Bab Pertama Novel Ayah

Sumber: idntimes.com

Kali ini, saya mengerjakan KETIK-9 yaitu mereview salah satu bab novel Ayah karya Andrea Hirata. Agak berat untuk menyelesaikan tantangan ini, sejujurnya. Tak hanya persoalan judulnya yang bikin saya auto mellow dan ingin terus berkelit, kemampuan saya mereview buku yang masih payah juga sempat membuat saya kurang percaya diri lantas urung mempublikasikan tulisan ini. Namun, KETIK bukanlah KETIK jika membiarkan anggota Ikatan Kata jalan di tempat saja. Inilah sisi baiknya, karena dengan KETIK-9 ini saya melangkah maju untuk belajar mengomentari buku.

Saya memilih bab pertama pada novel Ayah yang berjudul Purnama Kedua Belas untuk saya ulas. Menyelami bagian pembuka ini, saya tidak lagi terkagum-kagum dengan gaya bahasa yang khas dipakai Andrea Hirata bercerita. Latar Belitongnya yang kental, unsur spiritnya yang kuat, juga bahasanya yang terasa mendayu-dayu dalam setiap suasana cerita yang ia ciptakan, entah itu bahagia atau duka lara, semua itu saya temukan di novel-novelnya yang lain. Tak terkecuali di permulaan novel ini. Sekali gigitan langsung terasa Andrea Hiratanya.

Purnama Kedua Belas dirangkai dengan kalimat yang cenderung pendek-pendek sehingga kita tidak dibikin capek saat membacanya. Dan setelah saya lihat bab-bab selanjutnya secara random pun, penulis kelihatannya konsisten menggunakan kalimat pendek-pendek tersebut. Saya teringat penuturan penulis kondang Habiburrahman El-Shirazy, “Jika menulis dengan kalimat pendek bisa dilakukan agar pembaca lebih  mudah memahami isi tulisan, maka tidak perlu menggunakan kalimat yang panjang lebar dan bertele-tele.” Sosok genius Andrea Hirata tentu sudah lihai memainkan hal ini untuk memuaskan pembacanya.

Novel-novel Pak Cik memang bagus dan inspiratif, tentu tidak mudah bagi saya menemukan kekurangannya. Meski demikian, saya bukanlah penggemar karyanya. Ada kalanya saya tidak merasa cocok dengan gaya berceritanya yang lurus-lurus saja, selalu tentang kebaikan dan semangat hidup dari si tokoh utama sehingga pembeberan hikmahnya sangat jelas di mata pembaca. Benar. Terkenalnya penulis memang tidak menjamin saya menyukai buku-bukunya.

Dan, novel Ayah ini termasuk novel Pak Cik yang tidak saya inginkan, berbeda dengan beberapa novelnya yang lain. Mungkin saya berpikir pendek untuk tidak membacanya lantaran judulnya yang (bagi saya) terbuat dari 100% sendu. Jadi, begitu saya membaca bab pertama (dengan sedikit terpaksa), saya urungkan niat menjajaki bab berikutnya. Cemen banget, ya? Padahal, tadinya saya hendak memaksakan diri menuntaskan keseluruhan babnya supaya feelnya dapet, sehingga menulis reviewnya jadi lebih mudah.

Sekian. Terima kasih KETIK-9 atas tantangannya.

8 thoughts on “Bab Pertama Novel Ayah

  1. Sebenarnya kalau jadi dibaca hingga tuntas, justru kamu akan mendapatkan plot twistnya.

    Tetap semangat menulis, De. Aku tahu KETIK ini terkesan berat untukmu atas alasan tertentu. Tapi sekarang sudah lega kan?

    Yuk kanjuf ke tahap berikutnya.

    Liked by 2 people

      1. Alhamdu lillah. Iya lumayan hehe. Kegiatan ada terus jadi harus berusaha sehat.. Oiya sebetulnya aku mau kirim pesan ke kak fahmi tapi blm jadi-jadi ini 😂🙏

        Like

Comments are closed.