Dua September

2000+ kata. Selamat gumoh.

Dua September. Selagi mentari masih bertengger, hari itu mutlak milik Hermine tanpa gangguan apa pun. Tidak seorang pun berani menyelami dalamnya lautan yang tersimpan dalam diri wanita yang kini tengah duduk sendirian di atas tumpukan batu. Tidak juga seorang Childebert yang memiliki segalanya.

Koreksi. Childebert memiliki segalanya, kecuali hati sang istri. Dua dasawarsa bersanding di atas singgasana yang sama, belum juga mampu ia buat permaisurinya jatuh dalam pusaran cinta.

Sejak pernikahan mereka dua puluh tahun silam, dua September selalu menjadi hari berkabung Hermine. Ia menjauh dari halai-balai kehidupan sampai mentari lengser dari angkasa. Mengenakan gaun hitam dan duduk bungkam, memandang jauh ke kedalaman hutan. Kemudian larut dalam kecamuk sendiri. Menciptakan selubung pribadi yang tak bisa disibak Childebert sekalipun ingin. Hanya dalam posisi demikianlah Childebert bisa melihat Hermine sebagai sosok manusia, bukannya titisan Dewi yang keras hati dan penuh ambisi.

Hermine masih bergeming. Memanfaatkan satu-satunya kesempatan dalam setahun demi menyendiri, mengenang pertemuan dan perpisahan dengan seseorang yang hanya berlangsung dalam dua hari. Membawa dirinya terisap dalam pusaran ingatan yang menembusi ruang dan waktu.

Ia masih ingat kala kerumunan pasar itu membelah. Memberi jalan bagi derap seekor kuda cokelat tua yang ia tunggangi, usai pekikannya mencuat dalam mezosopran yang sarat kegarangan, “Minggir, semuanya!”

Dengan balutan jubah abu-abu khas proletar, tudung penutup kepala, dan cadar sewarna arang, tiada yang tahu ia seorang Archambault. Satu-satunya ciri bahwa pemilik suara bukan orang sembarangan hanyalah dua bola mata biru yang berpijar tanpa gentar. Hermine Isaline Archambault memang lebih senang tampil dalam penyamaran. Menyaru dengan lingkungan. Menciptakan sosok yang sama sekali berbeda dari sekadar aristokrat ternama yang terkurung dalam puri megah. Ia bukan lagi wanita yang cuma tahu ritual minum teh, pesta dansa, dan menyulam dengan benang emas. Melainkan sosok berpenutup wajah yang merisak kedamaian hidup para bangsawan sesat.

Biasanya aksinya selalu berhasil. Pengejaran kali itu ada di luar perhitungannya. Ketika ia sedang beraksi mengutil persediaan dari gudang anggur milik bangsawan Delacour untuk kemudian ia jual ke pasar dengan harga murah, seorang sena yang berjaga melihatnya. Untuk pertama kali dalam hidup, Hermine lengah akan kemungkinan penjagaan oleh prajurit bayaran selepas persediaan yang menipis secara misterius. Akhirnya, alih-alih membawa pulang barang curian, Hermine malah harus menodong seekor kuda yang tengah menikmati rumput yang tersisa di musim gugur, entah kepunyaan siapa. Kemudian tanpa henti memecut kuda curian dari kejaran pasukan berseragam.

Adrenalinnya mengalir deras selagi gaduh derap pasukan memburu di balik punggung, serta riuh masyarakat mengaduh kian bising. Yang bisa ia lakukan hanyalah memecut dan memecut. Meloncati kepala-kepala, menubruki kereta-kereta, dan membuat sayur-mayur serta buah-buahan yang dijajakan tumpah ke jalanan. Dalam hati, Hermine bersumpah untuk membayar ganti rugi pada para korbannya. Nanti. Saat ini, prioritasnya hanya kabur.

Yang Hermine takutkan bukanlah tertangkap. Melainkan identitasnya terbongkar. Kendati kenekatannya memang sudah tak bisa lagi ditakar, Hermine masih cukup waras untuk tahu bahwa nasibnya akan tuntas jika sampai terkejar. Nama Archambault yang memang sudah luntur selepas ayahnya mangkat, akan semakin tercoreng. Dan, ia akan diasingkan ke belahan bumi yang lain.

Hermine menolak kemungkinan terburuk itu.

Kuda yang ia tunggangi berbelok ke arah stepa. Di sana tengah diselenggarakan ajang pacuan kuda. Cara terbaik untuk menyembunyikan daun adalah di tengah hutan. Dengan metode kamuflase yang sama, Hermine berharap ia tidak sampai ke tangan pengawal.

