Categories
KETIK

Tujuh Kawan Dekat

Cukup sulit bagi saya dalam menyusun materi tulisan ini. Bagaimana caranya mendeskripsikan tujuh kawan terdekat, bila tidak sebanyak itu yang rasanya dapat dianggap dekat.

Meskipun ada, bisa jadi yang bersangkutan malah merasakan hal yang berbeda. Jadi, mohon maaf bila ada perbedaan atau juga kekeliruan persepsi dalam tulisan saya ini.

Lalu siapa saja tujuh kawan terdekat di sepanjang hidup saya?

  • Pak Kur

Saya merasa sangat beruntung karena sempat mengenal pria ini. Berkat dia, saya jadi dapat belajar tentang etos kerja, cara mengatur keuangan, bahkan cara menimbang segala sesuatu sebelum memutuskan sebuah tindakan.

Pak Kur merupakan atasan pertama saya, saat masih bekerja sebagai pramuniaga di toko elektroniknya. Walau kami berbeda ras, tapi ia menganggap semua karyawan seperti adiknya sendiri. Bahkan sampai sekarang ini.

Penampilan Pak Kur hampir serupa dengan profil seorang engkoh-engkoh yang sering ditampilkan di layar kaca. Lengkap dengan kacamata dan gaya tertawanya yang sangat unik.

Sudah hampir setengah tahun saya tidak mendengar kabar dari beliau. Mungkin setelah ini, saya akan coba untuk menghubunginya.

  • Binggo

Tubuhnya tegap, ototnya kekar dan gongongannya menyeramkan. Iya, Binggo bukan seorang manusia. Ia adalah seekor anjing dengan jenis doberman.

Binggo mulai tinggal di rumah saat saya masih berseragam putih dan merah. Ia tidak mengenal apa itu yang namanya kandang dan terbiasa tidur di bawah tempat tidur saya.

Sebenarnya, Binggo lebih tepat disebut sebagai sahabat dari ayah saya. Karena dua bulan setelah ayah saya dipanggil Tuhan, Binggo bersikeras untuk menyusul ke sana.

Selama dua bulan nonstop, Binggo tidak doyan makan, lesu, dan selalu berdiam diri pada setiap harinya. Dokter pun tidak dapat menemukan apa penyakitnya. Kemudian seperti yang sudah kami perkirakan, ia melepas nyawa saat sedang dirawat di dokter hewan.

  • Andriani

Agak lucu bila harus bercerita tentang kisah pertemanan yang satu ini. Awalnya, saat SMA memang kami sudah bersahabat cukup lama. Kemudian memutuskan untuk berpacaran, hanya bertahan selama dua minggu, lalu akhirnya bersahabat kembali saja.

Terakhir, saya bertemu dengannya pada bulan februari kemarin. Saat anak pertamanya berulang tahun yang ke-3. Ia jelas-jelas sudah sangat tampak berbeda bila dibandingkan sewaktu SMA dulu.

Untuk deskripsi fisik lebih jelasnya, tidak akan saya tuliskan di sini. Biarlah seorang wanita menjabarkan fisiknya sendiri. Akan panjang urusannya, bila sampai salah mendeskripsikan sahabat saya yang satu ini.

Tapi yang pasti, intensitas frekuensi kebawelannya semakin luar biasa. Baru kemarin lusa, lewat sambungan telepon, saya terkena semprot karena lupa menyampaikan pesannya kepada ibu saya.

  • Cepot dan Rambo

Keduanya merupakan kucing jalanan yang saya pungut dan pelihara saat sedang tinggal lama di perantauan. Tadinya saya kira mereka sama-sama berkelamin jantan, tapi ternyata Rambo adalah seekor betina.

Jadi mau tidak mau, saya harus mensterilkan keduanya. Tentu saja agar tidak beranak pinak di rumah kontrakan. Lalu hasilnya, Cepot dan Rambo semakin bertingkah seperti layaknya bos besar. Makan, tidur, main sebentar di kasur, bongkar rak sepatu, bikin kotor handuk, kemudian makan lalu tidur lagi.

Cepot berwarna hitam dengan ekor yang buntung, mungkin karena kerasnya hidup di jalan. Sedangkan Rambo, berwarna putih dengan corak abu dan lebih galak daripada seekor anjing doberman.

  • Sabatias

Kami bertemu di belakang kelas 1-C pada suatu sore semasa SMP. Ketika itu, kami berdua sama-sama sedang menunggu giliran untuk dirundung oleh beberapa senior. Alhasil, peristiwa tersebut malah membuat persahabatan kami mulai terjalin.

Butuh waktu berbulan-bulan bagi kami berdua, untuk meyakinkan angkatan kami agar mau melawan balik, bila anak-anak kelas dua dan tiga mulai kembali bertingkah. Dan akhirnya terjadi ‘perang saudara’ di sekolah kami.

Dulu tubuhnya sangatlah kurus, tapi sekarang sudah begitu proposional. Yah, bisa dibilang tipikal cowok kosmopolitan khas ibu kota. Walau begitu, Tias dan saya masih merupakan partner in crime yang cukup kompak sampai saat ini.

  • Lucky

Lucky adalah seekor anjing lagi. Tahun lalu, ketika memutuskan untuk kembali pulang ke kota kelahiran, saya merasa ada yang kurang di rumah jika tidak ada hewan peliharaan.

Kebetulan saat itu, lewat sosial media, adik saya menemukan berita tentang seekor anjing yang dibuang oleh pemiliknya. Tidak butuh pikir panjang bagi saya untuk segera mengadopsi anjing tersebut.

Lucky merupakan anjing yang cukup pintar dan baik sebenarnya. Jadi bingung juga, apa alasan pemilik sebelumnya membuangnya di jalan. Tapi apapun alasannya, membuang hewan peliharaan begitu saja di jalan, bukan sesuatu yang pantas untuk dilakukan.

Saya masih belum paham benar, Lucky adalah hasil persilangan dari jenis anjing apa saja. Kemungkinan ada turunan mini pincher, chihuahua dan dachshund. Tapi yang jelas, ia berwarna coklat tua dan tingginya hanya seukuran betis orang dewasa.

Rasanya cukup sekian dari saya. Sehat selalu bagi anda, keluarga dan kawan-kawan terdekat anda.

-C’est Tout-


Catatan :

Materi tulisan ini, dikerjakan sebagai tugas penulis pada tantangan ketik#7.

By Rakha

Percaya pada Surealisme | Pekerja Industri Kreatif | Kopites | Belum Pernah ke Dokter Gigi | Art Enthusiast | segigitabiru@gmail.com

5 replies on “Tujuh Kawan Dekat”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s