Categories
KETIK

Sepuluh Tahun dari Sekarang

Dear Ayu,

Tidak terasa sudah sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun setelah tahun-tahun penuh perjuangan. Tahun-tahun yang penuh dengan waktu kurang tidur, kerja keras, dan air mata.

Setelah sapuluh tahun berlalu, aku berharap ketika kau membaca lagi tulisan ini, kau berada dalam keadaan yang bahagia, sejahtera dan masih bersemangat seperti pada saat aku menulis surat ini. Sampai pada titik ini, pasti banyak yang kau korbankan. Meskipun demikian, itu semua memang harus kau lalui agar kau dapat berada pada titik ini, sekarang dan saat ini.

Setelah sepuluh tahun berlalu, aku berharap agar kau dapat menyadari bahwa segela penderitaan, pengorbanan dan jalan yang kau lalui selama ini adalah cara Tuhan untuk mengajarkanmu agar lebih dekat dan lebih mengenal Dia. Aku harap kau sadar bahwa kau adalah wadah bagiNya, bagi rencanaNya yang lebih besar dari dirimu sendiri. Semoga kau tidak menjadi sombong dengan apapun yang kau miliki, dan tidak menjadi terlalu kehilangan pada sesuatu yang tidak kau miliki. Semuanya memang sudah tertulis demikian, dan aku harap kau berbahagia dengan apapun yang ada pada saat ini, sekarang.

Aku berharap kau masih terus menulis sekarang. Sudah berapa banyak tulisan yang kau terbitkan? Sudah berapa banyak buku cetak yang kau terbitkan atas namamu?. Tapi, kau tahu bahwa bukan jumlah terbitanlah yang penting, tapi manfaatnya. Aku ingin menanyakan pertanyaan yang tepat sekarang,

“Sudah berapa banyak jiwa yang kau tolong dengan tulisan-tulisan yang kau hasilkan?”

Semoga sampai saat ini, kau masih menyimpan dan memiliki semangat ini, yaitu menulis untuk kebaikan.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih mempertahankan kebiasaan membacamu?. Aku berharap saat ini, lebih dari dua buah buku yang berhasil kau selesaikan setiap minggunya. Kau tahu bahwa membaca adalah kegiatan untuk menimba kekuatan. Kau menemukan ketenangan dan kekuatan untuk melangkah dari bacaan-bacaan yang kau konsumsi, selain berdoa tentu saja.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih merawat pasien-pasienmu secara aktif? Aku harap, setelah tahun-tahun berlalu, kau tidak berhenti untuk memberikan asuhan keperawatan kepada siapapun yang membutuhkan. Keahlianmu bukan hanya untuk orang yang sakit, tapi juga yang sehat. Aku harap kau masih ingat alasan mengapa melayani sesama itu penting bagimu. Aku juga berharap, setelah tahun-tahun berlalu kau semakin sadar bahwa ketika kau membantu orang lain dan keluar dari dirimu sendiri, bukan kau lagi yang bekerja, tapi Tuhan yang diam dalam dirimulah yang bekerja dan mengambil alih. Jangan terlalu sombong dengan dengan apapun yang sudah kau kerjakan, tapi bersyukurlah bahwa dalam dirimu Tuhan bekerja dan melalui tanganmu Tuhan menyalurkan berkatNya.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih juga takut? Apakah masih kurang nyenyak tidurmu? Aku harap, setelah tahun-tahun berlalu, kau bisa mengikis rasa takutmu atau setidaknya mengubahnya menjadi kekuatan. Aku harap, kau masih ingat bahwa jika kau harus takut, takutlah pada kekuatan yang tidak hanya bisa membinasakan tubuh, tetapi juga membinasakan “jiwa”. Aku harap, kau bisa hidup bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk orang-orang yang kau kasihi bahkan untuk orang-orang yang tidak kau kenal.

Setelah sepuluh tahun berlalu, sudah berapa banyak orang-orang yang hilang dari pelukanmu? Aku harap kehilanganmu tidak sebanyak jumlah orang-orang yang kau temukan dalam hidupmu. Aku harap, kau juga tidak menyalahkan dirimu atas kehilangan-kehilangan yang terjadi. Jika niatmu tulus, dan cintamu cukup, tidak ada kehilangan yang tidak berarti.

