Dikejar Zombi

Nafasku masih tersengal-sengal. Sesak sekali rasanya dikejar-kejar zombi. Kukira zombi hanya ada di televisi tapi mereka nyata! Sekarang aku berada di lantai dua sebuah gedung apartemen. Dari jendela dapat kulihat mereka menangkap orang lalu menggigit tubuhnya dan dalam rentang waktu hanya 10 detik, si korban telah berubah menjadi zombi. Yack! Jijik sekaligus mengerikan melihatnya.

RING!

Handphoneku berdering. Ternyata dari Elena.

“Elena, kau baik-baik saja? Di mana kau sekarang?”

“Aku bersama warga lainnya di Lembah Atlas. Di sini ada camp tentara yang sudah tidak terpakai. Cepatlah ke sini, Honey. Aku ketakutan. Apa kau lihat, Rega?”

“Syukurlah kau baik-baik saja. Rega sedang bersama Al. Aku akan menyusul jika keadaan sudah aman.”

Sambungan telepon berhenti. Aku kembali melihat ke jendela. Ke mana zombi-zombi itu pergi? Mereka sudah tidak ada lagi di sana. Lalu aku mendengar jeritan dari lantai satu. Para zombi itu menerobos masuk ke dalam apartemen. Gawat! Aku harus melarikan diri. Sepertinya dering telepon tadi menarik perhatian mereka. Tidak ada tempat lain yang aman di sini selain ke atas. Aku pun berlari hingga sampai di atap gedung. Sesekali kulihat ke bawah. Zombi itu tidak kenal kata menyerah. Mereka terus mengejar.

Dari atap gedung dapat kulihat kegelapan malam. Nicnic City dihiasi oleh cahaya oranye hampir di setiap sudut kota. Cahaya yang berasal dari ledakan-ledakan besar yang kudengar sedari tadi. Apa yang harus aku lakukan? Zombi itu akan segera sampai. Aku melihat ke sekitar atap dan mencari sesuatu yang bisa kugunakan sebagai senjata.

Bingo! Ada sebuah besi panjang tergeletak di dekat pagar pembatas atap. Sepertinya ini bekas tiang penyangga pagar yang sudah rusak. Aku pungut lalu genggam erat-erat dengan kedua tangan. Jantung berdegup sangat kencang. Lebih cepat daripada derap kaki kuda pacu di arena balap.

Peluh yang terus bercucuran tiada henti membasahi pakaian. Dalam hati aku berdoa semoga mimpi buruk ini segera berlalu. Bencana zombi ini jauh lebih berbahaya daripada virus corona yang menjangkiti dunia beberapa tahun yang lalu.

Samar-samar kudengar langkah kaki. Mereka semakin mendekat. Suaranya ibarat sapi yang sekarat di tangan sang jagal. Ah, bukan. Suara mereka lebih mirip seperti suara babi hutan yang sedang marah. Apa pun itu aku sangat tidak menyukainya.

Besi itu kugenggam lebih erat lagi daripada sebelumnya. Saat zombi pertama muncul di pintu atap, tanpa pikir panjang langsung kuhantam kepalanya sekeras mungkin. Kontan saja ia langsung terjatuh. Hatiku masih was-was. Ini baru satu, masih ada puluhan atau mungkin ratusan zombi lain yang akan berdatangan. Aku harus selamat dan bertahan. Jika pun mati, aku tak mau jadi zombi.

Aku sudah punya rencana B yaitu meloncat dari sini. Lebih baik aku mati bunuh diri daripada harus mati lalu hidup sebagai zombi.

Zombi kedua, ketiga, keempat dan seterusnya terus berdatangan. Dengan sekuat tenaga kupukul mereka sekeras mungkin di kepala, tangan, kaki, atau punggung. Pokoknya apa saja yang maju aku hajar.

Zombi-zombi itu berjatuhan tapi bangkit kembali dengan luka dan memar bekas pukulan. Oh, mereka tangguh sekali. Ternyata hanya zombi yang kepalanya hancur hingga otaknya keluar yang benar-benar mati. Jika semua zombi harus dibunuh dengan cara itu maka aku butuh senjata yang lebih baik.

Aku sudah kelelahan. Tangan tidak sanggup lagi memukul. Aku sudah pasrah. Mungkin ini saatnya melakukan rencana B. Dari pintu atap itu muncul zombi lain.

Kakiku bergetar terus-menerus. Apakah aku akan mati saat ini? Di tengah kepanikan, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan beruntun mengarah ke mereka. Tembakannya tepat mengenai kepala.

Ternyata ada sebuah helikopter. Ada lima tentara yang menembaki mereka. Lalu seseorang melemparkan tali tangga. Aku meraihnya.

5 thoughts on “Dikejar Zombi

  1. Lumayan tegang, Kang.

    Sedikit typo: memasahi, mungkin maksudnya “membasahi”?

    Coba ketegangannya lebih ditunjukkan dg bagaimana keringat dingin bercucuran, bagaimana bulu kuduk bereaksi, dst. Kang. Mungkin lebih dramatis.

    Hehe.. just opinion. Aku sendiri blm mencoba dan blm tentu bisa juga.😀🙏

    Mantab, kang Fahmi seperti Yamah, selalu di depan.👍

    Like

Comments are closed.