Categories
KETIK

Seven Heroes in My Last Year at College

Yuuuw, begitu baca isi tugas dari Ketik 7, aku senang karena pembahasannya adalah pembahasan yang aku suka. Bagiku sendiri sebenarnya nggak mudah untuk bisa mendeksripsikan seseorang. Tapi ini bagus sih,  sebagai upaya untuk bisa menjadi calon penulis andal yang pandai menggambarkan sesuatu (baik seseorang, benda, hingga suatu peristiwa).

Jujur aja, dari sekian orang yang dekat denganku, cukup sulit juga untuk memilih tujuh orang saja di antara mereka. Dan, bagi teman-temanku yang mungkin baca ini, jangan sampai salah paham, yaa. Tidak disebutkan di sini bukan berarti tidak dekat, hanya saja slotnya tidak cukup. Hahaha..

Setelah merenung cukup lama, kini telah kuputuskan mereka sebagai tujuh orang terdekatku. Kali ini kupersempit lingkupnya menjadi hanya lingkup teman kuliah saja.

Mari kuperkenalkan kalian kepada…

 

IMG_2865
(Dari kiri) Amel, Mbak Niken, Deyo (aku), Shinta, Cho

Amel

Lengkapnya Nuramalia Kusuma Wardani. Wanita cantik ini berasal dari Jawa Timur. Kulitnya putih bersih. Yang paling kusuka darinya adalah hidungnya yang mancung dan matanya yang sedikit sipit. Mungkin kalau dia lama tinggal di Korea Selatan, ia akan bisa menyaingi cantiknya wanita Korea.

Namun, membayangkannya membuatku sedikit geleng-geleng kepala. Karena, entah kenapa, gurat-gurat wajahnya lebih menggambarkan ia seperti wanita berdarah Arab daripada Korea. Penggambaran ini juga didukung dengan rambut bergelombangnya yang pirang alami. Bibirnya yang tipis pun semakin menguatkan pikiranku ini. Hanya saja tinggi tubuhnya tidak setinggi orang-orang Arab yang bisa mencapai minimal 170 cm untuk wanitanya. Aku tak masalah dengan itu. Justru kalau ia setinggi itu, aku akan kesusahan untuk berjalan bersisian dengannya.

Hal lain kusuka juga darinya, ia bisa tertawa terbahak-bahak dengan suara pelan sekali. Itu berbanding terbalik denganku yang langsung pecah bila melihat hal lucu. Kalau aku sedang bersama Amel, aku sering tertawa. Habisnya, ia suka melucu dan itu ‘receh’. Saking recehnya aku sampai tidak bisa menahan luapan tawa. Setidaknya usahanya untuk membuat orang tertawa itu berhasil, daripada aku yang kalau melucu selalu membuat sekitarku malah menjadi sunyi-senyap alias garing. Kalau sudah garing, aku akan jadi bulan-bulannya Amel.

Ah iya, dua hal yang membuat Amel senang, meledek-ledekku dan memakan makanan yang ia senangi (buah-buahan atau makanan restoran atau masakan dia yang berhasil). Kalau sudah begitu, dia pasti melahap makanan sambil sedikit joget-joget dan berdendang dalam hati lalu mengulum senyum.

Shinta

Selanjutnya ialah Shinta Pramintasari. Ia asal Boyolali, tapi jarang bawa oleh-oleh susu hasil perahan orang-orang Boyolali ke kampus. Gitu dia mah.

Dulu ia pernah berkata padaku bahwa namanya memang diambil dari nama salah satu tokoh wayang. Seperti namanya, kecantikan Shinta mampu mewakili kecantikan wanita berdarah Jawa. Kulitnya kuning langsat. Wajahnya juga manis, tapi tidak bikin diabetes, kok. Tubuhnya mungil, membuat siapapun gemas melihatnya.

Seperti Amel, Shinta juga bisa tertawa dengan suara pelan, bahkan tak bersuara sama sekali! Sempat suatu masa, kukira dia sedang tahan napas sambil menunjukkan wajah seperti sedang cekikikan. Eh, ternyata dia beneran cekikikan! Hanya saja suaranya tidak keluar. Ya bagaimana kutahu, suaranya saja tidak ada. Ketawa kok dalam hati?!

