Hari Yang Sial

Sungguh, hari ini benar-benar sesuatu. Hari yang naas, kalau bisa dibilang. Ya, sial … benar-benar sial bagiku. Hari yang menghancurkan hidup dan masa depanku.
Seandainya waktu bisa diputar, ah tapi itu mustahil. Namun, yang bisa kulakukan saat ini memang hanya itu. Berandai dan berandai.

Seandainya Mira tidak ke rumah kakeknya, seandainya aku tidak membukakan pintu untuk Roni, seandainya tidak kuturuti ajakan Roni dan banyak seandainya yang berkelebat di otak ini.
Kalau saja Mira tidak pergi maka pasti aku menghabiskan hari ini bersamanya. Ini hari Minggu, hari kebersamaan kami.

Sebenarnya, aku mengawali hari ini dengan baik-baik saja. Roni datang, mengajak mancing dan sorenya kami pulang dengan tawa gembira.

Semua berawal dari ide iseng Roni saat perjalanan pulang. Kami sudah mau pulang ke rumah namun ketika sepeda motor sudah aku belokkan ke jalan menuju komplek, Roni mengatakan kalau masih ingin jalan lagi.

“Ayolah Yud, jalan lagi. Masih jam kecil ini, terlalu cepat kita pulang. Kita lewat depan kampus sana yok, biasanya sore begini banyak cewek cantik sedang olahraga sore di sana. Sesekali boleh dong kita cuci mata, menikmati keindahan ciptaan Tuhan.” kata Roni.

Sialnya, aku menurut padahal biasanya sama sekali tidak pernah tertarik untuk hal yang konyol begitu.

Ternyata perkiraan Roni meleset, tidak ada cewek cantik yang sedang olahraga. Suasana lapangan kampus maupun sepanjang jalan di sekitarnya malah sunyi. Kami lupa kalau ini masih masa pandemik Corona, jadi wajar tak ada mahluk seperti yang dikatakan Roni tadi.

Jalanan lengang, hanya ada seorang cewek dengan seragam minimarket merek terkenal yang tersebar di seantero negeri. Sepertinya baru lepas shift dan mau pulang. Berdiri seperti menunggu seseorang lengkap dengan tas sandang di jalan seberang minimarket. Pandangannya tak lepas dari ponsel dan tangannya sibuk mengutak-atik benda segiempat tersebut.

Entah apa yang merasuki Roni, tiba-tiba dia mencetuskan sebuah ide gila. Dan entah apa juga yang merasukiku, aku tidak melarang malah seolah mendukung apa yang akan dia lakukan.

Semua berlangsung begitu cepat. Aku menjalankan sepeda motor dengan kecepatan sedang, berbalik ke arah cewek minimarket berdiri. Kemudian ponsel di genggaman si cewek pun berpindah ke tangan Roni dan dia menyuruhku untuk melaju kencang. Aku masih mendengar jeritan histeris minta tolong disusul teriakan “jambret”. Aku juga masih sempat melihat dari spion kalau si cewek dihampiri seorang dengan seragam ojek online.

Semua terjadi begitu cepat dan seperti mimpi. Ternyata si cewek tadi dibonceng oleh si pengemudi ojek online mengejar kami. Sepertinya si pengemudi itu pembalap juga, buktinya jarak kami sudah dekat padahal rasanya motor sudah melaju kencang. Si cewek juga terus berteriak sambil menunjuk ke arah kami, hal yang membuat pengendara lain pun turut berbalik mengejar.

Aku panik, Roni juga. Tapi anehnya si Roni bukannya melepaskan ponsel di tangannya malah memberi instruksi supaya kami masuk ke sebuah jalan. Ternyata jalan tersebut jalan buntu, yang ada hanya persawahan dan padang ilalang.

Melewati padang ilalang yang setinggi orang dewasa tersebut, Roni melompat dari sepeda motor dan berlari entah ke mana.

Tinggallah aku sendiri, panik dan ketakutan. Aku sama sekali tak bisa berpikir lagi. Sementara suara motor dan suara teriakan riuh semakin mendekat.

Di tengah kepanikan, aku melihat sebidang sawah dengan padi yang sudah tinggi. Sepeda motor pun kujatuhkan begitu saja dan berlari ke sawah tersebut, bersembunyi di sana, tiarap di tengah padi berteman lumpur dan gatal yang tak tertahankan.