Saat menulis ini, aku tidak mengkhawatirkan keputusan apa yang akan kau ambil sehingga kau berada pada titik sekarang. Apapun yang terjadi, dan keputusan apapun yang kau ambil, kau selalu berhasil untuk belajar dari apapun yang terjadi. Aku hanya berharap agar kau tidak terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, aku berharap kau giat mencari alasan ini bukan untuk membenarkan dirimu sendiri, tapi untuk lebih memahami bahwa ada kuasa yang lebih besar dari dirimu sendiri, yang mengatur semua ini. Lalu, menerima semua yang terjadi dengan rendah hati dan hati yang lapang.

Aku tidak khawatir pada seberapa banyak luka yang mengiris hatimu. Aku harap kau masih percaya apa yang diucapkan Gong Yoo pada salah satu wawancaranya, bahwa hal seperti ini “tidak apa-apa”. Aku harap kau pun masih ingat bahwa belajar dari apapun yang terjadi, itulah yang terpenting.

Setelah sepuluh tahun berlalu, aku harap kau bertumbuh semakin menjadi dirimu sendiri. Aku tidak berharap saat ini kau menjadi lebih bijaksana. Tapi, setidaknya kau tidak menjadi salah seorang penyumbang kekacauan bagi dunia.

So, that’s it.

Saat aku menulis surat ini, keadaaan dunia benar-benar kacau. Sebuah pandemi besar terjadi dan membuat banyak populasi manusia harus diam di rumah dan melindungi diri mereka. Kau adalah bagian dari orang-orang yang berperang melawan virus ini dan saat menulis surat ini aku tidak yakin apakah peperangan ini akan kita menanngkan. Tapi, sama seperti legenda kotak pandora, apapun hal buruk yang dikeluarkan dari kotak ini, harapan selalu ada di sana, dan itu adalah kekuatan untuk melewati semua ini. Aku tidak kehilangan harapan, dan aku harap sepuluh tahun dari sekarang kau pun demikian.

Salam dari masa sekarang, dari dirimu yang masih sangat muda sepuluh tahun yang lalu. Tidak apa-apa, meskipun surat ini berasal dari 10 tahun yang lalu, tapi tetap saja aku yang sepuluh tahun yang lalu, adalah bagian dari dirimu saat ini juga.

Sincerely,

Dirimu sepuluh tahun yang lalu.

By Ayu Frani

Hi !, Ayu is here! I am a passionate nurse who enjoys reading and writing in her spare time. Hit me on Mariafrani10@gmail.com

6 replies on “Sepuluh Tahun dari Sekarang”

Superb, Ayu. Semoga semua ketakutan sirna. Semua harapan terlakaana.

Sedikit koreksi untuk Nya yang merujuk pada Tuhan, beri tanda -, misal, “Ini adalah karunia-Nya.”

Aku mau titip satu pertanyaan untuk Ayu di sepuluh tahun mendatang. “Hai, Ayu. Sudah punya anak berapa di tahun 2030? Apakah sudah mengungguli Mommy Sondang? Xixixixi…”

Liked by 1 person

Terima kasih, Kak. Sepertinya ketakutan itu biar saja ada, Kak hahahaha. Saya mungkin harus hidup berdampingan dengan si ‘takut’.

Ia, saya lupa lagi dengan tanda hubung itu. Terima kasih atas koreksinya, Kak.

Hi, Ayu sepuluah tahun yang akan datang. Jangan lupakan pertanyaan ini hahahaha.

Liked by 1 person

Bah, kenapa aku dibawa2🤔🤔
Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
1. Karena banyak anak samasekali tidak keren
2. Karena Ayu orangnya penuh perencanaan, semua dipikirkan matang2 bukan seperti aku yang lebih suka mengikuti aliran sungai, menikmati pemandangan dengan slow dan berpikir yang terjadi ya terjadilah

Liked by 1 person

Saya setuju dengan pernyataan ini. Banyak mereka yang bercerita pada saya mengatakan hal demikian. Ketika masih lajang, tidak usah terlalu banyak teori, ketika sudah menjalani masa pernikahan, semua teori kadang tidak terpakai katanya.

Like

Ia, Mami Sondang. Ini kerjaan Kak Fahmi wkwkwk.

Ayu saat ini belajar untuk melepaskan dan tidak ingin terlalu pusing dengan apapun yang terjadi. Bodo amat mau bagaimana hahaha.

Ayu fokus untuk menjalani apapun yang ada sekarang, memandang masa depan sedikit berat akhir-akhir ini wkwkwk

Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s