Sepucuk Surat

Sepucuk surat yang kukirimkan sepuluh tahun ke depan melalui tugas #ketik14 di Komunitas Ikatan Kata. Selamat berhalusinasi! 😀

بسم اللّٰه الرحمٰن الرّحيم

السّلام عليكم ورحمة اللّٰه وبركاته

“Berbaringlah di tempat biasa, tempat kau arahkan dadamu ke langit, tempat kau mengunjungiku dalam mimpi”

Pixel

Pertama-tama kuhaturkan salam sejahtera, semoga engkau senantiasa terjaga dari segala sesuatu yang ditakutkan sebelumnya. Pujian tertata dalam baris kata, mengalun beserta wewangian bunga di taman Yupiter, dimana kau tanami biji alpukat, nangka, beserta kitri. Lima tahun sudah ia tumbuh menemani lekuk hari, jika kelak semua telah berbuah, tak usah risau siapa yang menuainya, tanam saja! sampai udara kotor itu berganti bionic ; hawa murni yang akan dihirup oleh semua makhluk hidup di sekitarnya. Di laku hari ini sang matahari terkurung oleh tebal awan hitam pertanda muncul hujan, energi baru bagi kehidupan, jaring-jaring langit tak pernah menuntut keinginannya, seperti itulah aku, kau dan hasrat ; saling memiliki. Musim hujan kali ini tak seperti masa lalu, ia melenggang sampai April, biasanya reda di akhir Maret, engkau sadar betapa semua cepat berubah, tak menentu, gertakan keras sesak di telinga, saat itu pula kau kabarkan kepada seseorang nun jauh disana, mengajaknya bermain dengan setiap tetesan, membuka tirai dingin nan lembut, kota yang sepi, sunyi, berselimut penuh kabut, menahan para musafir itu, kau katakan “menghirup aroma tanah basah, seolah menambah semangat menggebu, mendidih keduanya jatuh dalam ceruk kasih. Engkau menuliskan surat ini dengan detak jantung yang tak teratur, resah, gelisah, surat yang tak tahu sampai atau tidak pada masanya. Bakarlah kenikmatan itu, biarkan kepulan asapnya menjadi simbol kemurahan yang mengatasnamakan tubuhmu berada dalam kondisi yang waras ; sehat, bersyukur.

Topan

Aku tahu engkau sangat letih dan merintih, mencoba mendorong pikiran-pikiran itu, menerka sejauh mungkin angan di dada yang retak oleh struktur kehidupan yang turut serta mengancam kelangsungan hidup manusia ; wabah penyakit. Segenap cara agar rencana itu membaur dengan harapan kecil di masa yang akan datang. Apakah masih ingat saat air ludahmu kering sebab bergolaknya isi kepala? Jalani dan nikmatilah sebagaimana hujan yang datang tanpa terpaksa! Aku akan mengingatkan kembali sorot matanya yang bercahaya, segala tingkah laku yang membuatmu terbang melayang, lalu hinggap di tempat yang paling indah di dunia. Apakah kau bersamanya? Atau ia jatuh dan bersimpuh dalam bias lainnya? Mungkin inilah yang menjadikanmu kuat sampai hari ini. Nur mu yang kerlap-kerlip tertutup oleh daun Angsana dan dipaksa gugur oleh angin, jangankan untuk melangkah, bayanganmu saja bisa tersesat oleh gelapnya mata dan hati.

Wahai engkau yang kiranya sudah menginjak kesempurnaan usia, ijinkanlah aku menyapamu sekali lagi, “Bagaimana kabarmu hari ini, apakah seperti biasa tetap berjalan dengan kepala tegak? Atau sebaliknya tersungkur jatuh ke dalam lembah kenistaan? Kuharap masih tersisa gejolak itu, gejolak jiwa dan semangat juang yang telah engkau gelorakan saat semua merasa lelah dan kalah.

Untukmu yang berada di masa yang akan datang, aku ingin menanyakan prihal beberapa pemikiran yang pernah kau pertimbangkan di masa lalu, “Jika engkau berada di tahun 2030, apakah kecanggihan teknologi itu sudah kau rasakan? Atau seluruh algoritma di bumi ini sudah tidak mampu untuk di pergunakan, serta milyaran alat tukar yang katanya akan beralih menjadi emas dan dirham? Tak perlu kau jawab dengan sinis, apalagi heran, karena sebenarnya engkau telah terbiasa dengan kondisi sederhana hari ini.

Wahai engkau yang menyaksikan keganjilan dunia, engkau tahu bahwa hari ini adalah awal kemusnahan manusia, azas manusia yang hilang berganti dengan sistem mesin. Manusia pada saat ini seperti robot yang sukarela diatur dengan protokol manusia itu sendiri, ternyata pada hari ini kusaksikan sendiri betapa teknologi ini sudah gila, hampir seluruh lapisan penduduk di muka bumi ini menggengam pisau tajam, dari jari-jarinya adalah racun yang bisa membunuh orang lain bahkan dirinya sendiri.

Wahai engkau yang berada di ujung senja, tetaplah menjadi manusia yang menjaga risalah singkat ini, ukir jejakmu dalam lumpur itu, lumpur yang dipenuhi darah dan nanah. Lekas. Lekaslah berdiri! Tujuan itu, rencana itu telah tertulis dalam sebuah catatan di masa lalu dan biarkan kehendaknya-Nya menyertaimu. Bacalah kembali sepenggal kalimat yang pernah kau tulis Usia Hampir Habis.

Demikian sepucuk surat yang ingin kusampaikan kepadamu, sekarang mentari terlihat di seberang taman, sudah waktunya engkau kembali memeras keringat dan pengorbanan.

Wassalam

Nolbesar, 14 Sya’ban 1441 H

5 thoughts on “Sepucuk Surat

Comments are closed.