Yang kukagumi dari Shinta, dia pandai sekali memasak. Mungkin dulu pas SD dia juga freelance di Warteg. Entahlah. Yang pasti, makanan dia enak-enak. Aku dan Amel awalnya berperan sebagai tester saja, tapi kemudian kami digembleng oleh Shinta agar bisa memasak juga. Digemblengnya macam di sekolah militer. Keras.

Bercanda, ding. šŸ˜¦

Mbak Niken

Setelah Shinta, kuperkenalkan kamu kepada Niken Uswatun Chasanah. Aku biasa memanggilnya ‘Mbak Nik’. Ia asal Temanggung. Siapa yang pernah ke Temanggung? Kalau belum, berangkat sendiri, gih.

Berbeda dari Amel dan Shinta yang kukenal dekat semenjak semester pertama, aku baru kenal dekat dengan Mbak Nik saat kita di semester lima, sekitar awal tahun 2018. Aku dan Mbak Nik terbilang bisa menjadi dekat dalam waktu singkat. Hanya satu tahun saja.

Meskipun begitu, di waktu yang singkat itu, aku bisa melihat sosok Mbak Nik yang juga sosok teladan, gambaran sosok wanita berdarah Jawa yang sesungguhnya. Perilakunya santun, ucapannya lembut. Idaman para pria sekali. Urusan dapur, tidak usah ditanya lagi. Shinta dan Mbak Nik selalu menjadi kapten di dapur ketika kita hendak menyiapkan makanan untuk disantap bersama.

Kesantunan dan kelembutannya disempurnakan juga dengan wajahnya yang sangat manis. Tipe keibuan sekali. Kulitnya juga kuning langsat. Wanita berkacamata dan bertubuh agak mungil ini adalah wanita kuat karena tiap minggunya ia selalu pulang-pergi Jogja-Temanggung menggunakan motor. Jika aku jadi dia, mungkin aku akan mengeluh melulu alih-alih memendamnya dalam hati. Yang pasti, selain dari Shinta dan Amel, banyak juga hal baik yang kuteladani dari Mbak Nik. Dia wanita hebat.

Cho

Dari wanita-wanita kalem, kita beralih dulu ke wanita yang pecicilan bin heboh se-Samudera Hinda-Pasifik. Lengkapnya Nur Cholifah, tapi aku memanggilnya dengan sebutan ‘Cho’, ala-ala nama orang Korea.

Wanita yang datang dari Sragen ini sudah dari sananya suka sekali dengan seni tari dan musik. Wanita berkulit sawo matang persis sepertiku ini punya mimpi yang sangat besar. Ingin jadi dancer profesional, katanya. Kupikir, mimpinya itu suatu hari pasti akan terwujud karena dia punya semangat yang besar akan hal itu.

Ia berambut hitam lebat dan mata belo. Setidaknya ini yang membedakan ia dengan orang-orang Korea nantinya. Dia lebih kalem. Tapi kalau sudah melihat atau mendengar hal lucu, tawaku dan dia bisa jadi saingan, walaupun seringnya aku yang menang, sih.

Tidak hanya Shinta, Cho juga memiliki tubuh mungil. Kalau sudah tersenyum centil, kebanyakan pria akan gemas. Kalau aku, paling tidak langsung memasang wajah datar dan berseru, “Ewh.” yang selalu berakhir dengan dilemparkannya bantal atau buku ke mukaku. Makin peseklah hidungku. Good.

Rini

Setelah sungkem dari dancer rookie bernama Cho, sekarang kita kenalan dulu sama musisi rookie asal Yogyakarta yang memiliki nama panjang RR Wahyu Susetya Rini.

Aku kenal dengan Rini juga dari semester pertama di Unit Kegiatan Mahasiswa Samulnori (ekstrakurikuler yang memainkan alat-alat musik trasional Korea). Ketika itu kita sama-sama memainkan alat musik pukul bernama janggu. Melebihi pendiam dan kalemnya Shinta dan Mbak Nik, Rini benar-benar tidak banyak omong saat kami pertama kali bertemu. Meskipun begitu, ia cukup memberikan kesan pertama yang baik padaku dengan kesantunan dan keramahannya.

