Kibo dan Luna

Di hutan Afrika terdapat sebuah kerajaan hewan bernama Atamrep Kingdom. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seekor gorila yang besar, kuat, bijaksana dan disegani oleh seluruh hewan. Gorila telah menguasai hutan tersebut dari ratusan tahun yang lalu.

Raja sedang mengadakan audisi untuk mencari pengawal pribadi. Dibutuhkan hewan tangguh sekaligus berwawasan luas untuk ditempatkan di posisi itu.

Kibo, seekor singa muda merupakan salah satu kandidat. Kibo mesti bersaing dengan hewan-hewan lain. Mereka semua mempunyai kesempatan untuk bersaing menjadi pengawal terbaik.

Setiap harinya Kibo menghabiskan waktu untuk melatih diri, kekuatan dan ketangkasan. Walau belum mahir, ia tidak putus asa dan terus berusaha.  Ia sering berlatih di bagian selatan kerajaan bersama dengan teman-temannya.

“Kau pasti yang akan terpilih,” Zambo, seekor tupai menyemangati Kibo.

“Benar. Tak ada kandidat yang sekuat kamu, Kawan,” Renner, seekor jerapah muda memberikan dukungannya.

Kibo tertawa dengan lepas, melihat teman-temannya begitu optimis dan mendukungnya. Dari 10 hewan, hanya satu yang tidak terdengar suaranya. Dialah Luna, si landak tangguh dari Desa Kiwi.

“Apa kau tak yakin dengan kekuatanku, girl? Aku adalah hewan terkuat di hutan.”

Luna membuang mukanya lalu pergi menuju rumah. Di sepanjang malam, ibunya memperhatikan Luna melamun dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu Luna bercerita tentang Kibo yang menurutnya terlalu percaya diri. Kalau tidak hati-hati, Kibo bisa kalah bahkan mungkin celaka.

“Kalau kau khawatir dengannya, kau harus menjaganya,” nasihat sang Ibu tertanam di hati dan pikirannya.

Keesokan harinya, saat Kibo dan teman-temannya sedang berlatih di dekat Sungai Nam, datang segerombolan hyena mendekat ke arah mereka. Seringai khas dan tatapan picik dari mereka, sedikit banyak membuat Kibo dan yang lain menjadi gemetaran.

“Serahkan semua makanan yang kalian punya atau kalian kami serang!”

Seekor hyena yang paling hitam dan tua mengancam mereka. Tetapi Kibo tidak tinggal diam. Dia bersikeras tidak mau memberikan bekal makanan yang telah disiapkannya dari rumah. Sama halnya dengan teman-teman Kibo, mereka menolak permintaan hyena.

Seperti yang telah diperkirakan, para hyena itu marah kemudian menyerang mereka. Satu per satu Kibo dan teman-temannya terjatuh, terluka dan ada yang hampir mati. Ternyata jumlah hyena bukan 7 ekor saja. Terdengar derap langkah-langkah kaki dari kejauhan. Gerombolan hyena yang lain telah datang dan mengepung Kibo dan teman-temannya.

Singa muda itu terluka cukup parah. Kekuatan tubuh yang selama ini ia banggakan, tidak dapat menyelamatkannya. Nafasnya tersengal-sengal dan semakin melemah.

Di saat yang bersamaan, Luna tiba di sana. Sebelumnya ia tertinggal dari Kibo dan yang lain karena Luna bangun kesiangan.

Melihat teman-temannya terluka, Luna segera berlari ke arah rumahnya dan memanggil seluruh keluarga landak. Kemudian mereka bersama-sama berlari menuju Sungai Nam dan menyerang gerombolan hyena dengan melemparkan duri-duri tajam dari tubuhnya ke mata hyena. Merasa kesakitan dan kesulitan untuk melihat, para hyena itu pergi dan lari dari Sungai Nam.

Luna segera menghampiri Kibo dan yang lain.

“Terima kasih atas bantuanmu, Luna,” dengan suaranya yang lemah dan parau Kibo berterimakasih.

Kini Kibo sadar bahwa kekuatan yang ia miliki tidak menjamin bahwa ia bisa menjadi yang terkuat di antara hewan yang lainnya. Dengan kebersamaan, barulah bisa didapatkan sebuah kemenangan.

Kibo bersyukur ia masih hidup. Hari ini ia belajar sebuah pelajaran berharga yaitu tidak boleh meremehkan orang lain, berlaku sombong dan menganggap semua hewan lain itu lemah.

Seminggu kemudian ketika hari audisi tiba, Kibo tidak ikut serta. Tubuhnya masih terluka. Tapi Kibo tidak patah arang.

Setelah diumumkan siapa pemenangnya, Kibo ikut gembira. Ia menyalami Rafael si badak yang memenangkan audisi itu. Rafael akan menjalani akademi militer dan kelas pengetahuan.

“Kau tak sedih?” Luna mengkhawatirkan Kibo.

“Tidak. Ternyata aku masih belum siap dari sisi mental dan kekuatan fisik. Aku masih harus banyak belajar.”

11 thoughts on “Kibo dan Luna

      1. Bagus fabelnya Kang Fahmi. Cerita dan pesan moralnya. Bisa memperkaya cerita anak2 yg mulai tdk terdengar gaungnya ya. Kalah dg game dan konten youtube.

        👍

        Like

  1. Atamrep,,,entah kenapa begitu membaca langsung kubalikkan menjadi permata. Tapi setelah dipikir, ternyata tak nyambung.
    Btw, fabelnya keren. Di saat aku masih membayangkan kancil tapi di sini sudah muncul hyena😀
    Btw, pesan moralnya dapat.👍

    Like

    1. Yes. Atamrep jika dibalik adalah Permata. Kalau kopi dibalik jadi apa?

      Kisah di balik layarnya, diceritakan bahwa kerajaan itu kaya akan sumber daya alam (batu, mineral dan logam). Tak dibahaa di dalam pos karena bisa panjang ceritanya.

      Like

Comments are closed.