Sesekali, gadis itu menengok ke belakang. Pasukan pemburu belum terlihat bulu topinya. Dalam tempo singkat, perempuan bercadar mengubah keputusan. Selagi kudanya berderap cepat menuju area lomba, Hermine meremas ujung jubah yang sebelumnya ia tukar dengan dua keping emas. Atensi sewarna lautan kini tak lagi menghadap depan, melainkan terpancang pada padang ilalang rendah di bawah kaki.

Kepalanya sibuk menghitung.

Lima … Belum ada tanda-tanda kemunculan pemburu.

Empat …

Tiga … Kuda tunggangannya masih berderap.

Dua …

Loncat!

Kuda masih berlari, tetapi Hermine sudah menggelindingkan dirinya. Berguling dan kian jatuh sepanjang permukaan tanah yang miring. Pucuk-pucuk ilalang menusuk permukaan kulit, selagi prioritas Hermine adalah melindungi wajah. Karena parasnyalah yang pertama kali akan menjadi perhatian ibunya ketika mereka bersua.

Tubuhnya berhenti berguling dalam kondisi telungkup. Hermine berusaha untuk duduk, sementara tubuhnya nyeri dan kepalanya disergap pusing. Beberapa helai rumput dan daun kering menempeli pipi. Ketika akhirnya ia bisa menguasai diri, gadis delapan belas tahun menyadari kalau cadar dan kerudung yang terbuat dari kain tipis sudah koyak separuh.

Dengan jengkel ia tanggalkan dan campakkan lembar kain yang sudah tidak lagi berguna itu ke sisi tubuh. Menampakkan surai sewarna madu yang mengkilap diterpa sinar matahari, serta wajah pucat khas aristorkrat sejati.

Mulutnya yang masih sibuk berserapah pelan, akhirnya terjeda oleh bibir yang mengatup. Ia mengerjap ketika tatapannya bertumbukan dengan iris milik seorang pemuda yang tengah duduk sendirian. Entah cokelat cerah atau hijau. Yang pasti kontak mata itu mampu melahirkan keheningan nan ganjil …

… yang kemudian dipecahkan oleh suara derap pasukan berkuda di atas sana. Hermine meraup kembali cadar dan kerudungnya, melesakkannya ke dalam jubah murahan yang ia kenakan. Galak matanya melototi pemuda yang masih memerangkapnya dengan pandangan.

“Lihat apa kau?!” bentak Hermine, ketika akhirnya pasukan berkuda sudah berlalu menuju arah yang keliru.

Rasa geli terpancar dalam riak wajah pemuda asing. “Kau?”

“Lancang!”

“Apa ada aturan yang tidak memperbolehkanku melihatmu?” Sang pemuda mengangkat bahunya ringan. “Tidak ada sejenis tulisan, ‘Dilarang melihat. Atau kau akan dikenai hukuman gantung!’ di jidatmu.”

Hermine menggertakkan giginya. Jika saja pemuda dalam jarak dua meter darinya itu tahu siapa Hermine, ia akan sadar bahwa hukuman gantung kelewat murah hati untuknya.

Sebelum sempat Hermine mencetuskan kata-kata balasan, derap kaki kuda kembali mengusik ilalang. Dua orang petugas berseragam mampir ke tempat mereka. Salah satu di antaranya bahkan sampai menghentikan kudanya.

“Hei, kau lihat wanita bercadar dan berkuda yang lewat di sini?” tanyanya.

Si lelaki melirik Hermine sekilas. “Tidak. Ada apa?”

“Ada percobaan pencurian di rumah bangsawan Delacour.”

“Lagi?”

“Ya …. Ini sudah ketiga kalinya, ‘kan? Omong-omong …, kenapa kau di sini, Dimitri? Tidak berjaga?”

Sang pemuda, yang dipanggil Dimitri, mengangkat bahu dengan ringan. “Hari ini aku bebas tugas.”

“Oh.” Penggawa berkuda menjatuhkan atensinya pada Hermine. Membuat jantung sang gadis berloncatan bagai cacing ditaburi butiran garam. “Aku baru melihatmu, Mademoiselle. Apakah—”

Dimitri menyela, “Jangan usik dia, Curtis.” Ada kesan protektif dalam nada suaranya. “Dia hanya gadis biasa. Bukankah kau semestinya pergi memburu pencuri itu dan bukannya menggoda wanita di sini?”

Curtis mengerang. “Baiklah. Kau benar. Sebaiknya aku memburu pencuri sialan itu daripada menggoda wanitamu.” Ia menoleh ke arah Hermine dengan senyum terkulum. “Au revoir, Mademoiselle.” Lelaki itu berseru pada rekan pengawalnya, kemudian hengkang dari sana.