Yang kusuka dari Rini, kulitnya kuning langsat cerah. Ada sedikit bintik-bintik di sekitar bawah mata dan permukaan hidungnya. Walaupun dia banyak diam, sekalinya tersenyum, seluruh gurat di wajahnya seolah ikut tersenyum. Kalau tidak salah ingat, aku pernah bilang kepadanya untuk banyak tersenyum. Karena, selain menyehatkan, senyum juga bisa menyebarkan aura positif ke diri kita dan orang sekitar kita.

Hingga kini pun, jika gitar sudah sampai di pelukannya, seringkali ia memainkannya sambil tersenyum. Melalui alunan gitar yang ia mainkan, kadangkala aku bisa menebak suasana hatinya dengan mudah.

Riski

Usai memberi hormat pada sang calon musisi, Rini, kini kita akan berkenalan dengan calon aktor asal Yogyakarta yang bernama Riski Arintaka.

Tidak mau kalah dari teman-teman cewekku yang lainnya, Riski juga termasuk orang yang kalem. Mungkin karena ia juga berdarah Jawa. Namun, entah kenapa, wajahnya sama sekali tidak mengesankan ia sebagai pria berdarah Jawa. Ia baru bisa ditebak bahwa ia orang Jawa ketika ia sudah berbicara. Medok Jogja-nya kental sekali.

Tapi akhir-akhir ini, ia selalu berlagak layaknya anak Jakarta. Seringkali memakai gue-lu ketika bertemu suara via panggilan WhatsApp denganku. Kalau sudah bosan, akan berubah menjadi aku-kamu lagi dengan sendirinya. Maklumlah, sedikit-banyak ia punya mimpi untuk bekerja di Jakarta sebagai seorang aktor film atau sinetron. Mungkin Riski sendiri kalau membaca ini akan tertawa, tapi percaya deh, ia sebenarnya punya modal untuk menjadi seorang aktor.

Wajahnya yang manis sudah cukup untuk memberikan kesan pertama yang baik pada sutradara, kurasa. Aku berani berkata begini karena ia pernah membawakan parodi drama Korea saat kita masih kuliah. Dia berhasil membuat teman-teman satu kelas terhibur dan berdecak kagum dengan aktingnya. Alih-alih menyombongkan diri, Riski hanya tersenyum malu dan berterima kasih kepada semuanya yang sudah bertepuk tangan keras. Memang harus kuakui, aktingnya memang sudah kelihatan semenjak di bangku kuliah.

Johan

Oke. Tujuh orang kan? Nah, ini yang terakhir. Nama lengkapnya Johan Ferdian Juno Rizkinanda. Memang, namanya lebih panjang dari namaku.

Enam orang sebelumnya itu teman-temanku satu jurusan. Sedangkan temanku yang ini, dia dari jurusan dan fakultas yang berbeda dariku, yaitu Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Teman-teman sejurusannya biasa memanggil dia dengan sebutan ‘Juno’, tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Jo’.

Namanya keren, seperti orangnya. Ia suka sekali memikirkan hal yang menurut kebanyakan orang sesuatu itu adalah sederhana, tapi kalau sudah diolah Johan sesuatu itu akan menjadi kompleks. Ibarat sebuah benda, pikirannya Johan sudah seperti benang kusut. Kalau dia sudah asik dengan intuisinya, keningnya pasti akan berkerut dan matanya sedikit menyipit seolah sedang memperhatikan sesuatu di depan matanya, padahal ia hanya sedang membayangkan sesuatu di dalam kepalanya saja.

Isi kepalanya rumit hingga seringkali ia sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk bisa menggambarkan apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Ketika dia sudah asik menjelaskan dan menggambarkan sesuatu, ia akan menggunakan tangannya untuk membantu lisannya jika sedang berbicara di depan umum.

