KETIKA MENULIS PREPOSISI

Beberapa orang menganggap, karya sastra adalah seni, dan sifat seni haruslah membebaskan! “bebas dari segala aturan yang membelenggu bla…bla…bla…” katanya.
Tarik napas dulu, Seniman. Kita bicara pelan-pelan. Seperti katamu, sastra adalah salah satu bentuk seni, itu benar, seni yang bermedium kata dan bahasa. Nah, karena media kita adalah bahasa, alangkah baiknya sambil jalan, kita nyeni berbahasa dengan mengenalnya secara baik dan benar saja dulu. Itu sudah cukup. Dengan kita berbahasa (atau menulis) secara benar atau menaati aturan bahasa yang berlaku, artinya, kita membuat tulisan itu indah (untuk dibaca pembaca, tentu saja!) dan bukankah keindahan merupakan sifat seni yang sesungguhnya?

Nah untuk itu, marilah kita belajar ‘memperindah’ tulisan dengan preposisi! “Apa-apaan lagi ini posisi-posisi, Kisanak?”

Preposisi, menurut KBBI: kata yang biasanya terdapat di depan nomina. Nomina sendiri adalah kata benda yang merujuk pada hal yang bisa dibendakan.
Ngomong-ngomong—ini saya bicara dengan kalian— di atas itu, dari tadi saya ngomong dengan diri sendiri dan anehnya bisa saling sahut-menyahut! Ya, sebelum ‘kegilaan’ saya ini semakin terasa jelas, langsung saja saya praktekkan dengan sedikit kegilaan:

“Pada suatu hari, di kota K….”

“Nah, saranku, Sobat, jangan pernah membukanya dengan kalimat seperti itu.”

“Bagaimana kalau cerita ini dibuka dengan sebuah cuaca?”

“Kau berniat membuang waktuku, sesuatu yang paling berharga bagi kehidupan ini?”

“Yang kedua itu pun masih keliru untukmu?”

“Kenapa tidak kau coba lagi? Meskipun salah, aku akan menghargai itu. Semangatmu.”

Bocah itu berpikir, untuk menyusun kalimat yang ke-3 kalinya. Gagal.

“Aku mau menulis puisi saja! Berpindah ke sana. Cerita terlalu banyak aturan!”

Puisi pun punya aturannya sendiri, tahu!”

“Apa ada hukuman yang ditetapkan seperti aturan-Nya jika aku melanggar?”

“Dalam puisi, segala aturan berbahasa memang boleh kita langgar seperti kata Seniman di paragraf awal tadi,” terangnya, “itu pun, harus punya tujuan yang jelas. Yaitu untuk memperindah maupun memperkuat keseluruhan isi puisi, atau ini, menciptakan kata baru.”

“Jadi seandainya tidak memiliki tujuan untuk itu?”

“Pakailah aturan berbahasa yang ada, yang baik lagi benar.”

Dua orang itu terlihat sangat akrab. Dari caranya berbicara, aku menebak, ini pertemuan mereka yang ke-10.
Tiba-tiba serbuk-serbuk gerimis pun turun. Disusul hujan deras dengan cara yang sama tiba-tibanya. Keduanya memutuskan berlari ke arah yang sama, di depan sebuah warung nasi yang sudah tutup, untuk berteduh.

“Ya Tuhan. Susah sekali. Sampai berapa panjang kira-kira percakapan kita?”

“Apanya, Bung? Kenapa tiba-tiba kau menyebut nama-Nya?”

“Aha! Tidak apa-apa, terima kasih!”

Meskipun hujan masih deras, hari sudah sore, nih. Aku pulang duluan ya.”

“Kau tega meninggalkan aku di sini sendiri?”

“Ayo kalau mau ikut ke rumah.”

“Boleh. Yuk!”
Dan dalam hitungan ke-4 mereka lari ke tengah hujan. Dari jendela ini, aku tersenyum melihatnya begitu karib. Semoga mereka berdua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.

“Pas!”

“Dua puluh tujuh?”

“Tepat.”

“Yeah!”

16 thoughts on “KETIKA MENULIS PREPOSISI

      1. Kopi tubruk. Kopi dgn sedikit gula. Kopi saya bundar! Yeah, lagu itu enak juga didengar, meski nadanya sama persis dgn lagu burung kakak tua. Tapi aku tetep suka.

        Like

Comments are closed.