Kala derap kuda mereka beranjak pergi, keheningan yang ganjil itu menyapu kembali. Hermine merasa perlu mengoyaknya demi kedamaian pribadi. Maka ia berkata, “Aku tidak akan menanyakan apa pun maksud pembelaanmu.”

Kepala Dimitri terputar ke arahnya selekas lemparan tombak. “Yah. Kau tidak punya hak untuk itu. Kau juga tidak perlu berterima kasih. Sama seperti aku tak punya hak untuk menanyakan apa yang kau lakukan hingga menggulingkan diri dari kudamu dan sampai ke sini.”

“Sialan kau.”

Pancaran geli tampak jelas dalam lingkar cerah Dimitri yang ditimpa sinar mentari. “Wow-wow. Wajahmu tampak seperti wanita terhormat, tetapi mulutmu lebih kotor daripada kotoran kuda.”

Emosi Hermine terpancing. Amarahnya menggelegak di ubun-ubun. “Lancang!” Seumur hidup, kendati sudah banyak deraan fisik dilaluinya selagi menyamar, belum pernah sekali pun Hermine beroleh penghinaan separah itu. “Kau pria, tapi kelakuanmu lebih rendah daripada pelacur!”

Tanpa diduga, Dimitri malah tergelak lepas. “Yah …, cukup. Kupikir mulutmu belum terlatih untuk bicara kotor. Mestilah kau gadis dari keluarga baik-baik.” Atensinya merayapi busana yang dikenakan Hermine. “Tetapi penyamaranmu lumayan juga.”

Hermine tidak tahan lagi. Ia bangkit berdiri. Menatap murka sang pemuda yang masih cengengesan, seolah tatapannya bisa membakar Dimitri sampai hangus legam dan menjelma abu. Dadanya kembang-kempis menahan luapan emosi. “Jaga bicaramu! Kau harus tahu sedang menghina siapa!”

“Ya. Siapa?” tanya Dimitri santai.

“Aku—” Tidak. Tidak. Tidak. Hermine memejamkan mata, menggeleng. Berusaha menarik kewarasannya kembali bersama carik-carik udara yang ia hela. Ia tidak mungkin mengakui identitasnya begitu saja. Apalagi di hadapan pemuda asing seperti ini.

Alih-alih menjawab, Hermine malah beranjak pergi. Tanpa mengindahkan sesuatu yang jatuh dari bagian dalam jubahnya.

“Hei, kau menjatuhkan cadarmu!” seru Dimitri dari balik punggungnya.

Tanpa menoleh, Hermine balas menukas, “Pakai saja untuk menyumpal mulutmu, Bajingan!”

Gadis itu melangkah pulang. Meredam semua emosi selagi mengendap-endap agar tak ketahuan. Hanya ada seseorang yang ia percaya dalam kediaman megahnya. Seseorang yang kemudian mencuat dari balik dinding dan membawakan gaun dan topi kepunyaannya.

“Terima kasih, Rosaline.” Tanpa peduli malu, Hermine menanggalkan busana jelata yang sudah lecek begitu saja. Kemudian terburu memasukkan dirinya ke dalam dress satin merah muda berhiaskan renda-renda dan rumbai benang emas.

“Aku hampir mati, Mademoiselle. Tadi Madame Archambault—”

“Ssst. Nanti saja. Sekarang bantu aku mengancingkan gaun ini. Sialan. Kenapa mesti ada yang membuat busana seribet ini, sih?”

“Tapi jika saja Anda tahu, Mademoiselle, separuh penghuni negeri ini punya keinginan terpendam untuk bisa mengenakan busana seperti itu, minimal sekali seumur hidup,” timpal Rosaline.

“Busana seperti ini tidak bisa kau pakai lari.” Hermine mengerang. Sebelah tangannya sibuk merapikan tatanan rambut, sebelum ia hiasi dengan topi fascinator. “Nih. Bawa ini ke penatu.”

Belum sempat Rosaline menyahut, sebuah suara kadung menyambar, “Apa itu, Hermine?”

Madame Mauve Archambault, beserta dua pelayan setianya beringsut maju. Bola matanya terpatri jijik pada benda di tangan Rosaline. “Kutanya apa itu?”

“Baju,” sahut Hermine cepat. “Baju Rosaline.”

“Buang itu.” Mauve bergidik. Ekspresinya berubah syok dalam sekian sekon. “Bagaimana bisa kau menyentuh—Ya Tuhan, Hermine. Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?” Tangannya merabai kepala Hermine demi sehelai ilalang kering. “Apa-apaan ini?”