Saat pembicaraan sudah mulai serius, tak akan sering kamu temukan dia tersenyum. Seserius itulah seorang Johan yang kukenal. Uniknya, dia menikmati ‘keramaian’ dari isi kepalanya. Dia menuangkan juga sedikit isi kepalanya ke dalam sebuah tulisan di blog pribadinya.

Selain memenuhi blognya dengan karya tulis, ia juga mewarnai blognya dengan hasil jepretan handphone-nya sendiri. Percayalah, dia salah satu content creator yang kupanuti.

 

 

Ketujuh orang itu adalah teman-teman diskusiku selama kuliah. Ketika di bangku kuliah, memang tidak banyak yang bisa kuajak diskusi secara mendalam seperti mereka. Yah walaupun sebenarnya banyak juga orang yang bisa atau pantas kuajak untuk berdiskusi, tapi tidak banyak yang berada dalam satu kolam pikiran dengan pikiranku, atau biasa kusebut teman sefrekuensi.

Berkat mereka, aku bisa melihat dunia dari berbagai sudut. Perbedaan justru yang menyatukan kami. Tanpa mereka juga, mungkin aku bisa jadi gila sendiri karena pikiran-pikiran dan ide-ide yang berkembang secara membabi buta di dalam kepalaku. Tanpa mereka pula, mana bisa aku menyelesaikan tugas akhirku dalam waktu tiga bulan? šŸ˜€

Walaupun kini kita sudah berpisah, kuharap suatu hari nanti kita dipertemukan di kesempatan yang bagus dan indah. Karena aku selalu bermimpi dan berharap bisa bersama dengan mereka lagi di satu proyek karya seperti ketika di bangku kuliah. Aamiin..

 

 

By Deyo

Start to write, start to work!

11 replies on “Seven Heroes in My Last Year at College”

Teman-teman yang luar biasa. Kalau diringkas khusus yang perempuan, mereka itu cantik, mungil, seni. Disingkat Camuni. Hehe..

Setuju denganmu tentang teman satu frekuensi, Deyo. Setelah usia semakin bertambah, menjalin ikatan pertemanan itu tidak mudah. Karena pernah bertemu beragam orang sebelumnya, seseorang akan lrbih selektif mencari teman ketika ia lebih dewasa.

Like

Hahaha, julukan yang bagus tuh, Mas. Wohoho..

Nah, iya kan, dulu pas kecil pikiranku adalah untuk memiliki teman sebanyak mungkin. Tapi makin ke sini jadi makin berpikir, kualitas jauh lebih penting ketimbang kuantitas. Hehehe

Like

Deskripsiin deyo boleh kagak. Boleh (maksa)

halo oknum bernama deyo

Jujur saja, aku gatau kita mulai deket mulai kapan, tau-tau udah kayak perangko. Aku perangko dan kamu lem nya wkwkwk. Gadis manis (banget) dari karawang. Orang yang selalu memberikan apapun ilmu yang dia punya, dengan sangat ikhlas. Kamu kasih energi positif kesemua orang, spesies model begini langka dey kamu harus bangga. Udah itu aja bagusnya, nanti kamu sombong. Aib ya sekarang, kalo tidur susah dibangunin, bangun bangun langsung panik :). Suka tiba tiba sengaja pasang wajah imut yang tidak tepat, ya aku kaget lah gimana ga dilempar sama bantal. Satu frekuensi sama dia karna bobrok, udah segitu aja. Sekian muahh

Kecup manis
Si cantik si imut si manis (pokoknya semua yang bagus) cho wkwkkw

Liked by 1 person

Banya dan panjang sekali yha.
Makasih sudah membaca dari awal sampe akhir dan niat sekali berkomentar šŸ˜µ wkwkwk

Kukira kecap manis, mau nyaingin kecaplegi?

Like

Iyaap, namanya Johan. Dia blogger lama wkwk. Yang lain belum mulai ngeblog sih mas, masih saya coba bujuk maas.

Wah, Mas Fahmi rajin sekali mengecek link yang kusertakan di pos ini..

Like

Leave a Reply to Nur Cholifah Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s