Dia dan Manglayang

Dua buah layang-layang melintas terbang di atas kepala. Sekitar tujuh meter jaraknya dari bumi. Unang dan adiknya Danang sedang asyik menarik dan mengulur benang guna mengatur posisi jagoannya yang bertengger di awan.

Layang-layang si abang berbentuk elang. Tampak gahar dengan sayap lebar sepanjang tiga meter. Bayangannya jelas tergambar di tanah yang kupijak.

Si adik berusaha mengimbangi. Layang-layangnya panjang berbentuk kelabang hitam. Matanya fokus tertuju ke langit. Tangannya gesit dan kokoh menahan kekuatan si jagoan. Kulitnya hitam legam mirip arang. Kakinya tertanam di antara rumput yang jarang-jarang. Tetapi mulutnya mengunyah tiada henti. Saat kudekati ternyata itu kentang rebus. Sepertinya bekal dari rumah, buatan Ibunda tersayang.

Danang tersenyum melihatku datang. Beruntunglah makanannya telah habis ia makan. Bisa-bisa aku disemburnya lantaran aku iseng mengagetkan.

Ia memakai kaos biru polos yang sudah usang. Sedangkan Unang berkaos hitam bergambar dua ekor udang. Di bagian belakang tertulis Lelang Ikan Pasar Kubang. Dia memakai kaos seragam dari tempatnya bekerja. Unang menegur, “Bade ka mana? Kubilang, “Ka luhur. Ka Manglayang.”

Aku terus melangkahkan kaki. Mengayunnya perlahan sebab tidak sedang tergesa-gesa. Sejenak aku ingin rehat. Bekerja dari rumah atau work from home ternyata membuat tubuh lebih lelah. Otakku butuh refreshing biar tidak pening dan pusing. Terlalu sering menatap layar komputer bisa menambah minus di mata. Oleh karena itu, pagi ini aku ingin keliling. Toh jarak dari rumah ke atas tidak begitu jauh. Sekalian pula aku harus mengambil pesanan.

Biasanya pukul sembilan pagi kondisi jalanan sudah ramai. Hilir-mudik kendaraan terus-terusan berjalan. Knalpot racing, deru mesin nyaring dan saling menekan klakson tak kalah bising. Tapi sekarang mendadak hening. Seolah-olah seperti di tempat asing. Memang tidak seratus persen senyap. Masih bisa kudengar suara lain.

Melewati satu rumah kulihat anak-anak tengah beradu gasing di halaman. Nyeker, tak beralas kaki. Tak takut nginjek beling ya?

Tiba-tiba Si Ceking Gading memanggilku dari kejauhan. Dia menghampiri. Kita tak bersalaman. Social distancing, katanya. Hanya saling mengangguk dan mengucap salam. Ia sedang menuntun Kemuning. Kambingnya itu sedang bunting. “Sudah masuk bulannya. Terakhir dicek ke dokter, jenis kelaminnya betina,” candanya garing.

Gading pun pamit. Melihatnya pergi aku teringat sesuatu. Teman sekelasku waktu SMA itu pernah suka dan naksir Meiling. Dialah perempuan berkulit paling putih di sekolah. Saking bening, kalau ia minum, kita bisa melihat air mengalir di lehernya. Sekali ia tersenyum, lelaki manapun akan melelah dibuatnya. Mamanya asli dari Beijing dan papanya orang Cikijing, membuat ia menjadi blasteran Cina-Sunda yang amazing. Tapi Gading tak pernah bisa meluluhkan hatinya. Kudengar kabar kalau Meiling menikah dengan lelaki pemilik restoran Bebek Peking.

Begitulah hidup, Kawan. Kadang-kadang tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan. Lebih banyak orang yang bicara omong kosong daripada yang berisi. Ibarat pepatah yang berbunyi, “Tong kosong nyaring bunyinya.” Mungkin temanku Gading itu lebih banyak membual soal cinta daripada memberanikan diri datang ke orang tuanya Meiling.

Ah, sudahlah. Setiap orang memiliki jalan hidupnya. Takdirnya masing-masing. By the way, saat berjalan kaki sendirian begini, sama seperti merenung, Kawan. Banyak hal bisa kamu lihat dan pikirkan.