“Itu rumput, Mauve.”

“Aku tahu ini rumput, Hermine. Yang kutanyakan adalah, bagaimana bisa benda itu ada di kepalamu?”

“Mungkin mencelat lalu menempel selagi aku dan Rosaline pergi menonton pacuan kuda.”

Mauve menggeleng-geleng. Mengempaskan batang rumput kering begitu saja. “Jangan urus peristiwa-peristiwa jelata seperti itu. Berapa kali kau harus kuperingatkan?” Jeda sejenak ia isi dengan dengusan. “Kau adalah calon permaisuri Merovingia. Yang Mulia Childebert akan tiba besok pagi. Kau harus tidur lebih dini agar tampil lebih segar besok. Pernikahan kerajaan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Jangan mengecewakanku.” Bola matanya berlari ke arah Rosaline. “Enyahkan baju itu.” Ia bergidik jijik, kemudian berlalu bersama dua pelayannya.

“Wanita sampah,” gerutu Hermine.

“Hus. Kau tak boleh memakinya begitu. Dia ibumu.”

“Sampai mati pun dia bukan ibuku. Dia cuma sosok pengganti yang kelewat sok mengatur segalanya. Kalau bukan karena dia berhasil melahirkan Hercule tujuh tahun yang lalu, dia cuma seorang simpanan biasa.”

Usai makan malam lebih dini, titah untuk masuk ke kamar disanggupi Hermine. Tetapi sampai jingga di angkasa lesap ditelan kegelapan malam dan bara-bara dinyalakan sebagai sumber cahaya, gadis itu tidak juga jatuh terlelap. Wangi basil yang menyeruaki kamarnya, empuk seprai dan selimut sutra, tidak cukup alot menghantarkan Hermine ke alam mimpi. Padahal malam berderak semakin larut. Dan pagi akan menjemput tanpa bisa ditahan-tahan.

Entah mengapa, yang ada dalam bayangannya kini adalah sosok lelaki di tepian lereng. Kata-kata yang menyulut emosi, suara yang dalam namun ringan, dan … bola mata yang warnanya ambigu, membuatnya tertarik. Satu hal lagi yang tak pernah masuk dalam perhitungan Hermine, memikirkan pemuda bernama Dimitri, telah membuatnya larut sampai lupa kewajibannya untuk tidur lebih dini.

Tetapi hal itu juga bukan masalah besar. Paginya, rombongan mempelai pria batal hadir karena ibu suri jatuh sakit dalam perjalanan. Mereka baru akan tiba malam hari. Maka sepanjang pagi hingga tengah hari, Hermine menolak berada satu rumah dengan ibu tirinya yang uring-uringan. Dengan alasan menenangkan hati, Hermine keluar, berbalut busana jelata dan tujuan yang sama lagi. Bedanya, kali itu ia menuju rumah Tuan Poirot.

Di sanalah segalanya berulang. Peristiwa di mana Hermine nyaris ditangkap. Tiada kuda terdekat yang bisa ditawannya. Tatkala Hermine sudah ingin pasrah, sepasang iris familier menangkap kehadirannya, namun tidak disertai binar humor yang Hermine rindukan. Dan yang lebih membuat nyeri, saat lengan kekar merenggut lepas penutup mukanya, Dimitri langsung memutus kontak mata mereka.

Nada lelaki itu rendah kala berujar, “Anggap aku tidak melihatmu. Kau bisa pergi ke mana pun yang kau mau.”

Hari itu, sekali lagi Hermine selamat, tetapi anehnya ia tahu dirinya terjerat. Tanpa sinar mentari, ledakan-ledakan penghinaan tak berguna, hatinya menghangat dan jantungnyalah yang hendak meledak. Ia berlari menjauh selagi Dimitri memberi arahan yang keliru pada rekan-rekannya, sambil mengagumi betapa indah bola mata pemuda itu, yang rupanya memiliki warna berbeda tiap-tiapnya: cokelat cerah di kiri dan hijau pada sisi kanan.

Hari itu pula, Hermine diserang keraguan. Ketika petang bertandang dan tamu-tamu agung tiba, hatinya berontak. Di hadapan calon pewaris takhta kerajaan Merovingia yang sudah dipastikan menjadi suaminya, gadis itu merasa terluka.

“Hermine punya mimpi untuk menjadi sosok pemimpin ….” Suara Mauve dalam selaput ramah-tamah yang berlebihan terdengar. “Ia ingin membawa keadilan bagi rakyat-rakyat kecil. Sayangnya, sebagai bangsawan biasa, kami tidak punya kuasa besar untuk melakukan itu.” Hermine yakin wanita itu pasti mencuri baca gagasannya yang ia tuangkan dalam perkamen khusus.

