Satire Akhir Tahun

“Lo gak akan pernah jadi orang yang open-minded, kalau hanya mau membaca apa yang lo suka dan apa yang lo bisa terima.

Terucap dalam sebuah perdebatan ringan, ketika sedang membahas karya-karya dari Jodi Picoult, Andrea Hirata dan beberapa penulis lainnya. Bukan soal bagus atau tidaknya sebuah karya, melainkan hanya soal pilihan selera.

Saya yang memang tidak pernah suka, sedangkan seorang sahabat tetap memaksa agar saya mau membaca karya-karya mereka.

Kutipan yang menjadi pembuka tulisan, keluar dari mulutnya dengan pedas, untungnya tidak pakai urat. Butuh waktu berhari-hari supaya dapat mencerna perkataan itu. Sampai akhirnya, saya mengerti dan setuju akan maksudnya tersebut.

Kemudian, mulailah saya dipandu dalam membaca beberapa karya dari beberapa penulis yang tidak saya suka. Kebetulan novel yang berjudul Ayah ini, termasuk salah satu di antaranya.

Sebelum post ini tayang, sempat saya kirimkan lebih dulu materi kasarnya kepada sahabat saya tersebut. Tentu saja ia tertawa puas, setengah tidak percaya bahwa akan ada waktunya, saya akan mengulas karya dari seorang Andrea Hirata.

SATIRE AKHIR TAHUN

Adalah bab yang saya pilih untuk diulas sedikit. Tahunan lalu pun, saya tertarik untuk membaca bab ini berulang kali. Ada banyak hal yang dapat diserap dari setiap baitnya.

Jika saya membayangkan sedang memakai sepatu dari seorang Sabari. Saya langsung paham, atas alasan apa harus menertawakan diri sendiri.

Pernah mendengar lagu lama yang berjudul I Started A Joke?

Lagu dari Bee Gees itulah yang terngiang di kepala, saat sedang membayangkan diri ini sebagai Sabari. Saat kehidupan sama sekali tidak berpihak, dan apapun yang saya lakukan tampaknya akan selalu salah. Kemudian pada akhirnya, merasa bahwa hidup saya ini hanyalah sebuah lelucon belaka.

Hidup memang gemar bercanda, maka selalu bersiaplah. Karena terkadang, materi komedinya sungguh terlalu.

Dari bab ini juga, saya menangkap sebuah pembelajaran akan pentingnya manajemen perasaan dan pikiran.

Satire Akhir Tahun merupakan sebuah bab yang sangat penting dalam novel ini. Sebuah fase awal dari delapan tahun ‘penataran mental’ Sabari, sebelum kembali mampu untuk melanjutkan kehidupannya.

*

Rasanya cukup sekian ulasan singkat dari saya.

Terima kasih telah membaca dan mohon maaf jika ada kekeliruan persepsi. Sehat selalu bagi kawan-kawan semua dan keluarga.

C’est Tout!