Lolong anjing kampung membuyarkan lamunan. Sudah setengah jalan. Aku semakin bersemangat. Apalagi keringat sudah mengucur sedari tadi. Lumayan, hitung-hitung membakar kalori. Minimal perut buncitku ini berkurang 5 senti. Hihi…

Ada warunng di arah jam tiga. Aku mampir sebentar. Dahaga ini butuh penawarnya.

“Aya aqua?”

Ibu penjual warung mengangguk lalu memberiku sebotol air mineral. Mataku memang minus tetapi aku masih bisa membaca. Label di botol bertuliskan AL-MA’SOEM.

“Janten lima rebu a pangaosna.”

Si ibu itu sama sekali tidak peduli dengan kekecewaanku. Mungkin bagi dirinya semua botol yang berisi air mineral disebutnya sebagai aqua. Aku tak mau ambil pusing. Usai membayar, aku duduk sebentar di atas kursi berbahan bambu. Segar sekali rasanya air ini. Ahamdulillah, masih bisa diberi nikmat sehat.

“Kang Ihsan?”

Seseorang menyapa. Aku mengernyitkan dahi. Siapa dia?

“Bi, aqua galonna de sabaraha hiji?”

“Sapuluh heula weh, jang.”

Lelaki itu mengangguk lantas ia kembali ke tepi jalan. Ia bolak-balik menurunkan sepuluh galon air mineral. Ia menaruhnya di samping warung sesuai instruksi si ibu. Usai angkut sana-sini, ia duduk di sebelahku. Masih jaga jarak. Program pemerintah, katanya. Sekarang tampaklah wajah setelah masker dan topi ia lucuti.

“Ieu abi Sam “

“Sam? Sam Smith?”

“Ih, sanes. Samsul Bahari. Putrana Pak Otong tukang odong-odong.”

Sekarang aku ingat. Dia tetanggaku dulu. Seorang anak ingusan, kumal namun periang, sekarang menjelma sebagai tukang antar galon yang gagah dan…

“.. basah. Maenya Kang, abi unggal masuk komplek perumahan disemprot wae ku disinfektan. Nya jibrug atuh ieu awak. Tapi salaku Aquaman, abi bangga kumargi tiasa nyadiaan cai kanggo warga.”

Aku tertawa mendengarnya. Kondisi sekarang memang rawan. Semua orang berhati-hati guna menjaga kesehatan. Tak terkecuali tukang galon. Setiap kali masuk sebuah komplek perumahan, ia akan diperiksa suhu badan. Yah, ujung-ujungnya disemprot cairan disinfektan. Padahal cairan itu berbahaya kalau masuk ke mulut lalu tertelan. Atau mengenai kulit. Dokter-dokter dari WHO (World Health Organization) sudah melarangnya. Cairan ini hanya untuk benda mati. Bukan untuk tubuh manusia.

“Akang, bade ka Manglayang?”

Aku mengangguk. Lalu ia bilang kalau di sana sudah sepi. Aku juga tahu kondisi ini. Tapi seperti tujuanku di awal, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar dan mengambil pesanan. Kemudian ia menawariku tumpangan. Tanpa pikir panjang aku iyakan.

Mobil pikap itu berjalan perlahan menyusuri jalanan. Arah kami ke atas, ke Gunung Manglayang. Lebih tepatnya ke daerah di bawah kaki gunung, tempat para penjual berdagang dan berkumpul setiap minggu. Suasananya mirip car free day. Lebih banyak yang berjualan dan berbelanja daripada yang olahraga.

Sam membuka obrolan. Ia bercerita pernah menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Mencari penghasilan di negeri orang. Bapaknya tukang odong-odong dan ibunya berjualan gorengan serta lontong. Adiknya ada lima. Perlu disokong biayanya. Sam bertekad untuk menolong dan memperbaiki ekonomi keluarga. Daripada menjadi garong, maka berangkatlah ia ke negeri Hongkong

Lima tahun ia habiskan di sana. Lalu kembali ke sini. Sekarang rumahnya tak lagi dekat gorong-gorong tetapi pindah ke sebelah masjid. Rumahnya lebih luas, bersih namun tetap hangat. Keluarganya pun tetap rendah hati. Tak ada kata sombong. Meskipun ada banyak keluarga lain yang tiba-tiba datang dan merongrong. Mereka kira, uang sebagai TKI tak akan ada habisnya. Kalau dipinjamkan sana-sini maka habislah sudah.

