Mungkinkah Kita Bisa Lepas dari Microsoft Office?

Ketika saya perhatikan, isi pos ketik#4 sangat bervariasi, mulai dari puisi hingga finansial planning. Maka saya coba untuk memberi warna baru pada ketik#4. Saya ingin me-review alternatif aplikasi yang tentu kita gunakan sehari-hari.

Singkat cerita, laptop saya kebetulan habis diinstal ulang dan format total, dan otomatis tidak ada apapun yang terinstal dan tidak ada apa-apa sama sekali. Saya lupa bahwa instalan Office saya juga turut hilang ketika di format. Yang membuat kesal, saya sudah lupa website tempat saya mengunduh Office itu.

Kenapa tidak langsung buka di gig*purbalingga, bag*s31 dan teman-temannya saja?

Saya jujur agak kurang berani untuk mengunduh di situs tersebut. Banyak testimoni yang mengatakan softwarenya sudah di-inject dengan malware (risiko dari dunia bajak-membajak sih). Referensi situs bajakan yang saya cari biasanya dari website Rusia yang saya temukan di Reddit. Saya sudah lupa jejaknya. Oh iya, saya lupa mengatakan bahwa OS saya adalah Windows 10.

Dan mumpung laptop saya sedang kosongan, maka saya mencoba 4 alternatif yang ada : WPS Office, Libre Office, Open Office, dan Only Office. 


Mungkin sebelum melanjutkan bahasan kita, mungkin saya akan mendefinisikan bagaimana saya menggunakan Office sehari-hari.

  1. Sebagai mahasiswa (belum bekerja) yang tentu berurusan dengan mengetik, presentasi, maka Word dan Powerpoint adalah komponen yang paling penting.
  2. Di Jurusan saya yang tidak berhubungan dengan bisnis dan administrasi, (saya masih tahun pertama, belum tahu kedepannya bagaimana) tidak terlalu membutuhkan Excel.
  3. Lingkungan disekitar saya lebih banyak menggunakan Gmail, Google Calendar, dan Google Drive, sehingga Outlook dan One Drive tidak terpakai.
  4. Laptop lumayan sering terkoneksi internet karena kebutuhan dari organisasi untuk  kolaborasi menggunakan Google Docs dan kawan kawannya.
  5. Untuk kebutuhan penulisan ilmiah, saya menggunakan aplikasi semacam EndNote dan Zotero.

1. Libre Office

Libre Office adalah software yang paling pertama saya gunakan. Setahu saya, Libre Office juga lazim digunakan di OS Linux sehingga saya sedikit penasaran. Ketika saya unduh installer nya, ukurannya hanya 301 mb, bandingkan dengan Microsoft Office yang bisa mencapai 1-2 giga.

 

chrome_KkobBE2tDr.png
Ukuran
soffice.bin_EGisul4x2l.png
Produk-produk dari Libre Office

Karena kebutuhan saya adalah untuk mengetik dan presentasi, saya coba untuk membuka Writer terlebih dahulu.

soffice.bin_mqqnKtMMXF
Writer, sepupu Word

Selintas yang saya lihat, Untuk fiturnya lengkap sekali. Bisa dibilang hampir menyerupai Microsoft Office. 

soffice.bin_p4a8nsldv9
Impress, sepupu dari Powerpoint

Singkat kata, setelah saya mencoba untuk beberapa waktu, saya bisa menyimpulkan kelebihan dan kekurangan dari Libre Office dibandingkan dengan alternatif yang lain (soalnya kalau dibandingkan dengan Microsoft Office ya agak sulit perbandingannya hehe).

Kelebihan

  • Semuanya gratis. Tidak perlu ada biaya langganan atau fitur premium yang berbayar.
  • Size installer kecil.
  • Untuk formatting sangat lengkap sekali, dibandingkan dengan alternatif yang lain, menurut saya ini yang paling lengkap untuk fitur-fiturnya.
  • Produk produk seperti Draw (Alat gambar yg lebih expert dari Paint tapi dibawah CorelDraw), Math (untuk notasi matematika), bener bener inovasi yang tidak ada sandingannya dibandingkan dengan alternatif yang lain, bahkan dengan Microsoft Office sekalipun.
  • Cross-platform Windows, Mac, dan Linux.

Kekurangan

  • Untuk User Interface atau tampilannya agak ribet menurut saya, kesan yang pertama saya dapat itu seperti Microsoft Office 2003. Ini sebenarnya masalah preferensi (karena sudah terbiasa dengan Microsoft Office), tapi itu yang membuat saya agak kurang tertarik untuk melanjutkan.
i_view64_G4yJ3nNAYI
Ribbon dari Writer
Word 2016 and 2019 cheat sheet | Computerworld
Ribbon dari Word
  • Untuk anak muda zaman sekarang, untuk template ppt bagus tanpa harus desain menjadi kebutuhan yang agak penting, dan sayangnya Libre Office tidak menyediakan hal tersebut.
  • Tidak ada dukungan cloud, tapi positifnya, Libre Office bisa berfungsi 100% tanpa koneksi internet.

