Mimpi Lintas Dekade

Kepada Aku v.2030

di

tempat

WE KATILLI!

HAHAHAHAHAHA … ups!

Dulu pernah memanggil diri sendiri ‘katilli‘, tapiii …

(Baca itu dengan gaya iklan sampo yang dibintangi Anggun C. Sasmi. Semoga kau tidak lupa.)

Uhuk. Baiklah. Setidaknya, surat ini harus kubuka dengan sesuatu yang lebih sopan dari sapaan di atas. Mungkin sepuluh tahun dari sekarang kau bukan lagi seekor siput.

Maka, izinkan aku buat menyapa, “Halo, dengan 2020 ke 2030, bisa disambungkan?” kepadamu—kepadaku versi 36 tahun. Semoga yang menyahut bukan bunyi monoton tut… tut… tut… pendek yang menandakan ketiadaan sambungan.

Bagaimana keadaan bumi pada masamu? Bagaimana keadaanmu pada masa itu? Bagaimana masa itu bagimu? Bagaimana kabarmu sekarang? Sudahkah kau menikah, punya anak, dan bahagia seperti kebanyakan manusia yang standarnya kerapkali kausebut—kusebut—‘tahi anjing‘? Berhasilkah kau mematahkan ramalan konyol nan pesimismu bahwa kau tidak sanggup jadi orang tua yang baik?

Atau, sudahkah kaukejar bahagia itu sendirian sebagaimana taklik sintingmu untuk hidup selibat, demi memutus lingkaran setan yang itu lagi-itu lagi?

Ya, ya, ya …. Semua itu bakal terjawab dalam selang waktu sepuluh tahun usai aku mengetik ini. Kau akan menjawabnya setelah membaca ini. Jika kau membacanya.

Ya, tidak? Mana kutahu? Tak akan pernah aku tahu apa yang berlangsung di masa depan, sebelum aku sendiri yang sampai pada titik itu. Aku cuma bisa mengandaikan. Kata Kak Niniek—kau ingat Kak Niniek? Sosok yang paling berjasa bagimu dalam rentang 2019-2020 dan mungkin beberapa tahun yang mengikutinya—mengandaikan nasib itu masuk dalam distorsi kognitif. Lebih-lebih apa yang kau andaikan seringkali bukan hal yang optimistis.

Hm … atau jangan-jangan, ketika kaubaca surat ini, sudah ada teknologi yang bisa membebaskan dirimu dari kekangan waktu? Teknologi yang mampu membantumu melintasi dimensi yang satu itu secara bebas, sebebas kau menempuhi jarak? Teknologi yang bisa membuatmu menyambangi dirimu yang lain di tahun sekian tanggal sekian, berkomunikasi dengan kau yang lain di masa lalu dan masa depan, semudah kau menyambangi kios tetangga? Kalau memang iya, coba datang padaku di tanggal 06 April 2020, dan bantu aku menyelesaikan tulisan ini.

Sepertinya tidak. Karena sampai di sini, aku masih mengetik tulisan ini sendirian. Tidak ada orang lain yang datang membantu atau sekadar menyapa, “Hai, Katilli! Aku datang dengan mesin waktu setelah membaca suratmu!” Jadi, lupakan saja soal perjalanan lintas waktu ini.

Kuduga kau akan menertawakan surat ini setelah sebelumnya dahimu berkerut-kerut dan kepalamu menggeleng-geleng tak habis pikir. Tidak apa-apa. Aku sendiri juga tertawa ketika membacanya kembali dua puluh menit usai mengetiknya. Menertawakan kegoblokanmu di masa lalu adalah kebiasaanmu yang entah sampai kapan bisa kau enyahkan, ‘kan? Am I right or am I right? Bukankah pihak yang paling memahamimu adalah dirimu sendiri? Aku dan kau adalah satu pribadi yang sama, cuma terselang oleh sekat bernama waktu.

Atau jangan-jangan … waktu telah berhasil mengubahmu jadi sosok yang sama sekali berbeda denganku?

Yah. Sepaham apa pun aku padamu, tetap saja aku punya segudang pertanyaan tentangmu dan duniamu kelak. Waktu punya kemampuan mengubah sesuatu. Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang hidup bahagia dengan prestasi gemilang dan lingkaran cemerlang bisa saja jadi orang dewasa yang dipecundangi takdir, tertimpa depresi, dan sendirian, sepuluh tahun kemudian.