Sementara di sekitar sepeda motor sudah semakin banyak orang termasuk si cewek minimarket tadi. Dari tempatku berada aku bisa melihat mereka, ada yang memeriksa sepeda motor, ada yang berkeliling memeriksa semua tempat.

Sepertinya aku aman, tak ada yang melihat. Dalam ketakutan, sebenarnya aku ingin berdoa tapi akhirnya niat itu batal karena rasanya tak pantas berdoa untuk sebuah kesalahan yang dilakukan. Hanya mampu berharap semoga orang-orang itu menyerah dan meninggalkan lokasi. Karena sungguh aku tak tahu sampai berapa lama akan bertahan dalam persembunyian. Bau dan gatal sangat menyiksa. Seumur hidup belum pernah masuk ke lumpur sawah seperti itu.

Harapanku kandas, seorang pria paruh baya berjalan ke arah persembunyianku. Meneliti setiap rumput dan jejak. Dan akhirnya berdiri persis di hadapanku. Aku tertangkap, tak mampu berkutik lagi, diseret ke tengah-tengah mereka.

Aku berusaha membela diri dengan mengatakan hanya ikut-ikutan, baru pertama kali melakukan dan barang bukti tidak ada di tangan. Namun mereka tak peduli. Satu persatu bogem mentah bersarang di tubuh, bahkan ditelanjangi. Sepertinya mereka emosi karena di tempat tersebut sering terjadi hal serupa dan menganggap kami adalah pelaku setiap kejadian, itu kudengar dari pembicaraan mereka. Sementara itu beberapa orang juga nampak merekam kejadian dengan ponsel masing-masing, bahkan beberapa merekam wajahku dari jarak dekat. Sampai akhirnya polisi datang dan membawaku ke Polsek.

Dan, di sinilah aku sekarang, dalam ruangan terali besi tempat tahanan ini. Sakit seluruh raga tapi hati ini lebih sakit lagi. Hari ini masa depanku musnah, tak ada yang percaya dengan penjelasan ku. Mama tidak mau mengunjungi, hanya Abang yang datang dan menghadiahkan satu bogem lagi di pipi.

Aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi hari esok. Mira mungkin percaya dengan kata-kataku, tapi bagaimana dengan keluarganya? Ah, entahlah … otakku sudah buntu, yang kuharap sekarang adalah lantai tempatku berada terbelah dan menelan seluruh tubuh ini.

Gassmom, 060620

Cat. Tulisan ini dalam rangka mengerjakan #ketik19 yaitu menulis cerita yang memuat salah satu dari emosi manusia: “malu”. Dengan syarat tidak menuliskan kata “malu” dalam tulisan tersebut.

Pict. Dokumentasi Pribadi

8 thoughts on “Hari Yang Sial

  1. Mantap, Mommy.

    Tetiba aku teringat kejadian yang sama. Saat hendak menyeberang jalan menuju kantor dan HP sedang aku genggam dan tanpa diduga hilang seketika karena dijambret.

    Aku bisa merasakan hal yang dialami Cewek Minimarket itu.

    Liked by 2 people

      1. Sepertinya baru lepas shift dan mau pulang, berdiri seperti menunggu seseorang lengkap dengan tas sandang di jalan seberang minimarket. (setelah kata pulang sebaiknya gunakan tanda titik dan tambahkan kata ganti di kalimat berikutnya. Sehingga tulisannya menjadi —————– Sepertinya baru lepas shift dan mau pulang. Ia berdiri seperti menunggu seseorang lengkap dengan tas sandang di jalan seberang minimarket.)

        Dan entah apa juga yang merasuki ku (merasukiku)

        minta tolong disusul teriakan jambret (beri penegasan bahwa itu memang teriakan ———-
        minta tolong disusul teriakan, “Jambret.”

        berlari entah kemana (ke mana)

        Liked by 2 people

  2. Kisah penjambretan yang menegangkan dan berhasil mendiskripsikan rasa “malu” si pelaku kejahatan. Mengena, keren dan semakin bagus nulisnya, Ito.

    Liked by 1 person

Comments are closed.