan dalam hidup saya adalah guru. Pahlawan dalam hidup saya adalah mentor. Para pahlawan dalam hidup saya adalah mereka yang menanamkan kebaikan dalam diri sendiri sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini.

Tapi saya mau melihat sosok pahlawan dari sisi yang berbeda dan agak berbahaya, asek!

Seorang musuh pun bisa menjadi pahlawan dalam hidup kita. Kok bisa? Yes! Mereka yang berlaku jahat terhadap kita pada akhirnya seringkali membuat kita terpacu untuk membalas dendam dan membuktikan diri kita. Kita menjadi tertantang untuk mengalahkan mereka. Dendam ini seharusnya menjadi sebuah dendam positif.

Coba saja nonton serial Korea Itaewon Class. Di situ diceritakan dimana pemeran utamanya berjuang sampai akhirnya menjadi berhasil karena digerakkan dendamnya pada seorang pengusaha besar. Tapi pada akhirnya dia tidak membalaskan dendamnya karena karakter dia yang sudah berada di atas menjadi lebih bijaksana dan mau mengampuni. Kita harus kayak gitu ya, mau mengampuni dan semakin bijaksana dalam hidup. Bukan malah tambah suka ngegosip, kok jadi ceramah?

Saat ada teman yang nilainya lebih baik dari kita, kita berusaha meninggalkan ketertinggalan kita. Yang terjadi adalah kita menjadi semakin rajin belajar dan akhirnya bisa ranking satu, hore! Saat melihat taman tetangga lebih hijau dan tertata rapi, kita juga bisa terpacu untuk membersihkan taman di rumah kita sendiri. Persaingan di tempat kerja pun juga tentunya seringkali terjadi senggol-senggolan, tidak pakai bacok ya. Tapi tentunya ini tetap harus menjadi persaingan yang sehat ya, masa persaingan yang Corona?

Baiklah, ijinkan saya memberi sedikit kesaksian tentang pengalaman pahit saya bersama seorang musuh yang berkenalan karena mobil dan motor. Jadi begini ceritanya, simak baik-baik.

Pernah saya menabrak seorang bapak yang menerobos lampu merah. Banyak saksi bertebaran di sana tapi percuma yang namanya polisi ‘kan selalu muncul belakangan jadi para saksi itu sudah pergi. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata kaki si bapak itu patah. Jadi mau tidak mau, karena mobil selalu salah, always wrong, saya harus mengurusi semua kebutuhan bapak tersebut.

Yang bikin dia menjadi musuh saya adalah karena dia sama sekali tidak mau mengakui bahwa dia sudah melewati lampu merah. Bahkan minta maaf saja tidak, tragis bukan? Padahal seharusnya bapak lebih tua dari saya harusnya lebih bijaksana. Singkat cerita, banyak uang yang harus saya habiskan untuk urusan kekeluargaan dengan si bapak satu ini. Musuh saya ini sangat memberikan perlakuan yang tidak adil dan tidak menyenangkan kepada saya. Ada amin, saudara-saudara?

Tapi dari peristiwa itu saya belajar banyak hal. Karakter saya perlahan-lahan dibentuk untuk menjadi lebih sabar dan belajar mengalah pada si bapak dan keluarganya. Saya juga belajar bagaimana mengurus semua masalah yang ada ketika mengalami kecelakaan, bagaimana repotnya ke kantor polisi dan bagaimana harus mengeluarkan uang hanya supaya mobil yang ditahan berhari-hari bisa dilepas. Jangan ditiru ya kelakuan oknum ini, please.

Dan pada nyatanya memang hidup ini tidak adil, jadi ya kita harus bisa belajar menerima keadaan itu. Perlakuan tidak adil itu biasanya sangat menyakitkan. Tapi percayalah bahwa karakter kita tidak akan dibentuk dalam keadaan yang baik-baik saja. Justru dalam situasi sulit dengan orang-orang yang menajdi pahlwan karakter kitalah, kita menajdi pribadi yang lebih baik. Seharusnya menjadi lebih baik asalakan kita meresponinya dengan benar.

Saat karakter kita mau dibentuk menjadi lebih sabar, kita akan diperhadapkan dengan orang-orang dan keadaan yang menjadikan kita tidak sabar. Saat kita mau menjadi murah hati, kita akan dipertemukan dengan mereka yang membutuhkan bantuan kita dimana rasanya sulit untuk memberi. Saat mau belajar mengampuni orang lain, kita akan dipertemukan dengan orang-orang dalam keadaan dimana mereka tidak layak untuk diampuni.

Jadi jika kita bertemu dengan mereka yang menjengkelkan, itu adalah kesempatan kita untuk menjadi lebih baik. Jangan malah menjelek-jelekkan orang tersebut atau merendahkan mereka. Justru di situlah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh.

Jadi musuh tentunya bisa menjadi pahlawan dalam hidup kita. yang penting kita harus dapat menyikapi dan memberi respon dengan benar. Semoga apa yang saya sampaikan ini bisa bermanfaat dan sedikit menyentil hati serta pikiran semua pembaca.

Be blessed!

13 thoughts on “Musuh Adalah Pahlawan Saya

  1. Salam kenal. Mantap. Hidup bila dimaknai, mudah! Intinya kita paham, tulus, ikhlas dan positif thinking dalam proses. Setelah itu baru kita pakai yang baik, buang yang buruk lalu pertahankan agar sekitar kita terbawa baik. Niscaya aura kita baik atau inner beauty kita positif semua ikut po sdr itif. Semakin banyak semakin kokoh.

    Liked by 1 person

Comments are closed.