Sepuluh tahun yang terpaut di antara kita bukan masa yang sebentar, setidaknya bagiku. Mungkin tidak bagimu. Aku sudah hafal gelenyar itu. Gelenyar kala kau menyelami dinding memori, kemudian mengerjap dan melirih, “Rasanya baru kemarin.” Kupikir kau bakal merasakan euforia yang sama ketika akhirnya kau menengok tulisan ini. Berkata, “Rasanya baru kemarin aku mengetik deretan kalimat ini …” Padahal untuk sampai ke titikmu, harus kulewati ribuan kejadian, ratusan perkenalan dan puluhan kehilangan.

Kau tahu benar. Memikirkan sepuluh tahun ke depan terlalu sulit bagiku pada saat kuketik tulisan ini. Jangankan sepuluh tahun. Satu bulan ke depan pun, aku tak punya gambaran hidupku bakal seperti apa. Masihkah aku diberi kesempatan untuk memohon ampun atas dosa-dosa dan melakukan amal bajik? Atau justru diriku sudah terkubur dua kaki di bawah tanah?

Nah, ‘kan? Apa kubilang? Meramal nasib itu hal yang tidak cocok bagiku, karena aku tipe yang tidak punya visi-misi. Semua yang terlintas adalah hal-hal skeptis yang membuat orang lain jengah. Kalaupun memang kau ada, kau pun akan ikutan jengah. Oh, ini masuk ramalan lagi. Oke. Abaikan. LOL.

Tetapi jauh di lubuk hati, aku berharap aku sungguh bisa sampai pada tempatmu. Lebih lanjut, kuharap, kendati pada usia tiga puluhan kulitmu kehilangan kekenyalannya, vitalitasmu melemah, rabunmu tambah parah, kegesitanmu makin payah, kau bisa menggapai kebahagiaanmu. Tiada lagi malam-malam di mana kau mesti terbangun dengan keringat dingin dan jantung berdebar karena mimpi-mimpi buruk sialan. Tiada lagi bisikan-bisikan gila yang timbul saat kau berada dalam masa terpuruk. Tiada lagi pil-pil yang harus kau konsumsi dan kau takar untuk meminum yang mana pada suasana hati seperti apa. Karena kau telah terbebas dari semua itu. Karena kau sudah sembuh sepenuhnya.

Dan, jika saja aku masih diizinkan untuk berharap lebih jauh dari itu, kuharap kau tetap bisa bekerja. Meski barangkali gelambir-gelambir menyebalkan mulai tampak di sana-sini, kerut-kerut halus mulai berani menampakkan diri, kau tetap bisa beraksi. Melakukan baktimu pada Ilahi, orang-orang yang membutuhkan, pada instansi tempat kau mengabdi. Menebus segala utang baik materi maupun budi kepada siapa pun yang pernah memberimu apa pun. Dan … barangkali, mengasuh keluarga kecil yang akhirnya kau bentuk dengan seseorang yang punya tujuan serupa kamu. Kuharap kau masih bisa terus menghasilkan uang untuk membayar orang yang akan mengurusmu nanti di saat kau tak bisa lagi berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk menceboki bokongmu sendiri. Kuharap kau masih bisa terus belajar dan belajar, kemudian mendapatkan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang kau dengungkan sejak kecil. Tentang rahasia dirimu. Tentang rahasia semesta. Tentang rahasia kehidupan. Rahasia alam.

Dan, tentu saja, tak pernah luput aku berdoa untukku, untukmu, untuk kita, agar terus bisa berkesempatan menulis. Aku tidak akan membebanimu dengan pertanyaan, ‘Berapa banyak buku yang kau telurkan?‘ atau ‘Sudah berapa karya yang kau hasilkan?‘ sebab rasa sayangmu pada menulis tidak pantas dipaksa-paksa. Tetapi kuharap kau masih bisa terus menulis. Mungkin sampai memori dua blog gratisanmu tak lagi punya sisa untuk menampung kata-kata, hingga akhirnya kau membangun tempat sampah yang baru. Tetapi kau masih terus menulis. Meski kelak tak ada lagi orang yang sudi membaca tulisanmu karena sudah punya hiburan dan pembunuh waktu yang lain lagi. Kuharap kemauan dan kemampuanmu tidak turut direnggut oleh tangan waktu.

Jadi, Katilli, jika seluruh paragraf di atas bisa dirangkum hanya dalam satu kalimat, harapanku untukmu adalah:

Semoga aku—kau bahagia.

Itu.

Dengan cara apa pun. Bagaimana pun. Seperti apa pun wujud bahagiamu. Karena apa yang membuatku bahagia hari ini, bisa saja berbeda darimu—dariku satu dekade dari sekarang.

Maka intinya, hanya itu.

Dariku, orang yang paling tulus membenci dan mencintaimu—satu-satunya.

Kamu v. 2020

14 thoughts on “Mimpi Lintas Dekade

Comments are closed.