2. WPS Office

chrome_w4QJ30kAHa.png
Anak-anak WPS

Jika dibandingkan denga Libre Office, maka WPS lebih ringkas, hanya ada Document, Spreadsheet, Presentation, dan ada aplikasi khusus untuk PDF semacam Adobe Reader.

wps_SJDHkIaySO

Yang menarik adalah, semua hal diatas terangkum dalam satu aplikasi, tidak seperti Microsoft Office yang berdiri sendiri.

wps_jMVIdvI873
Tiga Aplikasi bediri dalam satu payung

MlMehhpn15.png

Untuk Ribbonnya sendiri bisa dibilang mirip dengan Microsoft Office, bahkan menurut saya lebih rapi dan lebih simpel. Fiturnya sepertinya tidak kalah juga dan tidak ada masalah yang berarti.

Kelebihan : 

  • Tampilannya bagus, mudah dipahami bagi mantan pengguna Microsoft Office, bikin nyaman mata, dan ini adalah poin paling plus menurut saya
  • Cloud friendly, ada fitur collab seperti Google docs, dan ada fitur menyimpan di internet
  • Karena cloud friendly, begitu kita save di laptop, di aplikasi WPS HP juga bisa diakses.
  • Banyak sekali template bagus yang menunggu untuk digunakan, dan desainnya bagus bagus.

wps_SMvmV2nEY5

  • Untuk merge, ubah pdf ke docs, edit, compress PDF, semuanya ada, tidak perlu lagi googling “cara ubah pdf ke word”.

wps_l4So0x6D7O.png

Kekurangan

  • Tidak semua layanan gratis, sekitar empat dollar USD perbulannya, dan untuk beberapa template juga harus berbayar. Tapi paywall premium hanya membatasi beberapa fitur di PDF, jadi kalaupun tidak membayar, fitur Document, Presentation, dan Spreadsheet tidak terganggu.
  • Ada iklan juga.
  • Lumayan butuh internet, jika tidak konek dengan internet maka fitur seperti template, dsb. tidak bisa digunakan. Tapi fitur dasar tidak hilang.
  • Dibandingkan dengan alternatif yang lain, WPS itu yang paling simpel karena hanya menawarkan tiga aplikasi saja (+PDF).
  • Beberapa orang di Forum seperti Reddit sedikit curiga, karena aplikasi ini jika dirunut berasal dari China, sebuah negara yang reputasinya agak jelek untuk handling data personal penggunanya (Ingat Huawei?). Beberapa khawatir dengan potensi adanya spyware dan sebagainya.

3. (Apache) Open Office

soffice.bin_1upOXDbTGG
Anak-anak Open Office

Kesan pertama saya adalah OpenOffice sangat mirip dengan Libre Office, dan setelah saya cari sejarahnya, justru Open Office adalah mbah dari Libre Office.

Singkatnya, Open Office pernah mandeg dan tidak ada update sama sekali dari developer. Komunitas penggunanya dan sebagian dari developer OpenOffice   memutuskan untuk membuat madzhab sendiri, yakni Libre Office.

eOjK24hs5e.png

Sepertinya tidak ada perbedaan yang signifikan. Dari sudut pandang saya sebagai pengguna casual (bukan buat kerja atau komersial), saya belum menemukan perbedaan yang signifikan dengan Libre Office.

4. Only Office

editors_1vVYPJWEUa

Bisa dibilang Only Office mirip dengan WPS untuk tampilannya, dan terlihat disitu ada tiga anak yang dimiliki oleh Only Office.

editors_9tC9cAM3xD.png

Jika dilihat, tampilannya sangat minimalis sekali, begitu pula dengan fiturnya, sesuatu yang agak sedikit disayangkan sebenarnya. Tapi untuk poin plusnya, dia ada fitur cloud, jadi setidaknya ada backupan.


Kesimpulannya adalah ada harga ada rupa. Tidak bisa dimungkiri bahwa Microsoft Office adalah yang terbaik, tapi bukan berarti tidak ada alternatif yang lain.

Saya sedikit mengakui dosa saya jika saya sudah menggunakan crack selama 16 tahun lamanya. Saya sedikit tidak enakan dengan beliau-beliau yang sudah susah payah untuk membuat program yang bagus tapi saya maling gunakan.

Mungkin sejak ini saya mencoba untuk menjauhi sedikit demi sedikit software bajakan, dan untuk sementara ini saya memilih WPS sebagai program utama saya. Doakan supaya saya bisa istiqomah.

8 thoughts on “Mungkinkah Kita Bisa Lepas dari Microsoft Office?

Comments are closed.