Ia juga mewanti-wanti aku supaya jangan sombong. Katanya kalau sombong bisa jadi setan. Setelah mati kalau laki-laki akan menjadi pocong. Kalau perempuan menjadi sundel bolong. Kedua mukanya gosong sehitam kulit kalong. Tambahnya, kalau si mayit dulunya serakah, pelit dan sombong ia akan berubah menjadi genderuwo. Besar, hitam dan berambut lebat bak kingkong.

“Kalau suka ngumbar janji lalu berbohong kumaha? Jaradi naon tah?”

Sam menjawab dengan tegas. Katanya mereka akan berubah menjadi kecebong. Kalau lebih besar lagi kebohongannya, ia menjadi bangkong.

Kutanya lagi perihal orang yang suka menganggu orang lain. Masih kata Sam, mereka berubah menjadi anjing hitam yang selalu menggonggong. Kalau ada aparat yang pilih kasih, ia akan menjadi si meong yang tak berani menangkap para koruptor, sang kucing garong sebenarnya.

Setelah bercerita itu-ini, Sam bilang sudah lega dan plong. Lalu ia menurunkanku di tempat yang kumau. Sam melambaikan tangan dan berlalu. Sepertinya selama di Hongkong si Aquaman terlalu sering menonton film hantu dan makhluk jejadian.

Memang sepi di sini. Hanya ada 5 orang pedagang dan beberapa pelari. Di sana ada Pak Gareng. Aku mampir sebentar.

“Ka mana wae a? Jarang katingali.”

“Aya weh di rorompok. Cirengna 5 nya.”

“Sakantenan sareng basreng teu? Ieu nembe pisan digoreng.”

“Eta we wungkul. Sabaraha?”

“Goceng. Sapertos biasa.”

Anaknya, si Neneng menyerahkan makanan itu. Setelah membayar, segera kulahap dengan penuh semangat. Cireng isi buatan Pak Gareng memang nikmat dengan harga yang murah meriah.

Lalu aku berjalan hingga sampai ke tempat tujuan. Uwa Dudung menyambutku ramah. Namun penjual lukisan dan patung itu tampak murung. Sepinya pembeli membuatnya khawatir. Pedagang lain sudah ada yang gulung tikar. Kita semua berada dalam dilema. Wabah corona ini telah membuat orang serasa dikurung. Dari sisi pedagang, berkurangnya pembeli sama dengan menurunnya penghasilan. Bahkan uang yang sudah ditabung sudah diambil untuk beragam kebutuhan.

Waktu kecil dulu, aku pernah menebak bahwa di tahun 2020 adalah tahun pesatnya teknologi yang canggih. Akan ada mobil terbang dan robot android superpintar seperti di dalam film. Tapi nyatanya sekarang, di tahun 2020, kita baru belajar bagaimana pentingnya mencuci tangan.

“Ieu a, pesenana.”

Suara Uwa Dudung menepis semua lamunanku itu. Ia memberikan lukisan yang aku pesan. Memang pandai dan cekatan. Kuacungi dua jempol untukmu, Wa.

Kuangkat lukisan itu dan melihatnya lebih jeli. Ada seorang perempuan sedang menatap ke arah gunung. Artistik dan menarik. Aku puas dengan hasil karyanya ini.

Akad jual beli sudah selesai. Waktunya kembali ke rumah. Aku berencana akan memajangnya di dinding kamar.

Kring! Kring! Adikku menelpon.

“A di mana? Ieu aya Teh Silvi. Kangen katanya. Haha.”

“Nuju di Manglayang. Nya antosan. A ka handap ayeuna.”

Teleponnya kututup lalu aku berlari ke pangkalan ojek dekat minimarket. Di perjalanan pulang aku membayangkan Silvi.

Ada gerangan apa kau datang, V? Jika benar apa yang sedang kupikirkan maka lain hari aku harus kembali ke Uwa Dudung. Perempuan yang ‘membelakangiku’ itu sekarang sudah mau ‘menghadapiku’, Wa.

###

Ini adalah cerita yang aku buat untuk memenuhi tugas KETIK#16. Semoga kamu suka.

13 thoughts on “Dia dan Manglayang

  1. Wah, CLBK Cilna Lama Belum Kelar keknya. Indah banget sptnya membayangkan Gunung Manglayang, meski batu denger dan belum pernah ke sana. Dulu aku pernah main ke rumah teman di ujung berung. Menginap di sana dan menikmati suasana pagi, sejuk banget.

    Like

Comments are closed.