Untuk Devita Pada Sepuluh Tahun Mendatang

Pada pagi yang cerah ini, aku menuliskan surat untuk diriku sendiri. Agar dapat kubaca ketika sudah masanya, yaitu saat sepuluh tahun mendatang. Yang mana ketika itu, aku sudah berhasil mencapai semua impianku. Mungkin. Atau aku sudah mempunyai mimpi baru dan sedang dalam proses mewujudkannya. Ya, apapun itu, aku yakin jika aku mampu untuk menjadi “pemenang”.

Di tengah kecemasan dunia, dikarenakan virus korona yang merajalela. Aku menuliskan ini untukku (mungkin sebaiknya aku menyapa diriku dulu kali, ya?). Oke, halo Devita di masa depan! Apa kabar? Sudah makan? Sudah nonton? Sudah baca? Sudah bisa konsisten? Sudah bisa mengurangi kemageran, kan? Ya, aku harap sudah semuanya. O iya, masih menulis, kan? Haha, oke-oke. Dari setiap rentetan pertanyaan yang aku utarakan. Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan, jika Devita di masa depan masih menjadi dirinya sendiri. Bisa melewati kecemasan yang tak berarti. Agar, kamu bisa menebar senyum kecerian. Selalu. Sepertinya sudah untuk sapa-menyapa. Aku akan mulai serius sekarang.

Dev (kok rasanya aneh ya, manggil diri sendiri. Oke, abaikan!) Aku tahu pada 2020 ini public speaking-mu buruk sekali. Dan aku pun tahu, ketika berada di keramaian kamu suka pusing. Entahlah, atau jangan-jangan ini karena karakter plegmatis. Yang akhirnya menyusakanmu untuk dapat berbaur dengan lingkungan sekitar. Bahkan saking groginya, kamu pernah tidak mengatakan apa pun di depan mereka. Dan kini, aku sedang berusaha untuk memperbaikinya. Karena itu, aku sangat berharap jika ketika saat kamu membacanya pada 2030 mendatang. Komunikasimu lancar, baik dengan keluarga maupun orang lain. Tidak hanya ketika sedang daring, bahkan saat luring pun kamu dapat menghadapi semuanya.

Kata Kak Daniel, deg-degan itu wajar kok! Jadi, dibawa santai saja. Ingatkan, ketika materi dadakan dimulai, perihal apapun bisa jadi pokok pembahasan. Banyak bertanya, Dev! Buat suasana menyenangkan. Ketika lawan bicaramu hanya bisa membalas “ya” dan “tidak”, ajak dia untuk membicarakan hal yang disukainya! Bukankah begitu? Aku tahu ini tidak mudah, tetapi aku akan tetap berusaha supaya bisa. Tidak ada salahnya untuk banyak omong, asal berguna, bagimu dan orang lain. Aku akan berusaha untuk tidak “menunggu”.

Ya, sepertinya sudah saatnya aku mengakhiri surat ini. Semoga kamu senantiasa dalam perlindungan-Nya. O iya, tidak ada salahnya kok untuk memperbanyak teman. Bukankah, itu akan membantumu dalam memperoleh banyak informasi yang tidak kamu dapatkan ketika hanya membaca dan menonton? Yang penting, jangan gampang percaya! Kamu tidak ingin mengulangi hal yang sama, bukan! Satu lagi Dev, ingat selalu. Tetap jadi diri sendiri apa pun yang terjadi. Jangan redam karaktermu karena seseorang. Sebab, aku adalah dirimu di masa depan. Karena itu, aku akan melakukan yang terbaik (sebisaku) untuk mempermudah diriku di masa depan.

Perasaan tadi, aku sudah ngomong udahan deh. Hah.. oke jumpa lagi pada 2030, Devita. (Kan, rasanya aneh saat nyebut diri sendiri) *plak.

Ps: aku bakalan pasang reminder di gawai kok. Jadi, jangan risau karena melupakan surat ini. Aku tidak akan membiarkanmu melupakannya.

Salam sayang diriku di masa depan. Dari Devita di masa lampau.

190420

9 thoughts on “Untuk Devita Pada Sepuluh Tahun Mendatang

  1. Semangat terus kak devita, aku yakin saat kamu membaca ini di masa depan kamu pasti tersenyum sendiri. Lucu sekali ya aku dimasa lampau begitulah ucapmu dalam hati. Hehe

    Liked by 1 person

  2. Hi Devi…
    Semoga kamu bertemu Devita 2030 ya. Optimis, keinginanmu untuk menjadi Devita 2030 akan sesuai dengan harapanmu. Tetap semangat, ikhtiar dan doa.
    😀

    Liked by 1 person

  3. Hei, pusing dalam keramaian. Aku juga dulu sering mengalami itu. Nggak nyaman dalam keramaian. Ditambah lagi karena nggak tahu mau ngomong apa. Hmm, aku dulu memang introvert pake banget🤦🤦🤦

    Like

Comments are closed.