“Sungguh tujuan yang mulia,” Putra Mahkota Childebert memuji. “Dan, setelah dua keluarga bersatu, Mademoiselle Archambault punya kuasa untuk itu. Mari membentuk dunia yang lebih baik itu bersama-sama, Mademoiselle Archambault.”

Bagi orang lain, pernyataan seperti itu bukanlah apa-apa. Atau boleh jadi dianggap sebagai rayuan kelewat gombal. Namun bagi Hermine, kalimat-kalimat itu adalah jawaban dari segala keraguannya. Tawaran berharga yang harus ia terima, sebagai penampung mimpi-mimpinya. Mimpi yang kelewat besar, baik bagi dirinya sendiri, ataupun bagi kolaborasi antara ia dengan seorang prajurit penjaga keamanan.

Maka Hermine menjawab, “Tentu, Yang Mulia.”

Itulah taklik dari dan bagi Hermine Isaline Archambault untuk memadamkan rasa yang bahkan belum sempat ia semai, demi mengobarkan bara cita-cita yang sudah lama meronta untuk disulut. Atas nama cahaya bagi dunia. Bagi rakyat. Bagi negeri yang ia kasihi sepenuh hati. Untuk itu, ia rela jatuh hati dan patah hati dalam satu hari. Dan, selama matahari bersinar sepanjang dua September itulah ia akan berduka untuk rasa yang ia bunuh sendiri.

Tetapi Childebert yang berada di balik punggung Hermine tidak tahu soal ini. Baginya, dua September hanyalah momen berkabungnya seorang permaisuri Merovingia yang dicintai rakyatnya. Entah untuk peristiwa kehilangan apa atau kematian siapa.

Mentari tergelincir. Membawa serbuk-serbuk keemasan ke seantero angkasa yang ketika berpadu dengan merah, jingga, dan sedikit hijau dari pepohonan, menghasilkan warna bara yang justru menentramkan hati. Ketika sadar bahwa momen itu telah berakhir, Childebert merasa kehilangan sekaligus lega. Kehilangan karena baru setahun lagi ia akan bisa melihat Hermine sebagai sesosok wanita biasa. Dan lega karena masih ada setahun yang tersisa untuk bersama Hermine yang amat ia cinta tanpa ada jurang seperti hari ini.

Jika saja lelaki itu bisa mengaku, ia ingin berteriak betapa Raja Merovingia bukan apa-apa tanpa eksistensi Hermine. Segala keputusan, baik kecil maupun besar yang membuahkan kesuksesan bagi kerajaannya tidak lain adalah ide-ide cemerlang sang permaisuri. Karena itulah, Childebert rela tercabik asalkan bisa bersama Hermine selamanya. Ia jatuh sejatuh-jatuhnya dan rela menghamba pada seorang Hermine, tak peduli sekalipun perasaannya tidak berbalas.

“Waktunya sudah tiba, Sayang,” bisik lelaki itu dari balik punggung Hermine.

Wajah sendu wanita itu lindap. Digantikan oleh gurat-gurat tegas ketika ia menoleh ke arah Childebert. Tangannya meremas gaun hitam yang dikenakan. “Mari kita pulang, Yang Mulia.”

8 thoughts on “Dua September

  1. Aku tidak gumoh tetapi sebaliknya. Ketagihan. Cerita ini layak memiliki lanjutan. Seharusnya dengan kualitas sebagus ini tugas ketik13 timmu sudah harus rampung sejak lama.

    Dari pos ini aku sekilas tahu buku apa saja yang kau senangi untuk membacanya.Juga film apa saja yang tampaknya melekat di benakmu. Aku teringat Three Musketeer atau cerita Robin Hood tetapi versi perempuan.

    Dan dari pos ini, terlihat sekali bahwa tulisanku pada KETIK yang sama tampak receh. Haha

    By the way, Sena itu apa, Mira?

    Like

  2. Keren. Cerita dengan setting kehidupan bangsawan di Eropa, seperti sedang menonton film Hollywood. Ada heroiknya, ada kisah cinta yg tak sampai, dan ada pengorbanan cinta ala grup band Armada, hanya bisa memiliki tubuhnya tapi bukan hatinya. Lengkap. 😁

    Bener kata, Kang Fahmi. Harusnya Ketik13 bs dg mudah diselesaikan kalau membaca cerita yg bagus ini.

    Liked by 1 person

Comments are closed.